Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Lawan Arus Sungai Segah! Lomba Perahu Panjang Berau Punya Potensi Sport Tourism Mendunia

Beraupost • Jumat, 31 Oktober 2025 | 07:05 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

TENDA untuk bupati dan para pejabat tak lagi di Tepian Segah Jalan A Yani ataupun di Gunung Tabur. Kali ini tempat yang dijadikan titik awal bergeser ke Jalan Pulau Derawan.

Lomba perahu panjang yang sudah disiapkan sejak lama itu, akhirnya kick off kemarin. Warga berdiri di tepian sungai yang dilewati peserta lomba. Hanya melihat dari kejauhan. Ini karena Sungai Segah yang dijadikan arena cukup lebar.

Saya memilih menyaksikan dari kejauhan bersama warga yang jumlahnya tidak banyak. Di tepian Jalan A Yani. Melihat bagaimana peserta lomba itu dengan sekuat tenaga mengayuh.

Melihat pergerakan air, ada yang bilang sedang surut. Ada yang menyebut air pasang.

Arus Sungai Segah sama kuatnya dengan arus di Sungai Kelay. Dua sungai besar yang menempatkan posisi Tanjung Redeb di tengah-tengah.

Kalau benar posisi air surut ketika bendera start dikibarkan, maka peserta pasti mendayung ekstra kuat. Mereka melawan arus.

Sebaliknya, bila posisi air pasang ke muara, perahu panjang dengan berbagai nama yang sudah akrab di masyarakat, peserta akan terbantu.

Peserta lomba perahu panjang sudah hafal dengan karakter sungai. Apalagi bila didukung dengan ‘tiup-tiupnya'.

Karena penonton lebih banyak berkumpul di Jalan Pulau Derawan, penjual makanan dan minuman di Jalan A Yani terpaksa gigit jari.

Tahun lalu mereka panen, karena garis finis lomba perahu panjang berada di sekitar tepian Jalan A Yani. Nggak kebagian pembeli kita Daeng, kata Saparuddin, pedagang di Tepian Segah.

Padahal, di balik perlombaan itu banyak kegiatan yang diharapkan menerima dampak dari lomba perahu panjang.

Terutama dampak bagi UMKM di mana ribuan penonton berpotensi sebagai pembeli disaat lomba berlangsung.

Di Warung Muin yang belum tahu kalau rute lomba perahu lebih banyak terlihat di Jalan Pulau Derawan, ikut merasa kecewa.

Padahal, sudah siap-siap menunggu di Warung Muin, kata mereka. Di Warung Kopi Aceh banyak ikut menanti lomba itu.

Ini sport tourism. Seharusnya pekerja wisata ikut terlibat memviralkan event itu. Sehingga, akan banyak wisatawan yang datang melihat bagaimana Berau menyelenggarakan lomba perahu panjang di punggung Sungai Segah. Ini sebetulnya even menarik untuk dipromosikan.

Sedikit catatan, Kabupaten Malinau, Kaltara menghentak panggung hiburan dalam merayakan ulang tahunnya.

Dari kemasan budaya yang disuguhkan, membuat Kementerian Pariwisata menawarkan kepada Pemkab Malinau untuk menjadikan pertunjukan kesenian menjadi even tahunan.

Gambaran kecil saya seperti itulah dalam mempersiapkan sebuah event budaya.

Meskipun tidak sepopuler dengan ‘pacu jalur’ yang berlangsung di Kuantan Singingi, Riau. Banyak klub internasional yang menirukan gerakan penari di ujung perahu.

Gerakan itu populer. Pacu jalur populer dengan istilah ‘aura farming’ itu trending dihampir semua belahan dunia.

Lomba perahu penjang yang panitianya dari anak muda Kecamatan Gunung Tabur, masih tersisa beberapa hari lagi.

Diharapkan akan muncul sebuah adegan atau situasi yang bisa viral seperti yang dilakukan seorang anak berdiri di ujung perahu panjang di Riau.

Meskipun cuaca yang tidak cerah. Angin ikut berperan membuat para pendayung semakin berat, itulah tantangannya. Tantangan meraih kemenangan. Menantang arus, sama berisikonya dengan melawan arus. Hehe. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra