TAK ada aturan baku waktu yang tepat menikmati Coto Makassar. Namun, di daerah asalnya di Makassar bagi penikmat coto, selalu memilih antara jam 10 dan 11 siang.
Alasannya apa Daeng? Pada jam itu, bumbu dan rempah sedang segar-segarnya. Lagi pula, makan coto ini dijadikan santapan antara sebelum makan siang.
Kalau sudah siang hari, biasanya sudah ada perubahan rasa dari bumbunya. Ada penambahan air.
Sekarang tak ada lagi aturan soal jam. Kapan pun ingin menikmati, mampir saja. Di Makassar ada warung coto yang buka dari pagi hingga tengah malam.
Bahkan ada yang tidak pernah tutup. Buka 24 jam. Itu di daerah asalnya yang jumlah penikmat Coto Makassar banyak. Banyak sekali.
Kemarin itu, teman saya yang tinggal di Samarinda berkunjung lagi ke Berau. Menumpang pesawat yang tiba sebelum siang.
Kami janjian dulu jumpa di Warung Pojok. Saya lebih dulu datang bersama Pak Majid Sekretaris Disbudpar dan Ilham UPT Disbudpar di Kecamatan Pulau derawan.
Biasa. Kami bertiga jumpa sekali sepekan. Sambil bercerita tentang pariwisata. Tentang event yang akan digelar. Masih cukup waktu sebelum memasuki pergantian tahun.
Saya yakin, resor di Pulau Maratua dan Derawan sudah ada yang check in. Tahun baru di pulau.
Bukan soal itu saja.
Awal tahun lau, warga dan wisatawan mengeluhkan soal frekuensi penerbangan. Pun dengan tarifnya.
Sekarang, dengan jumlah penerbangan cukup tinggi apalagi dengan masuknya maskapai Air Asia, harusnya perlu di respons. Ini situasi yang menguntungkan bagi dunia pariwisata, kata saya.
Penerbangan langsung ke Surabaya dan Jakarta, tiga kali penerbangan ke Balikpapan dalam sehari, harusnya dimanfaatkan untuk melakukan promosi yang gencar.
Ajaklah semua pekerja wisata buat promosi. Ajaklah para YouTuber. Ajaklah maskapai penerbangan ikut menyuarakan pariwisata di Berau.
Dan yang penting, ajak pihak perusahaan yang ada di Berau. Bukankah bupati selalu menggaungkan kolaborasi? Kata saya.
Anggaran terbatas? Ada efisiensi? Tahun depan situasinya lebih berat? Saya senyum mendengar argumen itu. Apapun situasinya harus dijawab dengan bekerja.
Gunakan kemampuan kolabrasi itu. Dan, yakinkan pada bupati kalau pariwisata ini bagian dari visi misi.
Harus jalan. Bukankah dulu kita pernah menghadapi situasi yahng lebih parah. Toh semua bisa jalan dengan baik.
Harus diingat, bupati sekarang sedang menelisik orang per orang pejabat di level eselon III. Sekab sudah mulai melakukan ranking.
Kalau ada pejabat yang dinilai tidak bersemangat dalam menjalankan tugas, siap-siap dicarikan pengganti. Itu sudah jadi catatan Sekkab.
Seru-serunya membahas pariwisata, teman yang dari Samarinda itu datang juga ke Warung Pojok. Dia pesan teh susu.
Belum sempat sarapan saya Daeng, kata teman saya itu. Dia tampak anggun berhijab. Samarinda banjir di mana-mana, tambahnya.
Tak apa berlapar-lapar dahulu. Nanti kita nikmati Coto Makassar di depan Dermaga Teratai.
Teman saya tersenyum, saya tahu dia itu penikmat coto, tapi belum pernah merasakan coto yang ada di tanah kelahirannya.
Pertemuan kami di Warung Pojok berlangsung singkat. Teman saya itu mau cepat-cepat ke warung coto. Tidak sabar lagi.
Selama penerbangan, sudah terbayang paru goreng, jantung, dan lidah. Ditambah lagi ketupat pandan yang ukurannya lumayan besar.
Duduklah kami di meja paling belakang. Dekat dinding. Semua meja terisi. Banyak ASN yang datang.
Mereka para penikmat coto. Rahman, sang penjual senyum-senyum. Jadwalnya kan akhir bulan, kata Rahman. Ini di luar jadwal, kata saya.
Saya tertantang memesan dua mangkuk coto dan dua ketupat. Teman saya memang sudah porsinya begitu. Lumayan menyenangkan.
Di warung coto itulah, kalau teman saya yang tinggal di Samarinda, dia berencana membuka cabang. Semua sudah siap. Lokasinya di Jalan Pemuda, Samarinda. Cabang Coto Makassar Teratai. (sam)
@daengsikra.id