BERAU POST — Produk rotan hasil kerajinan masyarakat di Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Bidukbiduk, mulai dilirik pasar Eropa.
Kesempatan ini terbuka setelah kelompok tani hutan (KTH) Rotan Sejahtera menandatangani kerja sama dengan salah satu perusahaan asal Cirebon yang bergerak di bidang ekspor kerajinan rotan, pada 28 Oktober lalu.
Ketua KTH Rotan Sejahtera Teluk Sumbang, Mubrata Manik menyebut, dengan penandatangan kerja sama tersebut, perusahaan tersebut akan membantu memasarkan produk mereka. Salah satu produk yang akan dikirim ke luar negeri ialah vas bunga hasil kerajinan tangan warga Teluk Sumbang.
“Rencananya, barang akan langsung dikirim dari Berau ke Belanda. Saat ini kami masih mencari ekspedisi serta mengurus beberapa persyaratan lainnya,” ungkapnya.
Selain produk jadi, kerja sama juga mencakup penyediaan bahan baku rotan untuk kebutuhan industri dan ekspor.
Semua dilakukan dengan tetap menjunjung prinsip keberlanjutan, legalitas, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Kesepakatan ini rencananya berlaku selama dua tahun.
Bagi KTH Rotan, penandatangan kerja sama ini menjadi capaian penting sejak kelompok tersebut terbentuk pada 2024.
Saat ini, mereka mengelola lahan seluas sekitar 650 hektare dengan rata-rata produksi mencapai 44 ton per bulan. Hasil rotan biasanya dipasarkan dalam bentuk barang setengah jadi dan produk jadi.
“Kami berharap ke depan bisa memasarkan rotan dalam bentuk produk jadi untuk dapat meningkatkan nilai tambah dan menyerap lapangan kerja,” sebutnya.
Kalimantan Timur merupakan daerah penghasil rotan terbesar kedua di Indonesia setelah Kalimantan Tengah.
Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sebagian besar rotan yang dikirim keluar pulau masih berupa bahan mentah dengan harga rendah. Sementara industri rotan terbesar justru berkembang antara lain di Gresik dan Cirebon.
Di Berau, pengembangan rotan menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mendorong ekonomi berkelanjutan.
Selain menambah pendapatan masyarakat, pengelolaan rotan juga dinilai efektif menjaga kelestarian hutan, karena tanaman ini tumbuh alami di bawah tegakan pohon dan bergantung pada kondisi hutan yang terjaga.
Sejak 2024, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) turut mendampingi KTH Rotan Sejahtera untuk menerapkan praktik budidaya rotan berkelanjutan atau rotan lestari.
Policy and External Affairs Senior Specialist YKAN, Gunawan Wibisono menjelaskan bahwa rotan memiliki nilai ekonomi sekaligus konservasi yang kuat.
“Pertumbuhannya bergantung pada tegakan pohon, sehingga rotan secara alami mendukung pelestarian hutan,” jelasnya.
Pendampingan itu merupakan tindak lanjut dari kajian rotan lestari yang dilakukan pihaknya di Kalimantan Timur dan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Kajian tersebut berfokus pada kawasan perhutanan sosial, di mana masyarakat diberi hak kelola untuk memanfaatkan hasil hutan tanpa merusak ekosistemnya.
Dari hasil kajian selama tiga bulan, ditemukan bahwa praktik budidaya rotan di beberapa wilayah sebelumnya belum menerapkan prinsip lestari.
Belum ada data pasti terkait jumlah pengrajin, alat penganyam, dan kapasitas produksi. Dari sisi ekonomi, harga rotan siap pakai pun terbilang lebih tinggi dibanding komoditas lain seperti tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.
KTH Rotan Sejahtera sendiri telah mengantongi sertifikat Rotan Lestari sejak tahun 2025. Untuk mendapatkan sertifikat tersebut, ada beberapa hal yang harus dipenuhi.
Yakni, pemastian lahan tempat rotan tumbuh berstatus jelas apakah berada dalam kawasan konsesi atau bukan.
“Bila bukan berada di konsesi maka perlu ada kepastian Skema Perhutanan Sosial. Kebetulan di Teluk Sumbang sudah mendapatkan izin Perhutanan Sosial melalui skema Hutan Desa,” terangnya.
Setelah kepastian lahan diperoleh, selanjutnya adalah pelatihan teknis panen rotan yang lestari. Pelatihan ini mencakup teknis menebang yang baik, memastikan hanya tanaman rotan yang sudah cukup umur yang dipanen dan meninggalkan anakan rotan.
“Ini menyesuaikan dengan kemampuan regenerasi rotan. Sehingga jatah tebang setiap bulan sesuai luasan lahan. Petani tidak boleh memanen rotan di luar dari jatah tebang bulanan atau tahunan,” terangnya.
Dengan melalui tahapan tersebut, KTH Rotan Sejahtera berhak untuk mendapatkan sertifikasi keberlanjutan yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Rotan Lestari.
Menurutnya, sertifikasi ini penting untuk memastikan keberlanjutan panen, meningkatkan harga jual dan memenuhi syarat yang ditetapkan pasar seperti di Eropa yang biasanya mensyaratkan ekolabeling.
“Ketika rotan memiliki nilai yang tinggi, rotan akan menjadi isu strategis terhadap konservasi seperti mencegah masyarakat melakukan ladang berpindah, mengkonversi hutan ke kebun kelapa sawit, menjaga tegakan hutan, maupun mengurangi minat masyarakat untuk melakukan penambangan emas secara ilegal,” tutupnya. (aja/hmd)
Editor : Nurismi