POJOK RASA di perempatan Jalan Niaga dan Jalan Panglima Batur tak terdengar suara tawa. Pengunjungnya tetap ramai. Kelompok wartawan yang biasa bikin heboh, sedang berada di Kota Bontang.
Sunyi om, kata penjaga yang duduk di belakang meja menu. Pojok Rasa itu, warung makan ala prasmanan.
Sajiannya masakan rumahan. Kalau saya datang, belum lagi ke meja menu, sudah ngomong sayur santan tersedia.
Kenapa sunyi inilah? Kata saya pura-pura kada tahu. Kata penjualnya, bubuhan wartawan yang biasa main resmi itu semuanya ikut olimpiade di Bontang, kata dia tertawa. Maksud penjualnya, Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada).
Sejak keberangakatan, praktis seluruh wartawan pemegang kartu anggota PWI boyongan ke Bontang yang ditunjuk jadi tuan rumah.
Saya tidak hafal cabang olahraga apa saja yang dipertandingkan. Semoga saja tidak ada lomba lari. Haha.
Soalnya, teman-teman wartawan itu saya hafal jam bekerjanya. Saya tahu jam tidurnya. Istirahat, mereka tidak memenuhi standar kesehatan yang wajib tidur 8 jam.
Kalau ada cabang olahraga artletik, dipastikan tuan rumah harus siap-siap tabung oksigen. Akan banyak kehabisan nafas.
Jangan salah. Wartawan yang tugas di Berau masih usia muda. Tidak seperti saya yang masuk kelompok manula.
Mereka dikenal pemain futsal yang hebat. Ikut di Samarinda tahun lalu, bisa memboyong medali di cabang futsal.
Meja di teras Pojok Rasa itulah jadi langganan wartawan. Seakan jadi kantor bersama mereka. Sejak jam 12.00 siang sudah mulai beradu.
Selesai sebelum senja. Kadang dilanjut hingga tengah malam. Saya sering ikut, sebagai penonton saja.
Mereka ke Bontang setelah dilepas Bupati Berau Sri Juniarsih, ada pesan khusus untuk mereka.
Semua wartawan PWI itu didaulat selain sebagai tim olahraga, juga diminta sebagai tim promosi wisata. Selamat bertanding, titip promosikan destinasi wisata di Berau, begitu pesan bupati.
Makanya, sejak mereka di Bontang, proses pengiriman catatan saya bergantung pada jaringan.
Kalau mereka berada di posisi blank spot, catatan yang saya kirim pasti akan telat. Semoga saja selalu ada jaringan Daeng, kata Om Syamsudin.
Dalam percakapan lewat WA itu, saya ingatkan pada teman-teman wartawan agar pesan bupati disampaikan pada khlayak yang kumpul di Bontang.
Setidaknya, promosikan pada sesama wartawan. Siapa tahu, tahun depan Berau dipercaya jadi tuan rumah.
Jangan lupa nikmati kenyamanan Gammi Bawis di Bontang, kata saya pada Syamsudin.
Gammi Bawis itu, sambal khas bontang yang dipadu dengan ikan bawis. Saya jelaskan, bahwa ikan bawis itu sebagian dipasok dari nelayan yang ada di Tanjung Batu. Jangan nda ingat, bawa ikan bawis ke Berau Sam, kata saya.
Pesan bupati kami akan sampaikan pada setiap pertemuan Daeng, kata Yudi, Ketua PWI Berau.
Yang penting, kembali ke Berau dengan membawa medali yang banyak. Prestasi yang pernah diukir di Samarinda, harus lebih baik lagi, kata saya.
Saya menikmati sayur santan, ikan goreng dan sambal dicampur irisan mangga. Sendirian di warung Pojok Rasa.
Karyawan perusahaan datang bergantian menikmati santap siangnya. Mereka memilih duduk di lantai dua. Ruangan yang berpendingin.
Teringat saat santap siang di ruang kerja Bu Viera, kepala kantor KPPN beberapa pekan lalu. Menu ikan patin dan sayur asam.
Teman-teman di KPPN Berau pasti sedang sibuk. Apalagi dengan menteri baru yang sangat viral itu.
Saya tiap hari menyaksikan tayangan Menkeu Purbaya di TikTok. Hebat. Yang lebih hebat lagi, pelayanan dana pensiun, tak lagi ditangani Taspen dan Asabri. Saya senyum-senyum. Ini tugas baru jajaran Menkeu yang ada di daerah. (sam)
@daengsikra.id