BERAU POST – Dinas Kesehatan Berau, melakukan edukasi sola penyalahgunaan Napza di kalangan remaja.
Diharapakan melalui seminar pencegahan Napza dan bullying, langkah awal mengenalkan risiko penyalahgunaan narkotika sejak dini di lingkungan sekolah.
Sub Koordinator Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa Dinkes Berau, Nurhayati menyampaikan, kekhawatiran akan meningkatnya kerentanan remaja dalam penyalahgunaan narkotika, dan memperluas jangkauan edukasi pencegahan.
Adapun seluruh rangkaian seminar itu memang dirancang khusus untuk mengenalkan sejak dini bahaya Napza, termasuk berbagai jenis zat berbahaya yang kerap beredar dan dianggap sepele oleh sebagian anak muda.
Menurutnya, seminar seperti ini menjadi langkah paling mungkin dilakukan saat ini, mengingat pencegahan pada usia remaja harus dilakukan dengan pendekatan intensif dan berulang.
“Kami memang menyasar remaja, karena rasa ingin coba-coba mereka sangat kuat. Usia remaja itu usia paling rentan, sehingga pemahaman tentang bahaya Napza harus diberikan lebih awal,” ujarnya.
Namun upaya pencegahan tidak selalu berjalan mulus. Pihaknya belum bisa membeberkan jumlah orang yang melakukan penyalahgunaan napza di Berau, lantaran belum menerima data kasus terbaru dari kepolisian.
Dirinya berencana mengambil rekap data sekaligus pada akhir tahun nanti.
Saat ini tantangan terbesar justru muncul pada proses skrining. Adapun skrining Napza masih sulit dilakukan, karena mereka yang ditemukan biasanya sudah berada pada tahap penggunaan.
“Yang terdeteksi biasanya sudah menjadi pemakai atau sudah masuk dalam kategori kasus. Ini yang membuat pencegahan awal jadi tidak mudah. Untuk saat ini kami masih bisa melakukan sosialisasi dan seminar-seminar,” bebernya.
Koordinasi dengan Badan Narkotika Kabupaten (BNK) tetap dilakukan, terutama terkait data serta kegiatan sosialisasi di sekolah. Namun dari sisi penanganan, Berau belum memiliki fasilitas rehabilitasi khusus.
“Rehab belum ada tempatnya. Biasanya kami titipkan di Ruang Tulip RSUD dr Abdul Rivai, ada satu kamar untuk isolasi rehab sambil menunggu rujukan,” jelasnya.
Pihaknya sudah merencanakan skrining Napza di sekolah dan perguruan tinggi sejak lama.
Namun, rencana itu belum bisa berjalan karena alat tes yang diperlukan, terutama stik skrining, belum tersedia.
Ia berharap, edukasi yang digencarkan benar-benar membantu remaja mengenali tanda-tanda bahaya sebelum terlambat.
“Dari dulu kami sudah usulkan stiknya, tapi belum bisa dapat,” katanya. (aja/hmd))
Editor : Nurismi