BETUL kata Taupan Madjid, Ketua KONI Berau. Bahwa, potensi sport tourism akan sama populernya dengan wisata lainnya di Berau. Persoalannya bagaimana mengemas dan dengan waktu yang terjadwal?
Saya hanya menyaksikan kegiatan Biduk Run dua hari lalu lewat media sosial. Peserta lumayan banyak.
Wakil Bupati, Gamalis, mengibarkan bendera start. Menurut catatan saya, ini adalah kegiatan yang kesekian kalinya.
Tiga pekan sebelum acara dimulai, teman saya Yudi Rizal sudah mengeluh. Bukan keluhan tidak rapinya penyelenggaran lari tersebut.
Tapi, keluhan soal sulitnya tempat menginap. Semua hotel dan home stay penuh, kata Yudi Rizal teman saya pemegang linsensi selam itu.
Saya tahu maksudnya. Keluhan itu sengaja disampaikan, dengan harapan saya bisa mencarikan jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Kami harus duluan di lokasi lomba, kata dia lagi. Saya hanya senyum-senyum.
Bolehkah kita dapat space tempat menginap di rumah Pak Makmur (mantan bupati), kata Yudi. Saya lagi-lagi tertawa lebar.
Ujung-ujungnya secara halus meminta izin ke Pak Makmur menggunakan rumahnya di Bidukbiduk.
Kasihan juga. Saya telponlah Pak Makmur. Jawabannya ringkas. Kalau Daeng Sikra yang minta, tidak ada alasan untuk menolak, kata Pak Makmur lewat telepon yang sengaja saya perdengarkan suaranya.
Dan Yudi semakin yakinlah. Aman satu persoalan, kata dia tersenyum.
Menangani hajatan wisata, saya percaya kalau Yudi itu rapi kerjanya. Terukur. Sayangnya dia tidak punya badan hukum sebagai Even Organizer.
Buktinya, dari beberapa kali kegiatan yang sama di Bidukbiduk, semuanya berakhir sukses.
Kembali dengan apa yang pernah disuarakan oleh Taupan Madjid. Dia sangat paham, kalau sport tourism ini akan mampu mendatangkan peserta yang juga wesatawan dengan jumlah banyak.
Ia lalu memberikan ilustrasi kegiatan lari 10K di Bali dan kota-kota besar lainnya. Bahkan, bila hadiahnya menarik, peserta luar negeri akan datang. Seperti yang pernah digelar di Maratua.
Jadwal kegiatan itu harus tepat dan tidak berubah. Dengan begitu, calon peserta jauh-jauh hari akan bersiap-siap.
Pun dengan warga yang ada di Bidukbiduk dan sekitarnya, akan menyambut dengan gembira.
Kalau semua yang datang terkonsentrasi di Bidukbiduk, pastilah tidak cukup.
Dengan memanfaatkan resor yang ada di Teluk Sumbang atau penginapan di Batu Putih, semua persoalan bisa terjawab. Efek bagi masyarakat cukup besar. Nama Berau bisa semakin dikenal, kata Taupan Madjid.
Taupan melihat peluang itu, tidak semata berkutat pada olahraga prestasi. Bidukbiduk Run juga adalah sebuah kegiatan yang perlu dukungan banyak pihak.
Termasuk dukungan penuh pemerintah kabupaten. Bisa saja dua kali setahun. Satu lokasi di Bidukbiduk, satunya lagi lokasi di Pulau Maratua, ungkapnya.
Melihat peserta Bidukbiduk Run, saya berhitung-hitung, lumayan besar pengeluaran peserta yang didapatkan oleh warga di kecamatan itu. Bukan hanya soal penginapan yang terisi penuh.
Juga tempat makan maupun warung yang menyediakan kebutuhan selama kegiatan berlangsung. Kan ini salah satu yang jadi tujuan digelarnya lomba itu.
Saat jumpa dengan Pak Majid, Sekretaris dinas Kebudayaan dan Pariwisata, saya mengusulkan digelar Old and New Run.
Lari disaat pergantian tahun di akhir bulan Desember. Saya yakin akan meriah. Dan saya lebih yakin lagi, perusahaan akan berlomba jadi sponsor. (sam)
@daengsikra.id