BELI ikan saja antre, begitu bisikan seorang emak yang berbelanja ikan di pasar Jalan Manunggal.
Ada lima emak-emak yang antre. Lebih dari lima sedang pilih-pilih. Dan, saya lah bapak-bapak seorang diri.
Penjual ikan di Jalan Manunggal itu beda dengan penjual ikan lainnya. Pemiliknya memperhatikan kenyamanan pelanggannya.
Makanya, 'show room' tempat memajang ikan diberi pedingin. Udaranya dingin bercampur aroma ikan. Haha.
Antrenya itu di kasir. Ada timbangajn digital Jadi tergantung jenis ikan apa yang pelanggan beli. Dan ada bonus kalau ada pelanggan ingin dibersihkan ikan yang dibeli. Asyik juga antre di belakang emak-emak.
Saya memilih satu ekor ikan bandeng dan empat ekor ikan gembung. Cukuplah untuk tiga hari dinikmati, bersama sayur santan dan sambal yang saya beli di Warung Kalimantan, Jalan Durian I. Dibersihkan, menunggu lama. Biarlah saya bersihkan sendiri di rumah.
Hari Minggu kemarin itu, suasana pasar di Jalan Manunggal lumayan ramai. Pasar yang dianggap pesaing oleh para pedagang di Pasar Adji Dilayas. Semua kebutuhan warga tersedia di situ, kecuali daging segar.
Sementara sepanjang Jalan Niaga dipenuhi kendaraan. Suasana yang selalu terlihat, ketika berlangsung Car Free Day.
Pagi saya ke Warung Hokky. Tempat yang tidak terlalu ramai. Jumpa dengan Pak Hasyim, ASN yang tugas di aset daerah.
Dia menemani mitra kerjanya, yang akan menggarap digitalisasi tempat kerjanya. Baguslah. Belakangan bagian aset daerah berperan aktif dalam menginventarisir harta daerah itu.
Dilakukannya digitalisasi, untuk memudahkan layanan. Pun sebagai upaya keterbukaan informasi publik.
Dia mengajak mitranya itu ke Pulau Maratua. Sambil bekerja menata aset di pulau wisata, juga sambil menikmati liburan hari Minggu.
Bagaimana wajah Maratua ke depan, juga bergantung bagaimana menata kepemilikan aset. Lahan di Maratua itu laris manis.
Di meja lain, ada Hadi Mustafa. Dia nyeberang ke Warung Hokky, itu karena warung langganannya tutup. Hadi Mustafa itu punya geng. Geng Niaga namanya.
Ada Kasmani, Lamijan, Ismail, dan Tarmizi. Dua nama terakhir sudah meninggal dunia.
Kita harus banyak bergerak Daeng, kata Hadi Mustafa. Apalagi bila usia di atas 60 tahun, mesti ada olahraga ringan-ringan.
Hadi Mustafa yang lebih banyak waktunya di Samarinda, mengaku banyak ruang terbuka untuk olahraga. Di kompleks tempat saya menetap, suasananya nyaman olahraga.
Kami tidak bicara politik ke depan. Juga kami tidak membahas soal proyek pekerjaan. Dia memang seorang kontraktor.
Pernah memimpin organisasi pengusaha. Kami hanya bercerita masa lalu yang pernah kami lewati sama-sama.
Hari libur, saya biasanya bergerak dari warung kopi ke warung kopi lainnya. Seperti kemarin, dari Hokky ke Warung Pojok. Padahal sudah siang. Pelanggan Warung Pojok sudah mulai berkurang.
Kebetukan ada Pj Sekprov Kaltara, Bustan, juga menjabat sebagai asisten dua. Waduh, bakalan lama ini ngobrolnya.
Ikan yang saya beli di Jalan Manunggal belum saya apa-apain. Bisa menurun kualitasnya.
Bustan bercerita, pekan lalu jumpa dengan Bupati Berau, Sri Juniarsih. Masih kerabat keluarga.
Kami membahas jalan lintas provinsi Daeng,.kata Bustan. Ide yang pernah dibahas bersama Makmur dan Irianto Lamrie dulu.
Kalau jalan ke Kaltara terwujud, maka dua daerah bertetangga itu akan merasakan dampaknya. Apalagi di Kaltara ada KIPI, kontribusi bagi Berau ikut terdongkrak.
Utamanya sektor pariwisata. Tidak lama. Saya hanya berbincang. Mungkin akan ada tindak lanjut dengan pertemuan berikutnya,kata Bustan. (sam)
@daengsikra.id