BERAU POST– Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, terus meningkatkan upaya pencegahan kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan. Melalui seminar bertema bullying yang digelar Kamis (30/10).
Dinkes Berau berupaya menanamkan kesadaran kepada pelajar agar memahami dampak serius dari tindakan perundungan, serta mendorong mereka untuk saling menghargai dan tidak mengejek teman sebaya.
Sub Koordinator Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa Dinkes Berau, Nurhayati, menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kesehatan jiwa masyarakat, dengan sasaran utama pelajar tingkat SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
Edukasi tentang bullying ini penting dilakukan sejak dini agar anak-anak memahami bentuk dan dampaknya terhadap kesehatan mental.
“Seminar ini menjelaskan tentang apa itu bullying, bagaimana cara mencegah dan mengatasinya, serta mengenali gejala-gejala yang muncul pada korban,” ujarnya.
Lanjutnya, tahun depan pihaknya juga berencana memperluas sasaran ke jenjang sekolah dasar (SD), apabila tersedia anggaran untuk kegiatan tersebut. Tujuan utama tentunya agar seluruh pelajar di Berau dapat memahami arti penting menghargai sesama dan tidak melakukan tindakan perundungan dalam bentuk apa pu
Ia berharap, melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi seperti ini, siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang saling menyayangi, bukan saling mengejek atau mengolok-olok.
Disebutnya, bentuk perundungan di lingkungan pendidikan bisa terjadi dalam berbagai cara, mulai dari bullying fisik, bullying sosial, hingga bullying verbal. Ketiganya sama-sama dapat menimbulkan luka psikologis mendalam jika tidak segera diatasi.
“Kalau tidak ditangani, dampaknya bisa berlanjut hingga menyebabkan gangguan jiwa,” jelasnya.
Dinkes Berau dalam hal yang ini memiliki program awal berupa seminar mengenai bullying yang menghadirkan narasumber dari kalangan psikolog dan psikiater.
Selain itu, selama tiga tahun terakhir, pihaknya juga aktif melakukan penyuluhan ke sejumlah sekolah dasar di Berau untuk menanamkan pemahaman sejak dini mengenai pentingnya kesehatan mental dan empati terhadap sesama.
Dalam penanganan kasus, pihaknya pernah mendapati kasus berat akibat bullying, di mana korban mengalami gangguan jiwa hingga mengurung diri di kamar
“Kami temui kondisinya sangat memprihatinkan, sudah tidak mau keluar kamar dan tubuhnya sangat kurus,” ujarnya.
Korban kemudian dirujuk ke RSUD dr Abdul Rivai dan mendapatkan perawatan di Ruang Tulip. Setelah menjalani pendampingan dan pengobatan intensif, kondisi korban berangsur pulih dan kini telah melanjutkan pendidikan melalui program paket C.
Ia berpesan kepada para korban bullying agar tidak takut melapor kepada orang tua atau pihak berwenang. Menurutnya, langkah pertama untuk pulih adalah tidak menutup diri dan berani mencari bantuan.
“Hidup ini butuh orang lain, jadi jangan mengisolasi diri. Tetap semangat dan percaya bahwa masih banyak yang peduli,” tutupnya. (aja/hmd)
Editor : Nurismi