Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Anak Berkebutuhan Khusus Ikuti Festival Olahraga Disabilitas di Berau, Ajang Pengenalan Cabang Olahraga

Beraupost • Selasa, 28 Oktober 2025 | 11:15 WIB
UNJUK BAKAT: FOD digelar untuk memperkenalkan berbagai cabang olahraga kepada ABK sekaligus memberi ruang untuk berani mencoba dan menunjukkan kemampuan di bidang berolahraga. (IZZA/BP)
UNJUK BAKAT: FOD digelar untuk memperkenalkan berbagai cabang olahraga kepada ABK sekaligus memberi ruang untuk berani mencoba dan menunjukkan kemampuan di bidang berolahraga. (IZZA/BP)

BERAU POST – National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kalimantan Timur, menggelar Festival Olahraga Disabilitas (FOD), di Gedung Olahraga (GOR) Pemuda, Tanjung Redeb, Senin (27/10).

Sekitar 250 Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) tampak antusias mencoba berbagai aktivitas fisik yang baru pertama kali mereka kenal. Kegiatan ini sendiri, bukan untuk kompetensi melainkan, pengenalan cabang olahraga bagi mereka.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, yang membuka festival tersebut mengatakan, kegiatan ini memberi gambaran betapa banyaknya penyandang disabilitas yang memiliki semangat kuat di Berau. Selama ini, potensi mereka belum seluruhnya tersalurkan dalam kegiatan olahraga.

“Ketika kita lakukan festival olahraga bagi disabilitas ini, terlihat semua. Ini baru perkenalan olahraga bagi disabilitas. Saya lihat antusias anak-anak sangat tinggi,” ujarnya.

Menurutnyya, kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berolahraga tidak boleh berhenti di festival ini. Fasilitas yang mendukung dan perhatian berkelanjutan harus menjadi komitmen pemerintah daerah.

“Fasilitas untuk mereka akan kami diupayakan. Apalagi prestasi mereka tidak hanya di tingkat regional atau nasional, bahkan sampai tingkat internasional. Ini tentu perlu kita dukung,” katanya.

Orang nomor dua di Berau itu menegaskan bahwa perhatian terhadap disabilitas bagian dari pemenuhan hak dasar masyarakat. Termasuk hak mereka untuk berprestasi di bidang yang mereka kuasai.

“Saya mengajak kita semua menjadikan ajang ini sebagai wadah pembinaan untuk menentukan talenta atlet spesial kita, yang bisa mengharumkan nama Berau di berbagai tingkat kompetisi olahraga,” tegasnya.

Ia berharap agar pembinaan dilakukan secara terstruktur, melibatkan organisasi olahraga yang berwenang, dan didukung penuh oleh pemerintah daerah serta NPCI Kaltim.

Sementara itu, Ketua NPCI Kalimantan Timur, Suharyanto, menyebut FOD memang dirancang sebagai sarana pengenalan cabang olahraga kepada ABK. Bukan untuk mengejar medali, tetapi membuka wawasan mereka bahwa olahraga juga menjadi bagian dari dunia yang dapat mereka masuki.

“Ada 22 cabang olahraga paralympic. Namun untuk pengenalan di Berau, baru enam yang kami perkenalkan. Yakni atletik, catur, tenis meja, badminton, boccia, dan anggar kursi roda,” sebutnya.

Menurutnya, dari pengenalan ini akan terlihat minat masing-masing peserta. Setelah itu, pembinaan bisa dilakukan secara lebih spesifik melalui talent scouting.

“Berbagai ABK bisa mengikuti. Mulai dari tuna grahita, tunanetra, tunarungu, dan sebagainya. Ada sekitar 250 ABK di Berau yang berpartisipasi dalam festival ini,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan, potensi atlet disabilitas di Kalimantan Timur dan di Berau pada khususnya sebenarnya besar. Namun dukungan anggaran dan sarana prasarana masih sering menjadi kendala.

“Olahraga tanpa dukungan dana tidak bisa berjalan. Termasuk akses bagi disabilitas. Di fasilitas umum yang ada tangganya tentu disabilitas kesulitan, jadi harus ada akses khusus,” katanya.

Ia menilai kondisi kini mulai bergerak lebih baik. Dengan dasar hukum yang jelas, pemerintah daerah harus semakin memahami tanggung jawabnya dalam memenuhi hak-hak bagi disabilitas.

“Berau banyak potensi. Kalau ada daerah yang kesulitan anggaran, bisa laporkan ke kami. Kami bantu sosialisasi ke pemda karena prestasi disabilitas sudah sampai internasional,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Berau, Amiruddin mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti hasil festival ini dengan pemetaan calon atlet yang paling berpotensi. Kolaborasi dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah inklusi menjadi langkah utama.

“Kita akan kolaborasi dengan SLB untuk mencari bibit atlet, bahkan di sekolah inklusi juga kami cari,” katanya.

Pemerintah daerah akan terus membantu pembiayaan bagi ABK yang mengikuti kegiatan olahraga ke berbagai tingkat. Ia menyebut pembinaan atlet disabilitas berada dalam organisasi NPCI, terpisah dari KONI yang membina atlet normal.

“Justru secara nasional, ABK ini lebih berprestasi dibanding atlet normal. Di ASEAN kita juara tiga berturut-turut. Banyak sekali peraih medali,” terangnya. (aja/hmd)

Editor : Nurismi
#pengenalan #anak berkebutuhan khusus #Kabupaten Berau #cabor #ajang