INOVASI dan dedikasi. Dua kata yang kaya makna itu tertulis di dinding dekat meja teller di Bankaltimtara. Penyemangat jajaran bank daerah itu dalam merayakan usianya yang sudah 60 tahun.
Di pintu masuk kantor yang berseberangan dengan Lapangan Pemuda itu, sudah disambut tiga petugas yang ramah.
Mereka sepertinya sudah akrab dengan wajah saya. Wajah yang selalu dia tatap di penghujung setiap bulan. Haha.
Selamat siang pak, kata salah seorang di antaranya. Mendekati mesin lalu menyerahkan potongan kertas.
Ringkas. Setelah mengisi formulir saya duduk di kursi empuk warna biru. Menghadap petugas teller yang ayu-ayu itu.
Ada keluarga kecil dari Kecamatan Segah, datang berurusan. Dalam hati, kan di Segah ada cabang kantor bank.
Mungkin ada urusan yang kebijakannya ada di kantor di Tanjung Redeb. Mereka berurusan Customer Service (CS).
Biasanya, ada saja teman atau sahabat atau sesama mantan berurusan di kantor itu. Kemarin, tak ada yang terlihat.
Iya, saya tahu belum waktunya jadwal bagi para mantan ASN. Belum waktunya antre dan periksa kesehatan gratis.
Ada salah seorang ASN berbaju batik. Bukan batik Berau. Tidak antre di teller, tapi masuk ke ruang khusus.
Dia teman saya yang sekarang tugas di kantor Disperindag. Saya sekarang mengurusi ekonomi kreatif bersama dekranasda, kata teman saya itu. Kerja yang serius. Laksanakan tugas dengan tanggungjawab penuh, kata saya.
Tak salah bila diulang tahunnya yang ke-60, Bankaltimtara menjadikan dua kata itu sebagai taglinenya.
Pengabdian dan komitmen dalam memberikan layanan kepada segenap nasabahnya. Nasabah yang saldo tabungannya kecil sedikit pun. Jajaran bank ingin membuktikan kesetiannya terhadap pekerjaannya.
Katanya ada pesta kecil, tepat dihari ulang tahunnya. Sayangnya tidak ikut menyaksikan. Saya kan juga nasabah.
Walau saldonya tidak pernah tersisa banyak. Ikut merasakan perjalanan sukses bank yang ikut menentukan pertumbuhan ekonomi di daerah. Bersama bank pemerintah lainnya.
Petugas keamanan yang berdiri di teras bank, membukakan pintu saat akan meninggalkan kantor.
Dia hanya tersenyum sambil menarik pelan handle pintu kaca. Terima kasih mba, kata saya dengan suara datar.
Tak ada kegiatan lain setelah dari kantor bank itu. Warung Pojok tutup lebih awal. Kenapa yah? Biasanya tutup setelah jam 13.00 Wita.
Kemarin, baru jam 11.30 Wita pintu besi sudah tertutup rapat. Meilisa pemilik warung mungkin capek. Capek bolak balik dari meja tamu ke dapur.
Ya sudah. Saya pulang saja. Mau mempersiapkan catatan untuk terbitan besok (hari ini). Juga saya mau berkunjung ke bazar yang digelar di Taman Sanggam. Teman saya Anjas, dipercaya sebagai penyelenggara. Mengumpulkan banyak anggota UMKM.
Dua malam sebelumnya, saya ke arena bazar. Di tenda pertama dari arah Jalan P Diguna, ada yang jualan kue tradisional.
Kue telinga sagai (angka delapan) dan kue dange. Saya tertarik kue dange itu. Kue yang sudah saya kenali sejak kecil.
Bahannya sagu kah bu,.tanya saya. Dengan logat bugis, penjualnya menyebut kesulitan mendapat sagu asli dari Palopo, Sulawesi Selatan.
Saya pakainya ketan hitam pak, kata penjualnya sambil memanaskan alat cetakan yang terbuat dari tanah.
Kalau sudah panas, lalu dimasukkan bahan ketan dan kelapa parut. Lalu, bagian luarnya diberi irisan gula merah. Sekitar 10 menit selesai.
Saya urutan keempat. Ada tiga ibu-ibu yang mesan duluan. Tak berani nyerobot, takut panjang cerita.
Sebelum kembali membawa satu porsi dange seharga Rp 20 ribu, mampir dulu di warung singkong goreng yang sekaligus jualan Sarabba.
Cocok menikmati dange dengan minuman Sarabba. Pake telor bebek lagi. Efek sampingnya, bisa nyenyak tidur. Hehe. (sam)
@daengsikra.id