SAYA punya banyak grup WA. Ada yang aktif, ada lebih banyak pasif dan hanya membaca saja. Ada yang lucu-lucuan. Ada yang serius. Ada yang cukup menarik membahas satu tema diskusi WA.
Sekali waktu, grup WA yang anggotanya tersebar di banyak daerah membahas soal makanan. Kita tahu, membahas soal yang satu ini pastilah menarik. Apalagi sebagai seorang pencinta kuliner.
Walau teman-teman di grup WA itu sama-sama dari Kaltim, sering mengkritisi soal harga-harga makanan. Maka, muncullah perbandingan-perbandingan.
Teman saya yang sama-sama kuliah di Universitas Mulawarman dan kini menetap di Makassar, senyum-senyum membahas soal makanan dan harganya.
Kenapa dia senyum-senyum? Siapa pun yang pernah ke Makassar dan menginap beberapa malam, tentu bisa komentar soal makanan. Soal banyaknya pilihan, pun juga soal harganya.
Tentu beda juga komentar yang masih menetap di Samarinda atau Balikpapan. Mereka bisa bicara soal berapa biaya yang dikeluarkan untuk bisa mencicipi makanan kesukaannya.
Di warung kecil ataupun restoran. Namun, saya sedikit tergelitik ketika salah seorang teman di grup WA itu menyebut harga makanan di Berau.
Larang (mahal) ya Daeng, kata salah seorang teman sesama alumni fakultas Ekonomi Unmul yang sering bolak-balik ke Berau.
Dia mantan birokrat pejabat eselon II. Saya sering masuk warung tepi jalan, ampun Daeng, tambahnya.
Saya tersenyum-senyum membaca komentar teman saya itu. Masalahnya, dia hanya bolak-balik sudah mengeluh seperti itu.
Bagaimana kalau sebagai warga yang menetap di Beraum Bagaimana dengan saya yang sudah puluhan tahun? Kada terasa lagi larang dan murahnya.
Tapi, apapun komentar teman-teman saya itu ada hal yang saya benarkan. Walau tidak menyampaikan realitas seluruhnya. Bahwa, memang terkait makanan yang siap santap, harganya cukup mahal.
Cobalah sesekali bergiliran memasuki warung tenda di sepanjang Jalan P Antasari ataupun di Jalan Pemuda.
Berapa harga satu porsi ayam kampung goreng beserta nasi dan minumnya? Berapa harga ikan goreng? Kalau seorang ASN yang melakukan perjalanan dinas, bisa nutupi kah?
Tapi, sebagai sesama alumni fakultas ekonomi, pasti pahamlah mengapa harga jual sampai demikan.
Hampir semua komoditas kebutuhan bahan pokok di Berau itu datang dari luar daerah. Belum ada swasembada, kecuali beberapa jenis sayur mayur.
Urusan lombok saja mahal. Inilah yang menyebabikan para pedagang makanan menetapkan harga yang menurut kawalan di luar daerah, lumayan mahal.
Bisa jadi, seperti yang pernah dilakukan survei, bahwa biaya hidup di beberapa kota di Kalimantan Timur, Berau masuk di urutan lima besar.
Tidak salah survei itu. Tidak salah komentar teman saya di grup WA. Bujur kaparais (bahasa banua :semuanya).
Adakah cara agar harga jual khusus jenis makanan saja agar lebih murah? Haruskah ada intervensi? Sementara yang terjadi bergantung pada mekanisme pasar.
Bagi yang menetap di Berau, caranya lebih baik masak di rumah saja. Sekali-sekali bolehlah makan di tenda Lamorangan.
Yang perlu dipikirkan, bagaimana dengan harga makanan di destinasi wisata. Kita pasti tahu, bila membandingkan dengan destinasi kuliner di Bali, lebih mahal lagi.
Tapi, membanding dengan destinasi kuliner di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, justru sebaliknya.
Bujur larang. Larang bujur. Seperti itulah situasinya. Makanya, (maaf) pejabat Pemkab sesekali menikmati santap malam di warung tenda.
Menikmati pusat kuliner yang di Jalan Murjani II depan lapangan golf. Jangan sendirian. Ajaklah keluarga. Dan renungkan ongkosnya. (sam)
@daengsikra.id