Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Kios Biasa! Menelusuri Sejarah dan Polemik Aset 4x6 di Jantung Kota Berau

Beraupost • Selasa, 18 November 2025 | 14:35 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

KU kira mau (bisa) diputihkan Daeng, kata istri penjual sop saudara di Jalan AKB Sanipah I. Dia salah seorang warga yang menempati bangunan yang lagi ramai di media sosial itu. Tiga puluh tahun, waktu tidak terasa.

Tiga puluh tahun lalu, saya masih menyaksikan bangunan asal berukuran 4x6 meter. Karena ukuran itu, sehingga oleh pemkab maupun para penghuninya sepakat menamakan kios 4x6. Nama itu melekat hingga kini. Lebih populer dibanding nama jalannya.

Banyak tokoh yang pernah saya temui, seperti almarhum Irwan Nasir, almarhum Haji Hafid Khan, dan almarhum Ayit, sering bercerita soal riwayat kios itu.

Penghuninya itu pindahan Daeng, kata almarhum Irwan Nasir yang juga menempati salah satu kios tak jauh dari kantor Kelurahan Bugis.

Waktu itu, kata Irwan Nasir, ada peristiwa kebakaran di Pasar Batu (Tepian Segah). Korban kebakaran kehilangan tempat tinggal.

Oleh Bupati, Masdar Jhon, dibuatkanlah kios sebagai tempat tinggal dan tempat usaha. Ukurannya 4x6 meter.

Ada bangunan yang tepat di tepi Jalan AKB Sanipah. Petak lainnya ada di bagian belakang. Di antarai oleh jalan. Namanya kios, wajah depan bangunan kayu itu tanpa pintu dan jendela. Sengaja dibuatkan bagian depan terbuka dengan penutup papan.

Dulu bangunan ini sampai di situ Daeng, kata istri penjual sop saudara. Dia kemudian menunjuk batas bangunan. Jadi memang, yang awalnya sebutan 4x6 meter, sudah berubah.

Jejeran bangunan di Jalan AKB Sanipah itu, ukurannya sudah berubah. Tidak lagi utuh 4x6 meter.

Soal bangunan yang menjadi aset daerah itu, sering jadi perbincangan dikalangan pejabat dan anggota dewan. Sekali waktu, saya bersama mantan Wakil Bupati, Agus Tantomo, menikmati Coto Fatima (sebelum pindah ke Jalan Murjani II). Kami membincangkan soal bangunan 4x6 itu.

Bagaimana bagusnya ini Daeng, kata Agus Tantomo saat itu. Saya asal bicara saja. Bagaimana kalau mencarikan pengembang untuk membangun Rumah Toko (Ruko). Pemilik izin pertamalah yang berhak menempati, kata saya.

Menarik juga, kata Agus Tantomo. Dibuat seperti ruko yang ada di sepanjang Klandasan di Balikpapan. Atau seperti kompleks Citra Niaga di Samarinda.

Memang biaya sosialnya lumayan besar, kata Agus. Tapi bila tidak dibenahi, kesannya kumuh. Apalagi tepat berada di jantung kota.

Berapa kontribusi dari aset milik pemkab itu? Dari cerita pemilik Warung Sop Saudara. Dia menyebutkan, 30 tahun lalu di awal mulainya dipungut bayaran itu setiap rumah diwajibkan membayar hanya Rp 25 ribu.

Lama kelamaan, angka itu berubah Rp 250 ribu. Terakhir ini, kami membayar Rp 600 ribu Daeng, kata dia.

Banyak bangunan yang sudah berubah wajah. Pun sudah berpindah tangan. Pemilik pertama sudah melimpahkan ke orang lain.

Maaf Daeng, ada orang yang memiliki lebih dari tujuh bangunan (kios), kata pemilik Warung Sop Saudara tanpa menyebut nama orang dimaksud. Ada yang menyewakan Rp 20 juta per tahun, tambahnya.

Sebagian masih mempertahankan wajah bangunannya seperti awal. Yakni wajah sebuah kios yang pintunya dari lembaran papan bernomor.

Mantan ketua RT di samping Warung Sop Saudara itu, adalah penghuni sejak awal sampai sekarang. Tidak tahu, apakah ikut membayar pajak bulanan atau tidak.

Mendengar cerita pemilik Warung Sop Saudara, tidak terasa kepala ikan bandeng habis disantap. Biar matanya tidak tersisa. Ditambah sop yang isinya khusus paru goreng.

Saya sempat bercerita, kalau dirombak lalu dibuatkan ruko, apakah bersedia dengan ketentuan tarif dari pemkab? Dia tertawa. Tantumi, Daeng, kata dia. Maksudnya sudah tentu dia bersedia.

Sudah berlama-lama berbincang, saya bermaksud pulang. Rupanya, kasi Pidum Kejari Berau Amrizal, datang. Dia tampak kelaparan.

Tidak sempat pulang ke rumah Daeng, kata Amrizal. Dia baru selesai mengikuti acara di Hotel Bumi Segah.

Ada oleh-oleh saya bawa dari Jogja Daeng, kata Amrizal. Siap, terima kasih. Malam bisa saya ambil di rumah. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra