Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Pangkas Rambut vs Barbershop di Berau: Rezeki Sudah Diatur, Tak Perlu Gentar

Beraupost • Rabu, 5 November 2025 | 14:15 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

REZEKI sudah ada yang atur pak. Kalimat singkat itu diucapkan pemilik pangkas rambut yang menempati ruang sempit di ujung Jalan Kapt. Tendean.

Pangkas rambut Kapten, tertulis besar pada kain membentang di depan. Bergambar gambar lelaki berkumis tebal.

Dia lalu menggambarkan bagaimana suasana di sepanjang Jalan Tenden. Ada tukang jahit yang bersebelahan dengan sesama tukang jahit.

Ada penjual sembako yang berhadapan dengan salah satu gerai terkenal yang punya banyak cabang.

Ada juga penjual makanan jadi, berseberangan dengan penjual dengan menu yang sama. Pun dengan pangkas rambut miliknya, berhadapan dengan barbershop.

Perhatikan saja, masing-masing punya pembeli. Masing-masing punya pelanggan.

Kemarin itu, rambut saya belum panjang betul. Tapi, dengan potongan rambut yang begitu, kelihatan ‘kussau’.

Saya datang beberapa menit setelah pangkas rambut itu buka. Dia duduk santai di depan tempatnya berusaha. Sambil bermain HP.

Apa kabar Pak Haji, begitu sapaannya. Tentu karena dia tidak tahu nama saya. Saya juga begitu, walau berkali-kali gunting rambut di tempatnya. Dia asli Madura. Istrinya asli Bugis. Perpaduan dua etnis yang sama-sama kerasnya.

Potongan seperti apa ini pak, kata dia. Seperti potongan rambut Ronaldo kah, sambil menunjuk gambar Ronaldo pemain sepakbola itu. Saya ketawa. Bisa potong tipis-tipis saja, kata saya.

Nggak usah seperti Ronaldo. Jangan juga seperti Messi. Dua-duanya punya potongan rambut yang khas dan klimis.

Saya selalu menanyakan Pak Ibnu Sina, mantan Sekkab Berau yang juga langganan potong rambutnya sejak lama. Mungkin minggu depan Pak Ibnu Sina baru pangkas lagi, kata dia.

Bagaimana ceritanya bisa bertahan di Berau? Tanya saja. Lalu dia bercerita kalau awalnya mereka ikut bekerja di Pangkas Rambut Mawar.

Tempat itu sudah tutup, anak buahnya berhamburan. Saya memilih tetap di Berau. Sementara lainnya, ada yang ke Manado ada juga yang ke pesisir.

Rupanya dia punya peta sebaran tukang cukur di Berau ini. Kalau yang menggunakan kata pangkas, itu pasti dari Madura, kata dia.

Di Pasar Adji Dilayas ada juga yang menempati ruangan khusus dengan beberapa tukang cukur. Mereka itu tukang cukur orang bugis, tambahnya.

Kembali ke soal rezeki. Buktinya, di sebarang jalan itu kan ada barbershop. Kenapa Pak Haji lebih memilih pangkas rambut dibanding ke barber itu? Faktor selera saja, kata saya singkat.

Makanya, semua rejeki itu sudah ada yang atur. Saya jalani saja, ungkapnya.

"Di tempat yang tidak terlalu luas, yang saya ingat dia sudah membuka pangkas rambut sejak lama. Sudah puluhan tahun. Ini kami sewa juga," katanya.

Ada yang khas yang belum digantikan dengan peralatan elektrik. Ketika merapikan, sebelumnya dipolesi dengan air sabun dan dirapikan dengan pisau silet. Kalau di barber, semua serba elektrik.

Mau dibunyikan lehernya kah pak? Tanyanya ketika proses cukur selesai. Itu tahapan terahkir sebagai bonus.

Saya tidak berani. Maklum leher tuha. Siapa tahu salah putar lalu syarafnya ikut terganggu. Hahaha.

Dua bulan lalu, saya ketempat Takarianto. Sahabat saya ketika sama-sama di bagian humas Pemkab. Dia termasuk perintis barber di Berau.

Rumahnya di kaki bukit stasiun televisi. Ada empat orang asal Jawa barat yang dipekerjakan.
Sekarang jumlah barber sudah tidak kehitungan lagi, kata Takarianto. Hampir semua ruas jalan ada saja barber.

Sama banyaknya dengan pangkas rambut yang bisa ditemui dibanyak tempat. Setiap bulan ratusan warga yang datang ke barber milik Takarianto. Hampir sama banyaknya warga yang ingin tampil rapi, memilih pangkas rambut. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra