BERAU POST - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Ilyas Natsir, yang dikonfirmasi pada Rabu (5/11) menyatakan kesiapan pihaknya dalam menyambut Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Dikatakannya, pihak Disbudpar kerap melakukan pelatihan sumber daya manusia (SDM) dalam satu tahun ini. Hal ini dilakukan dalam memberikan kenyamanan dan keamanan untuk para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
“Wisman (wisatawan mancanegara) cukup banyak berkunjung ke Berau. Jika tidak diimbangi dengan bahasa yang baik, tentu bisa terjadi miskimunikasi,” ujarnya.
Selain pelatihan SDM, tentu pihaknya juga akan memberikan arahan kepada pelaku UMKM yang ada, hal ini dilakukan bukan tanpa dasar.
Banyaknya aduan terhadap dirinya mengenai harga yang tinggi, menjadi penyebab wisatawan enggan balik ke Bumi Batiwakkal (sebutan untuk Berau,red).
“Jangan aji mumpung. Saya berkali-kali tegaskan masalah ini,” tegurnya.
“Kalkulator rusak” menjadi momok menakutkan bagi citra pariwisata di Berau. Keluhan demi keluhan yang kerap diterima Disbudpar sebenarnya sudah pernah dimediasi oleh pihaknya, namun aji mumpung masih terus terjadi.
“Kami sulit untuk mengontrol harga, tapi kami tekankan, jika mau maju (wisata,red) mari sama-sama,” ucapnya.
Disinggung mengenai Pulau Kakaban yang sempat ditutup, Ilyas mengatakan, saat ini sudah dibuka untuk umum.
Namun dengan peraturan ketat yang berlaku. Seperti, tidak boleh memegang jelly fish atau ubur-ubur.
Tidak boleh berenang menggunakan kaki katak, skincare, maupun sun blok. Hal ini menurut Ilyas dapat menggangu kehidupan di bawah laut di Kakaban.
“Uniknya di sana, ubur-ubur nya tidak memiliki sengat. Jadi saya harap tidak disentuh,” katanya.
Penutupan Kakaban beberapa waktu lalu tentu berimbas ke kunjungan wisatawan di Kakaban. Dan ubur-ubur yang tidak menyengat hanya ada dua lokasi yakni di Kakaban, Berau dan Danau Eil Malk, Palau.
“Banyak hal unik yang bisa dinikmati tanpa disentuh. Mari sama-sama menjaga,” tutupnya. (hmd)
Editor : Nurismi