BERAU POST – Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, mengingatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) agar tidak hanya fokus menjalankan program pelatihan dan penyuluhan pengelolaan sampah rumah tangga, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap efektivitasnya di lapangan.
Menurutnya, program pelatihan dan penyuluhan memang merupakan langkah positif, namun perlu diukur kembali sejauh mana hasilnya berdampak pada perubahan perilaku masyarakat.
Ia menegaskan, persoalan sampah di Berau masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan pendekatan berkelanjutan.
Meskipun DLHK telah aktif turun langsung ke masyarakat, dirinya mengingatkan agar setiap kegiatan tidak berhenti sebagai formalitas atau sekadar memenuhi target program.
“Pelatihan seperti ini bagus, tapi harus ada tindak lanjut dan evaluasi. Jangan hanya dilaksanakan, lalu selesai begitu saja. Kita perlu tahu apakah masyarakat benar-benar menerapkan hasil pelatihannya di rumah,” ujarnya.
Pun pihaknya mendukung upaya DLHK yang berorientasi pada pengurangan sampah dari sumbernya.
Namun, ia menilai keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari perubahan nyata di tingkat rumah tangga.
“Kalau setelah dilatih masyarakat masih membuang sampah sembarangan, berarti ada yang perlu diperbaiki dari pendekatan programnya,” tegasnya.
Untuk itu Dia mendorong DLHK untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh, misalnya dengan melakukan pemantauan rutin di setiap kelurahan yang menjadi lokasi penyuluhan.
Dengan begitu, nantinya dapat diketahui sejauh mana efektivitas kegiatan yang sudah berjalan dan bisa disesuaikan kembali jika diperlukan.
Selain itu, penting meningkatkan kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat gerakan pengelolaan sampah.
Ia menilai, DLHK perlu melibatkan sekolah, komunitas lingkungan, dan pelaku usaha agar upaya pengurangan sampah bisa menjadi gerakan bersama.
“Kolaborasi itu penting. Kalau hanya DLHK yang bergerak, hasilnya tidak akan maksimal. Harus ada dukungan semua pihak supaya gerakan ini benar-benar hidup di masyarakat,” katanya.
Ia mencontohkan, komunitas lingkungan atau kelompok masyarakat dapat menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam memberikan edukasi dan pendampingan langsung di lapangan.
Sementara pelaku usaha bisa dilibatkan melalui program CSR yang berfokus pada kegiatan daur ulang dan pengelolaan limbah.
Lanjutnya, pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi menumbuhkan ekonomi baru di masyarakat.
Jika kegiatan pelatihan diikuti dengan pembinaan berkelanjutan, masyarakat bisa memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan daur ulang, bank sampah, atau pengolahan kompos.
“Kalau semua elemen ikut terlibat, sampah bisa berubah jadi sumber penghasilan. Itu yang perlu terus didorong, agar masyarakat punya motivasi tambahan untuk menjaga lingkungannya,” jelasnya.
Sementara Pengawas Lingkungan Hidup DLHK Berau, Carmidi, menjelaskan, tahun ini pihaknya memiliki kegiatan penyuluhan dan pelatihan pengolahan sampah rumah tangga di 10 kelurahan.
Kegiatan ini bertujuan membekali masyarakat agar mampu mengelola sampah dari sumbernya dan mengurangi volume yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Sampah rumah tangga setiap hari jumlahnya meningkat. Kalau tidak dikelola dari sumbernya, TPA akan cepat penuh. Karena itu, kami mendorong masyarakat untuk mulai memilah dan mengolah sampah secara mandiri,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, DLHK memberikan praktik langsung cara memilah sampah organik, anorganik, B3, dan residu, serta membuat kompos sederhana.
Melalui cara itu, masyarakat diharapkan tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu menerapkannya di rumah masing-masing.
Pihaknya berharap munculnya kebiasaan baru di tengah masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.
“Target kami bukan hanya kegiatan satu kali, tapi membentuk kebiasaan baru yang bisa berlangsung jangka panjang,” katanya. (aja/sam)
Editor : Nurismi