BERAU POST - Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said, menegaskan pentingnya pemanfaatan potensi lokal di setiap kampung.
Sebagai langkah strategis menghadapi keterbatasan anggaran akibat kebijakan earmark dari pemerintah pusat.
Menurutnya, kondisi ini menuntut desa atau kampung untuk lebih kreatif dan fokus dalam mengelola pendapatan serta belanja daerah masing-masing.
Muhammad Said menjelaskan, sistem anggaran earmark merupakan regulasi nasional yang wajib dipatuhi seluruh pemerintah daerah, termasuk kampung.
Karena itu, pemerintah kampung diminta tidak hanya mengandalkan dana transfer, tetapi mulai mendorong pengembangan potensi ekonomi yang tersedia di wilayahnya.
“Ini kan merupakan regulasi dari pemerintah pusat, jadi kita meminta kampung-kampung untuk dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki,” ujarnya.
Ia menyebut, setiap kampung memiliki kekuatan tersendiri, mulai dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga pariwisata dan kerajinan masyarakat.
Jika potensi ini dikelola secara optimal, kampung dapat memperoleh sumber pendapatan tambahan yang membantu menutupi kebutuhan pembangunan yang tidak terakomodasi oleh anggaran earmark.
Namun, Ia menyadari bahwa tidak semua kampung mampu langsung mengembangkan potensi tersebut. Untuk itu, efisiensi anggaran menjadi salah satu langkah yang harus dilakukan agar program pembangunan tetap berjalan secara terarah.
“Jika memang belum maksimal dalam pemanfaatan potensi, kalau memang belum bisa maka efisiensi secara anggaran belanja,” tegasnya.
Ia menekankan, pemerintah kampung harus mampu menentukan skala prioritas, terutama pada sektor pembangunan. Menurutnya, pembangunan tetap bisa dilaksanakan, tetapi harus sesuai kemampuan anggaran dan tidak memaksakan kegiatan yang tidak mendesak.
“Jadi harus utamakan yang prioritas terlebih dahulu. Termasuk pembangunan, dengan anggaran yang terbatas maka itu akan menghambat,” ujarnya.
Terlebih kemampuan kampung dalam menyusun perencanaan anggaran menjadi kunci agar pembangunan tidak terhenti. Pemerintah daerah, kata Said, juga siap memberikan pendampingan dan arahan agar kampung mampu menyesuaikan diri dengan kebijakan baru ini.
Kondisi ini tidak boleh membuat kampung stagnan atau menurunkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sebaliknya, kebijakan earmark diharapkan dapat mendorong kampung menjadi lebih mandiri, inovatif, dan berdaya saing.
“Yang terpenting adalah bagaimana kampung bisa membaca peluang, mengelola potensi dengan baik, dan menyusun prioritas yang benar agar pembangunan tetap berjalan,” terangnya.
Sebelumnya, Bupati Sri Juniarsih pernah menegaskan, kampung-kampung harus bangkit dengan menggali potensi lokal agar tetap mampu menata ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Apalagi sekitar 100 kampung di Berau memiliki potensi yang luar biasa.
Sebanyak 77 kampung bahkan telah menerima dana transfer dari Bank Dunia untuk menjaga kelestarian hutan. Program ini dinilai sejalan dengan status Berau sebagai salah satu kabupaten dengan luas hutan terbesar di Kalimantan Timur.
“Kakam harus mampu mengelola potensi kampung masing-masing. Kita sedang bertransformasi ke sektor pariwisata. Sebagaimana diketahui ekraf dan UMKM tak bisa dipisahkan dari sektor pariwisata,” ujarnya.
Ia meminta agar pemerintah kampung dan jajaran BPK mampu mendukung upaya kemandirian ekonomi. Ia menegaskan dana transfer hanya salah satu pilar, dan kampung harus mempunyai usaha nyata yang memberi manfaat ekonomi langsung.
“Kedepannya, menghadapi berkurangnya TKD, kampung harus kreatif agar bisa jadi BUMK,” katanya.
Penurunan TKD ini memicu kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah kampung memenuhi kebutuhan rutin dan pembangunan dasar. Saat ini seluruh indonesia mengalami hal yang sama.
Melihat kenyataan ini, Kepala Kampung dan Ketua BPK disarankan untuk melakukan inovasi dan eksplorasi potensi lokal.
Mulai dari sektor pariwisata, ekonomi kreatif, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Kekayaan alam dan keindahan alam Berau, baik di wilayah pesisir, pulau, pedalaman, maupun perkotaan, menjadi modal besar yang dapat dikembangkan. (aja/hmd)
Editor : Nurismi