BERAU POST – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Berau mulai memetakan langkah persiapan terus mempersiapkan atlet Menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur 2026 di Kabupaten Paser.
Namun, keterbatasan anggaran diaku Ketua KONI Berau, Taupan Masjid, membuatnya khawatir menjadi batu sandungan utama dalam upaya mempertahankan prestasi gemilang yang pernah diraih pada Porprov sebelumnya, yakni finis di peringkat kedua.
“Kendala terbesar kami saat ini adalah soal anggaran. KONI tidak lagi mendapatkan dana hibah yang bisa dikelola langsung untuk pembinaan dan pendampingan cabang olahraga serta atlet,” ujar Taupan.
Ia mengungkapkan, pihaknya sempat mengajukan anggaran sebesar Rp 30 miliar untuk persiapan menuju Porprov 2026.
Namun, dalam pembahasan bersama pemerintah daerah, jumlah tersebut dipangkas drastis menjadi Rp 5 miliar, di mana Rp 3 miliar di antaranya dialokasikan untuk perbaikan fasilitas tanding.
Meski begitu, Taupan bersyukur karena sejumlah anggota DPRD Berau turut memperjuangkan tambahan anggaran sebesar Rp 3 miliar, sehingga total pagu yang mungkin tersedia mencapai Rp 8 miliar.
“Kalau semua benar-benar terealisasi, anggarannya sekitar Rp 8 miliar. Tapi ini tetap sangat minim. Jumlahnya bahkan sama seperti saat Berau mengikuti Porprov di Kutai Timur beberapa tahun lalu,” jelasnya.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi bersama panitia penyelenggara di Kabupaten Paser sebutny, telah disepakati bahwa sebanyak 63 cabang olahraga (cabor) akan dipertandingkan.
Menyikapi hal itu, KONI Berau akan membentuk tim khusus untuk melakukan inventarisasi cabor yang akan diikuti, dengan mempertimbangkan efisiensi dan ketersediaan dana.
“Awalnya kami berencana mengirim sekitar 1.000 atlet. Tapi dengan kondisi anggaran sekarang, rasanya sulit. Kami akan fokus pada cabor-cabor yang berpeluang meraih medali,” ungkapnya.
Ia menegaskan, efisiensi harus dilakukan agar seluruh kebutuhan atlet dan pelatih tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kualitas persiapan.
“Semua akan kami efisienkan supaya tetap bisa berpartisipasi secara maksimal,” tambahnya.
Taupan juga menyoroti minimnya dukungan dari pemerintah daerah terhadap pembinaan olahraga.
Ia menilai, tanpa komitmen kuat dan pendanaan yang memadai, sulit bagi Berau untuk mempertahankan prestasi yang telah diraih.
“Kami di KONI jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya target Berau di Porprov 2026 nanti? Apakah hanya sekadar ikut, atau ingin membawa nama daerah dengan prestasi membanggakan? Kalau melihat kondisi saat ini, sangat berat untuk mempertahankan posisi runner up,” tegasnya.
Selain persoalan minimnya dana, KONI Berau juga menyoroti kurangnya transparansi dalam pengelolaan anggaran oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora).
Taupan menyebutkan, dari total anggaran sekitar Rp 3 miliar untuk babak kualifikasi Porprov 2026 tahun ini, terdapat porsi yang seharusnya dialokasikan untuk KONI Berau.
“Hingga kini kami belum mengetahui secara pasti bagaimana penggunaan anggaran itu. Apakah dana untuk KONI masih ada atau sudah digunakan. Kami berharap ada transparansi, karena kami juga berhak mengetahui,” tutupnya.
Merespons hal itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Berau, Amiruddin, mengaku belum mendapat kepastian berapa nominal anggaran yang didapatkan KONI untuk Porprov.
Sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis, pihaknya mengaku hanya menyampaikan usulan KONI ke tim anggaran saja.
“Kita hanya menjembatani terkait dengan anggaran itu. Jadi kita tunggu saja seperti apa,” sebut dia.
Namun ditekankannya, satu hal yang pasti, bahwa pihaknya terus memperjuangkan para atlet untuk dapat mendapatkan fasilitas dan anggaran yang baik.
“Kita juga tidak berharap atlet Berau itu bisa mendapatkan fasilitas yang baik, dan kami juga selalu mengupayakan yang terbaik untuk atlet Berau,” tutupnya. (aky/sam)
Editor : Nurismi