MENARIK. Rencana Bahasa Banua jadi muatan lokal di sekolah. Bukan hanya di sekolah. Bisa saja dalam wilayah kantor atau di tempat terbuka. Sehingga akan banyak yang bisa bercakap-cakap dengan bahasa banua.
Masih sangat sedikit yang bisa berdiri di depan kelas, mengajarkan Bahasa Banua itu kata demi kata dan bagaimana mengucapkannya.
Yang saya tahu, teman saya Syarifuddin Ithur sangat paham untuk urusan ini. Dia punya latar belakang yang lengkap.
Dari pemahaman saya. Untuk urusan tenaga pengajar tidak akan sulit mengajak para guru dalam kegiatan ekstrakurikuler ini.
Saya sering beradaptasi dengan guru dan warga di Kampung Bangun maupun di Gunung Tabur dan Sambaliung. Tidaklah sulit mendapatkan tenaga pengajarnya.
Saya seperti punya tenaga dalam ketika berhadapan dan berbincang dengan Datuk Amir, Sultan Sambaliung. Seperti ada layar dengan tulisan bergerak di depan mata.
Saya bisa menjawab semua kalimat sultan dengan Bahasa Banua yang lancar. Bahkan sangat lancar beserta iramanya. Bahasa banua yang halus pula.
Mendengar itu, Sultan langsung berujar,’ Talla jadi urang Banua kau Daeng, kata Datu Amir. Cukup beralasan juga apa yang dikatakan Sultan.
Lama domisili di Berau kan sudah puluhan tahun. Sangat paham dan sering mencermati teman yang berbahasa Banua. Misal berhadapan dengan Datu Nurbek di Gunung Tabur.
Saya waktu masih SMP di Makassar dulu, memang ada mata pelajaran Bahasa daerah. Ada buku yang jadi pegangan dalam proses belajar mengajar.
Sehingga tidak hanya mampu berkomunikasi dalam Bahasa Makassar, juga menguasai penulisan aksaranya. Ditambah lagi Bahasa Makassar maupun Bahasa Bugis jadi bahasa pergaulan sehari-hari.
Ketika masih aktif Berau Televisi. Ada satu acara pembacaan berita, di mana yang bertugas menyampaikan dengan bahasa daerah.
Sebetulnya ini menarik bila diaktifkan kembali. Mungkin bisa diawali dari podcast lalu bisa berkembang lebih luas lagi.
Saya sering mencermati beberapa bupati mulai dari almarhum Masdjuni, Makmur HAPK, hingga Sri Juniarsih Mas.
Dalam sekian menit berpidato, yang saya rekam sejak awal hingga akhir logat yang bisa saya tangkap sudah menandakan bahwa seorang bupati sedang berbahasa Banua.
Pak Makmur apalagi. Di hadapan banyak orang, walaupun hanya beberapa kata, ketika marah selalu menggunakan kata dari bahasa banua.
Jadi yang mendengar mungkin tak paham. Tapi yang dituju bikin merah telinga. Misalnya kata ‘Paningngal’.
Dalam hubungan Bahasa Banua. Saya pernah ikut dalam misi kesenian Berau ke Brunei Darusallam. Walau menggunakan Bahasa Banua dalam penampilan prosesi pernikahan adat.
Kerabat kerajaan dan masyarakat Brunei paham. Memang ada kesamaan pengucapan. Makna kata dan artinya.
Waktu itu saya sampaikan ke Makmur. Ini perlu ditelusuri untuk dijadikan catatan sejarah adanya benang merah antara Berau dan Brunei Darusallam. Salah satunya dari bahasa itu.
Dan yang paling sering terdengar ketika warga Brunei menyebut ‘iya’. Selalu diuucapkan dengan kata ‘Auu’. Samalah bila teman saya Datu Nurbek menyet Auuu tanda mengiyakan.
Kita tentu menyambut baik rencana lebih memasyarakatkan Bahasa Banua. Bukan hanya di sekolah-sekolah dan universitas. Mungkin perlu juga didengungkan di kantor-kantor.
Di awal masih akan campur baur, ada yang berhasa Banjar dan sedikit Bahasa Jawa. Pun ada yang berhasa Indonesia tapi logat bugis.
Kelak, akan semakin banyak yang bisa bercakap dengan Bahasa Banua. Begitupun dengan Bahasa Bajau dan Bahasa Dayak. (sam)
@daengsikra.id