Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Harga Telur Bebek di Berau Turun! Diskusikan Dampak Program Makan Bergizi Gratis

Beraupost • Kamis, 23 Oktober 2025 | 16:25 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

TURUN sedikit, kata penjualnya. Maksudnya, harga jualnya lebih murah dibanding dua pekan lalu. Ini pertanda baik. Bisa jadi penyebab produksi telur bebek di sentra peternak lebih banyak.

Dua pekan lalu, di ujung pasar Jalan Manunggal, ada kios khusus jualan telur. Kios yang tidak terlalu luas itu, banyak tumpukan telur ayam lokal dan bukan lokal.

Ada juga jenis telurber omega-3 dan tidak. Ada juga telur bebek. Ada juga telur puyuh. Lengkap.

Harga yang ditawarkan Rp 4.000 per butir telur bebek. Memang saya lebih suka mengonsumsi telur bebek. Beda rasanya. Beda tampilannya. Beda juga efek sampingnya, kata teman penikmat telur.

Kemarin sore, saya ke kios itu lagi. Persediaan telur bebek habis. Saya sodorkan uang Rp 40.000. Harapannya, penjual telur memberikan 10 butir telur.

Cukuplah untuk konsumsi satu minggu. Telur bebek itu lumayan nikmat buat sarapan. Telurnya digoreng mata sapi.

Turun sedikit harga om, kata penjualnya. Sambil menjalankan kalkulator diingatannya. Dia lalu membungkus 12 butir telur bebek yang tampilannya belum bersih. Masih ada lumpur yang melengket di kulitnya.

Lumayan, dapat bonus 2 butir dibanding pembelian sebelumnya. Saya pikir-pikir, berapa jatuhnya harga per butirnya. Sudahlah. Tidak usah dipikirkan.

Yang jelas, saya bisa mendapatkan 12 butir. Aman buat sarapan. Apalagi bila malam-malam, kuning telur dicampur dengan segelas susu encer. Bikin nyenyak tidur.

Dari ujung Jalan Manunggal, saya membayangkan apakah komoditas sayur mayur dan bumbu juga mengalami penurunan harga? Termasuk ayam potong dan ikan segar. Nanti saya siapkan waktu khusus untuk melakukan survei kecil-kecilan.

Saya pernah menekuni tugas itu, saat masih bertugas di Departemen Perdagangan (sebelum melebur ke Pemkab), setiap pekan turun ke lapangan dan membuat laporan perkembangan harga (informasi harga).

Di salah satu sudut pasar, saya tempelkan harga terkini sayur mayur dan kebutuhan pokok lainnya. Membandingkan harga yang terjadi di Pasar Teluk Bayur dan di Tanjung Redeb.

Kenapa saya harus tahu soal harga yang terjadi di Pasar Teluk Bayur dan Pasar Adji Dilayas serta di Jalan Manunggal? Kemarin, di Warung Pojok, kami diskusi soal kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG). Kami tidak membahas mengapa buat sementara harus terhenti.

Yang kami diskusikan, dampak dari program itu bukan hanya dirasakan oleh penerima manfaat yakni para murid sekolah. Banyak yang merasakannya. Dan dalam jangka panjang, akan menggairahkan banyak sektor usaha.

Bayangkan, kata saya, kita bicara kebutuhan beras saja. Berapa banyak yang diperlukan untuk kegiatan memasak selama sepekan kecuali hari Sabtu dan Minggu. Ini kan bisa menghidupan petani dan para pemasok beras dari luar Berau.

Selanujutnya, kebutuhan sayur mayur. Kalau kebutuhan sayur mayur yang bisa dihasilkan petani lokal, ini akan memberikan semangat bagi mereka. Sebab, hasil panennya akan terserap dari kegiatan MBG itu.

Sayur Kangkung, sawi, dan lombok tiung dihasilkan oleh petani sayur mayur di banyak lokasi.

Lalu kebutuhan ayam. Berapa banyak keperluan ayam potong yang diproduksi oleh mereka yang bergerak dalam bisnis ini. Pasar mereka sudah jelas ada setiap hari dan akan berlangsung setidaknya dalam beberapa tahun ke depan.

Bujur Daeng, kata teman yang saya tahu dia bekerja di kantor kecamatan. Banyaknya penerima manfaat, juga akan melibatkan banyak tenaga kerja.

Mulai tenaga kerja di dapur MBG juga tenaga kerja yang mengantarkan makanan ke berbagai sekolah. Mereka semua itu menerma penghasilan. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Mbg #Daeng Sikra #opini