PAGI Minggu (9/11) kemarin, saya diskusi lewat video call dengan Aswas Kejati Sumatera Barat, Hari Wibowo, mantan Kajari Berau. Yang dibahas biasa-biasa saja. Saling menanyakan kesehatan dan cerita lainnya.
Ada yang sedikit menggoda, ketika dia meminta satu pilihan. Apa itu? Pilih mana Daeng, belajar Bahasa Inggris sendiri atau melalui kursus, itu pertanyaan yang meminta saya untuk memilih.
Saya langsung memilih belajar sendiri saja alias autodidak.
Bagus belajar sendiri, ungkapnya. Tapi hehe, ada tapinya Daeng, lanjutnya. Anda tidak mendapat sertifikat kelulusan bukti pernah belajar, ujar Hari Wibowo.
Saya anggap kalimatnya bersayap. Entah saya mau diajak kemana dengan kalimat itu. Maknai sendirilah Daeng, katanya.
Selain jenjang sekolah dan kuliah formal yang memang ada sertifikat berupa ijazah, yang lain belum pernah mendapat sertifikat.
Termasuk jadi wartawan, tak punya sertifikat. Belajar sendiri dan mencermati tulisan penulis lain.
Ah, Hari Wibowo membuat saya pusing pagi-pagi. Yang namanya kalimat bersayap, mungkin saya diajak terbang ke satu arah.
Dia menanyakan bagaimana teman-teman di Berau. Dia menanyakan apa masih sering ke Warung Hokky.
Apa masih jadi pelanggan tetap di Warung Pojok. Semua saya jawab santai saja. Semua baik-baik saja, kata saya.
Setiap hari libur bekerja (kalau saya hari libur terus), selalu mendapat video call Hari Wibowo. Sebagai teman. Penyambung tali silaturahmi.
Sebetulnya yang saya nantikan, kalimat mau mengirim tiket buat jalan-jalan ke Sumatera Barat.Kan bisa kulineran bersama. Menikmati nasi kapau yang terenak.
Menikmati semua jajanan lokal yang menasional. Seperti foto yang dikirimkan diawal tugasnya sebagai asisten pengawasan.
Sekarang pola konsumsi saya ubah, Daeng, kata dia. Semua saya atur demi menjaga kebugaran tubuh. Ini juga saya sampaikan kepada teman-teman di kantor, ungkapnya.
Ada sambungan telepon yang masuk. Mungkin laporan dari Banyuwangi. Pembicaraan kami terhenti.
Saya pun melanjutkan kewajiban pagi, muncul di Warung Pojok. Warung yang saya anggap bisa memberikan keakraban sesama pengunjung. Dari semua kalangan. Pebisnis, penganggur, hingga polisi.
Ada anggota polisi yang asli Banjar dan pernah tinggal di Jalan Cendana, Samarinda. Dia tanya, belajar bahasa banjar di mana?
Saya ceritalah kalau hanya membutuhkan waktu tiga bulan, sudah lancar berbahasa Banjar. Saya belajar di muara di Teluk Lerong. Logat Makassar saya jadi berkurang.
Maunya saya, di Warung Pojok ada pelanggan yang bercerita dengan Bahasa Banua. Dengan begitu saya bisa belajar. Antara Bahasa Banjar, bahasa banua dan bahasa bugis, ada kesamaan.
Bedanya bagaimana dalam pengucapan dan intonasinya saja.
Saya tidak berlama-lama di Pojok. Khusus hari Minggu menghindari teman yang mengajak cerita politik.
Itu bisa berjam-jam. Saya sendiri datang belum mandi. Mumpung belum datang, saya pulang duluan.
Mampirlah langganan penjual masakan siap santap di Jalan Kapt. Tenden. Ada lima emak-emak berbelanja.
Saya pembeli ke enam yang harus sabar menunggu giliran. Sambil melayani, penjualnya bercerita soal penyaklit tekanan.
Ada keluarga, tak ada tanda-tanda, akibat tekanannya itu langsung meninggal. Mendengar cerita itu nyali saya jadi ciut. Emak-emak lainnya cerita serupa.
Ada juga yang berbaik hati. Memberi resep penangkal tekanan. Rajin-rajin saja minum air ketumbar, kata emak-emak itu dengan pengalamannya sendiri.
Sedikit lega. Padahal di meja berjejer jenis masakan yang bisa menaikkan tekanan. Ada udang, ada pepes patin, ada gulai dan sayur santan.
Memotong cerita itu, saya pun nyeletuk. Bu, beda lagi ya kalau tekanan batin? Kata saya. Emak-emak itu kompak ketawa.
Penangkalnya apa ya? Nah, kalau tekanan batin itu lain lagi ceritanya. Dampaknya nafsu makan yang berkurang. Hehe. (sam)
@daengsikra.id