MEILISA pemilik Warung Pojok bersama Benyamin suaminya super sibuk. Hari Minggu (19/10) tidak seperti hari minggu sebelum-sebelumnya. Semua kursi terisi. Ada tamu yang terpaksa batal masuk.
Saya datang jelang siang. Banyak warga usai menikmati suasana car free day (CFD), sudah bergerak pulang.
Dari CFD itulah ada yang transit dulu di Warung Pojok. Satu meja terisi penuh dengan karyawan Bank BNI. Meja lainnya diisi anggota Polres Berau.
Sekitar jam 09.00 Wita, datang pelanggan yang lama tidak terlihat. Ada Bastian. Ada Madri Pani bersama crew. Ada Agus Uriansyah anggota DPRD Berau.
Ini bakalan ramai diskusi, kata saya dalam hati. Materi yang dibahas pasti yang berat dicerna.
Dimulai dari persoalan layanan rumah sakit. Ada pasien yang kesetrum listrik, kabarnya dipulangkan (disuruh pulang) padahal masih memerlukan rawat lanjutan, kata salah seorang tamu yang saya tidak ingat namanya.
Dikaitkanlah antara pasien yang disuruh pulang itu dengan kondisi personel dokter di rumah sakit.
Antara kondisi layanan dan jumlah dokter dengan bangunan rumah sakit yang baru. Semuanya memberi komentar yang bikin pedas telinga.
Ada juga yang komentar antara rumah sakit yang baru dengan lokasi pembuangan sampah.
Yang mana harus dikalahkan, sementara lokasi pembuangan sampah yang baru itu nun jauh ke arah Labanan.
Di sisi lain, dukungan operasional kendaraan pengangkut sampah, juga memprihatinkan.
Mungkinkah pengangkut sampah yang pakai motor, membawa sampah sampai ke lokasi yang jauh itu,kata salah seorang tamu warung.
Saya tidak bisa memberikan pendapat. Hanya tersenyum saja. Bahwa yang datang di Warung Pojok itu adalah mereka yang notabene punya arah politik yang berbeda.
Namun, apa yang disampaikan sebetulnya adalah persoalan kekinian yang jadi perbincangan di masyarakat.
Termasuk menyoroti soal kinerja perusahaan daerah yang masih sering mendapat suntikan dana yang sebutannya penyertaan modal.
Ada perusahaan daerah yang kegiatannya, justru menjadi pesaing dengan usaha yang dilakukan UMKM, kata Agus Uriansyah.
Begitulah suasana Warung Pojok. Saya duduk bersebelahan dengan salah seorang pengusaha yang belakangan sibuk mempersiapkan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dia mendapat satu titik, dengan layanan penerima manfaat lumayan banyak. Kita sekarang belum bisa operasi, kata teman saya itu.
Harus mencari tenaga ahli gizi, tambahnya. Teman saya yang pengusaha itu, awalnya domisili di Makassar.
Setelah menikah, memilih ikut dengan isterinya menetap di Berau. Kan di Makassar banyak ahli gizi, kata saya. Sekarang jadi rebutan Daeng, ungkapnya.
Tim inti dari komunitas Warung Pojok formasinya tidak lengkap. Ada yang dinas luar daerah. Ada yang sibuk di pasar. Pun sibuk panen kelapa sawit di kebunnya.
Padahal Yansen berencana melakukan long trip ke Tawau, Malaysia. Biayanya tidak mahal, kata Yansen.
Rute perjalanan itu dari Tanjung Redeb ke Tarakan via Tanjung Selor. Kemudian melanjutkan perjalanan lewat laut ke Kabupaten Nunukan.
Dari Nunukan itulah melanjutkan perjalanan ke Tawau hingga berakhir di Kota Samporna.
Ajakan Yansen dari pengalaman perjalanan wisata kulinernya hingga ke Kota Samporna. Dia menyebutkan, kalau wisatawan Tiongkok yang ke Tawau dan Samporna itu ingin menikmati kuliner yang murah.
Jumlah wisatawan Tiongkok yang datang jumlahnya ratusan ribu. Kita sambil belajarlah, siapa tahu ada yang ingin buka warung makan di pulau Maratua, ungkapnya.
Minum kopi pagi-pagi di Warung Pojok, selain sebagai tempat silaturahmi. Juga bisa mendapatkan informasi yang menarik.
Apa yang dibahas di Warung Pojok bisa menjadi masukan bagi siapa pun yang bekepentingan. Toh tujuannya demi kebaikan bersama. (sam)
@daengsikra.id