Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Warga Maratua Curhat! Chamber Hyperbaric di Berau 'Tidur Panjang', Nyawa Penyelam Jadi Taruhan

Beraupost • Rabu, 29 Oktober 2025 | 13:40 WIB
caption

BAGAIMANA awalnya ketika pengunjung Warung Pojok, kemarin (28/10) memulai tema cerita soal Chamber atau Hyperbarik. Di antara pengunjung ada yang tahu kalau di Berau itu punya. Bahkan sudah lama dimiliki.

Kita punya di Puskesmas Tanjung Batu, Pulau Derawan. Barang itu sudah lama, sejak Berau ditunjuk sebagai penyelenggara cabang olahraga air PON, kata saya.

Saat itu, harganya lumayan mahal, tapi barang penting itu sekarang menjalani 'tidur panjang'. Tak beroperasi.

Saya pernah mencoba menikmati bagaimana tubuh ini ‘dicuci’ dari udara kotor. Lalu berkembanglah.

Bahwa alat itu juga berguna untuk urusan kecantikan. Berguna untuk merawat mereka yang menderita diabetes.

Dan sangat berguna bagi para pilot pesawat maupun para penyelam bawah laut. Hasilnya bisa lebih perkasa, kata saya sambil tertawa.

Sayangnya barang itu ada di Puskesmas Tanjung Batu, kata Ilham, warga Pulau Maratua yang tinggal di Tanjung Redeb.

Dia pelanggan tetap Warung Pojok. Idealnya, hyperbarik yang di Tanjung Batu itu dievakuasi saja ke Maratua atau ke Tanjung Redeb.

Ada salah seorang pengunjung warung yang datang sekali sebulan. Saya tahu dia itu guru SMA di Maratua.

Tapi selama ini saya tidak pernah berbincang serius soal wisata di pulau terluar itu. Nah, kemarin, dia ikut terlibat berbincang.

Saya ini sudah beberapa kali terserang decompresi, katanya. Terakhir saya tahu namanya Dedy.

Sebagai orang pulau, dia tidak hanya melulu sebagai tenaga pengajar, Dia juga berlajar menyelam dengan menggunakan peralatan. Dan sudah memegang lisensi selam.

Sudah bisa menemani wisatawan yang ingin menikmati bawah laut yang indah itu.

Beberapa kali saya mendampingi wisatawan asal Tiongkok untuk menyelam, kata Dedy.

Menyelam hingga kedalaman 30 meter. Karena keseringan itu, badannya terasa kalau sudah terserang decompresi. Saya hafal kalau badan saya kena deko, kata Dedy. Maksudnya decompresi.

Bagaimana mengobatinya? Dia terbang ke salah satu rumah sakit di Balikpapan. Rumah sakit yang punya fasilitas hyperbarik.

Cukup beberapa jam, saya sudah segar kembali, kata dia. Makanya, dia sangat menyarankan kalau di Maratua, sangat perlu ditempatkan hyperbarik.

Lalu dia bercerita beberapa pengalaman menemani wisatawan. Yang dikejar itu baracuda scooling, kata dia.

Ratusan ekor ikan baracuda yang membuat formasi berputar bersamaan. Pemandangan laut yang membawa Maratua sebagai tempat menyelam terindah dan berkelas dunia.

Dia pun memperlihatkan beberapa foto hasil jepretan saat menyalam di kedalaman 30 meter. Sekarang pemegang linsensi nyelam di Maratua cukup banyak. Semua anak-anak Pulau Maratua, ungkapnya.

Ada yang menanyakan, bagaimana kejadian hingga wisatawan asal Tiongkok itu meninggal dunia.

Dedy sejenak terdiam. Saya ada waktu itu menemani puluhan wisatawan Tiongkok yang melakukan penyelaman bersama.

Ketika ada aba-aba untuk ke permukaan laut, rombongan selam itu melihat seekor hiu putih melintas.

Mereka semuanya memegang kamera. Dalam pergerakan kepermukaan laut itu, kamera milik korban yang tenggelam itu terlepas dari tangannya.

Oleh pendamping disarankan untuk dilepas saja, mengingat kondisi tabung oksigen sudah tipis.

Sayangnya, dia tetap nekad. Tak ada yang tahu kalau tiba-tiba melepaskan diri dari rombongan dan menukik di kedalaman.

Maksudnya mau mencari kamera miliknya. Sementara semua rombongan sudah dipermukaan, si korban tidak muncul juga. Jadi gara-gara melihat hiu putih itu, kata Dedy.

Saking serunya, Dedy yang biasa hanya minum satu gelas teh susu, harus menambah segelas lagi.

Kembali mengulang soal hyperbarik. Maratua akan lebih dikenal, bila punya alat itu. Wisatawan akan merasa nyaman dan aman, dan wisatawan lain bisa ikut menikmati agar lebih cantik. Wisata biar cantik. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra