ALASANNYA tidak semata untuk melihat sepanjang tepian Sungai Segah tetap bersih. Di balik itu, ada yang lebih mulia.
Mereka yang berjualan di situ sepanjang malam, diberikan waktu istirahat. Sejenak tarik nafas.
Biasanya jam 16.00 Wita itu, waktu para pedagang mempersiapkan gerobak jualan mereka.
Ada pihak ketiga yang mengerjakan. Menata kursi dan gerobak. Setelah semua siap, barulah penjualnya datang dengan pakaian rapi dan memulai layanan.
Nah, kemarin itu sepanjang tepian lengang. Tak ada aktivitas berjualan. Saya leluasa jalan-jalan sore. Sambil melihat pemandangan sungai yang surut ke muara.
Rupanya teras itu menjalani perawatan. Dibersihkan setelah berhari-hari ditempati berjualan.
Iye Daeng, sekali sebulan tarik nafas, kata Saparuddin yang dipercaya sebagai komandannya para penjual makanan dan minuman.
Dia sudah lebih dari 20 tahun berjualan di situ. Mulai dari penggunaan tenda kain, hingga dapat jatah gerobak seragam dari Pemkab.
Istirahat sehari cukuplah. Pembeli juga diberi waktu untuk istirahat tidak duduk santai di tepian.
Bagusnya kami-kami yang berjualan ini diperiksa kesehatannya Daeng, kata Saparuddin sekali waktu jumpa.
`Maksudnya, kami-kami ini kan jualannya hingga tengah malam. Perlu mendapat pemeriksaan kesehatan yang gratis, kata perantau yang menganggap Berau sebagai kampung halamannya yang kedua.
Setuju dengan harapan Saparuddin itu. Ini juga bisa menjadi alat promosi, bahwa mereka (para pedagang) mendapat bantuan pemeriksaan kesehatahn gratis.
Kondisi kesehatannya prima. Konsumen juga tidak ragu untuk menikmati makanan dan minuman yang ditawarkan.
Hanya beberapa menit melintas di tempat berjualan yang sekaligus jadi jogging track. Tidak banyak yang memanfaatkan jalan kaki di sore hari.
Kalau pagi, lumayan. Sore hari, banyak warga yang memilih aktivitas olahraga di sekitar Lapangan Batiwakkal.
Di tepian itu, saya memandang ke arah Gunung Tabur. Terlihat jelas Keraton. Menatap arus sungai yang deras, sambil membayangkan bagaimana tantangannya pada acara lomba perahu panjang kelak. Sebentar lagi akan digelar lomba yang masih berkaitan dengan hari jadi kabupaten.
Promosi acara itu cukup gencar. Banyak artis yang pernah manggung di Berau memberikan dukungannya.
Hebat juga panitianya, kata saya saat menyaksikan promosi lewat akun TikTok. Ini kerja bagus. Dan akan banyak peminat yang menyaksikan.
Kabarnya, bukan hanya perahu panjang yang ada di Berau. Kelompok pendayung dari beberapa kota di Kaltara akan ikut ambil bagian.
Ini ajang yang bisa menarik hadirnya wisatawan. Apalagi bila kemasannya apik, pasti banyak penontonnya.
Dari tepian, saya melintas di Jalan Niaga depan Warung Pojok. Hari ini sepertinya tutup. Belum jam 12.00 siang, pintu besi Warung Pojok sudah tertutup rapat. Sepertinya Meilissa juga perlu tarik nafas. Perlu istirahat dari kesibukan keseharian.
Saya lanjutkan jalan-jalan sore di sekitar Taman Sanggam. Ada tenda yang terpasang hingga ke Jalan Milono. Acara apakah gerangan? Beberapa waktu lalu saat HUT KNPI juga memasang tenda hingga ke jalan. Entah siapa yang punya hajatan kali ini.
Mungkin konsepnya sama. Menghadirkan para pengusaha UMKM untuk menawarkan industri kreatif mereka.
Saya akan siapkan waktu untuk datang walau tidak setiap malam. Maklum, jarak rumah saya dengan Taman Sanggam cukup dekat. Karena dekat, jalan cepat pun tidak membuat sesak nafas. (sam)
@daengsikra.id