SAYA masih ingat. Tepatnya di bulan September 2018. Saya bersama Wabup Agus Tantomo mengikuti pertemuan di Jakarta. Yang hadir, para pemilik lahan dan resor di Pulau Maratua. Sekaligus mendengar paparan master plan di pulau wisata bahari itu.
Ada Nico Barito, The President’s Special Envoy for ASEAN. Banyaklah yang dibahas. Bahkan dari hasil riset master plan, menggambarkan masa depan Pulau Maratua. Ada lapangan golf dan berbagai fasilitas VVIP. Dan ada bandara internasional.
Waktu terus berjalan. Pemilik lahan di pulau berbatasan Malaysia Timur dan laut Filipina itu mulai membangun fasilitas tempat menginapnya.
Saya tidak paham persis, apakah pembangunan resor itu sejalan dengan hasil pertemuan di Jakarta tahun 2018 itu.
Dan, lahirlah konsep tim percepatan pembangunan kawasan wisata Pulau Maratua. Berkali-kali Nico Barito berkunjung ke Maratua.
Melakukan pertemuan dengan semua stakeholder. Saya tidak hadir dalam kunjungan itu. Makanya tak paham, apakah menerapkan konsep perencanaan yang pernah dipresentasikan.
Sempat saya mendengar gagasan yang disampaikan Nico Barito soal Blue Economy.
Konsepnya sama dengan Carbon Trade, di mana komunitas masyarakat sudah menerima kucuran dana dari hasil penjualan karbon itu. Dimotori mantan Gubernur Kaltim, Isran Noor.
Tiga hari lalu, Nico Barito datang lagi. Disambut meriah bak tamu yang baru pertama kali berkunjung.
Disiapkan pula acara di tepian Sungai Segah. Menghadirkan UMKM. Pokoknya meriahlah. Dan ada pertemuan di Ruang Sangalaki, Kantor Bupati. Disebutlah berulang-ulang soal Blue Economy itu.
Saya tidak hadir dalam pertemuan itu, tapi saya mendengar bocorannya. Memang inti bahasannya adalah ekonomi biru.
Terus, konsep masa depan Pulau Maratua seperti apa? Hasil studi kelayakan yang mewah itu, bagaimana nasibnya?
Saya meraba-raba saja. Sepertinya konsep Blue Economy tidak hanya diterapkan di kawasan wisata bahari itu.
Tapi merembet hingga ke wilayah pesisir. Sudahlah, kita lupakan konsep Nico Barito dari perencana membangun kawasan wisata, setidaknya mirip dengan Seychelles, di mana Nico berdomisili.
Di antara rombongan yang diajak Nico Barito, ada Meiliana. Mantan Pj Sekprov Kaltim. Sahabat saya ketika sama di Kampus Fakultas Ekonomi, Universitas Mulawarman di Jalan Flores, Samarinda.
Kami satu grup paduan suara bersama Zulkifli Shahab. Pun satu tim dengan Rizal Effendi, mantan Wali Kota Balikpapan.
Sebelum kembali ke Samarinda, saya diajak ke Depot Hokky. Langganannya sejak masih aktif sebagai ASN.
Kue pia buatan Hokky itu membuat Bu Mei tergila-gila. Kebetulan di Hokky, ada Amrizal, Kasi Pidum Kejari Berau bersama keluarga, menikmati hari libur.
Kami duduk di meja dekat lemari es. Lalu, saya tanya ke Bu Meiliana. Apa saja konsep yang digarap Nico Barito ke Kampung Buyung-Buyung di Kecamatan Tabalar itu?
Dengan gaya khasnya, Bu Mei menyampaikan rencana Nico Barito memusatkan di kampung nelayan itu, mengembangkan mangrove. Bagian dari blue economy.
Barulah saya paham. Ada kawasan baru yang berada di pesisir, yang memang dipagari hutan mangrove.
Ada hitung-hitungan karbon yang dihasilkan dari mangrove itu Daeng, kata Meiliana. Apapun konsepnya, kalau membuat masyarakat sejahtera, tentulah kita dukung bersama. Dalam kunjungan itu, Nico Barito juga membawa investornya.
Harapan baru. Semangat baru. Konsep blue economy dari hutan mangrove, akan mengajarkan pada masyarakat berkomitmen menjaga kelestariannya.
Apa dengan begitu nasib pengembangan Pulau Maratua akan dilupakan? Juga stasiun Mangrove di Tanjung Batu. Lalu, hanya bicara Blue Economy. Seperti halnya Carbon Trade yang sudah dirasakan oleh daerah. (sam)
@daengsikra.id