Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Lokakarya Jappin Sidayang Berau: Dekatkan Anak Muda dengan Tari Tradisional Banua

Beraupost • Senin, 13 Oktober 2025 | 11:10 WIB
PERJALANAN LOKAKARYA: Tepian Kolektif saat berkeliling mengajarkan tarian khas Suku Banua yang diciptakan Maestro Adji Rasman ke sekolah-sekolah. (KOMUNITAS TEPIAN KOLEKTIF UNTUK BERAU POST)
PERJALANAN LOKAKARYA: Tepian Kolektif saat berkeliling mengajarkan tarian khas Suku Banua yang diciptakan Maestro Adji Rasman ke sekolah-sekolah. (KOMUNITAS TEPIAN KOLEKTIF UNTUK BERAU POST)

SEBAGIAN anak muda di Berau mungkin menganggap tarian tradisional seperti sesuatu yang jauh dari keseharian. Namun, bagi Komunitas Tepian Kolektif, justru di situlah tantangannya.

Amnil Izza, TANJUNG REDEB

Komunitas Tepian Kolektif pun berusaha membuat generasi muda kembali dekat dengan akar budayanya.

Salah satu upaya itu mereka wujudkan lewat lokakarya keliling sekolah bertajuk “Dari Tubuh ke Ruang Kelas: Lokakarya Jappin Sidayang.”

Program ini merupakan kelanjutan dari riset panjang yang dilakukan Tepian Kolektif selama empat tahun terakhir terhadap Jappin Sidayang, tarian khas suku Banua yang diciptakan Maestro Adji Rasman.

Hasil penelitian mereka terdokumentasi dalam sebuah zine berjudul Jappin Sidayang: Tubuh, Waktu, Warisan, yang terbit pada April 2025.

Zine tersebut memuat perjalanan hidup sang maestro sekaligus panduan gerak dan filosofi yang terkandung dalam setiap langkah tari.

Salah seorang anggota Tepian Kolektif, Melynda Adriani menuturkan, dari hasil riset tersebut, Tepian Kolektif ingin melanjutkan langkahnya dengan cara yang lebih interaktif.

Memmbawa hasil penelitian ke ruang-ruang belajar melalui program lokakarya keliling sekolah.

Melalui lokakarya tersebut, para siswa tidak hanya diajak menari, tetapi juga diajak memahami makna di balik setiap gerakannya.

Menurutnya, Jappin Sidayang bukan sekadar tarian, melainkan ekspresi tubuh yang mencerminkan nilai-nilai tradisi, spiritualitas, serta hubungan mendalam antara manusia, tempat, dan budaya Banua.

Selama pelaksanaan lokakarya, antusiasme peserta terlihat begitu tinggi. Para siswa tampak bersemangat mengikuti setiap sesi, bahkan mampu menyelesaikan satu repertoar tarian dalam waktu kurang dari lima jam pelatihan.

“Padahal Jappin Sidayang ini termasuk tarian yang cukup sulit untuk dipelajari dalam satu hari. Tapi mereka bisa cepat memahami karena sebagian besar peserta sudah mengetahui dasar-dasar Jappin,” ujar Melynda.

“Selain praktik tari, kami juga memberikan modul ajar Jappin Sidayang yang bisa digunakan guru dalam pelajaran Seni Budaya,” tambahnya.

Dalam setiap pertemuan, Tepian Kolektif tidak hanya fokus pada teknik gerak, tetapi juga menyisipkan pengetahuan tentang sejarah dan budaya Banua.

Melalui kisah hidup maestro tari Adji Rasman, para siswa diajak mengenal sosok yang telah menjaga nyala tradisi Jappin selama bertahun-tahun.

Cerita tersebut juga menjadi bagian dari materi pembelajaran yang tertuang dalam zine Tubuh, Waktu, Warisan: Jappin Sidayang.

Untuk lokakarya pertama, kegiatan digelar di SMP 6 Tanjung Redeb dan SMA 7 Berau yang berlokasi di Kelurahan Sei Bedungun.

Kemudian, tim berpindah ke SMP 1 Sambaliung dan SMA 4 Berau yang berada di Kecamatan Sambaliung.

Menurut Melynda, pemilihan empat sekolah ini bukan tanpa alasan. Lokasi-lokasi tersebut dipilih karena berada di pinggiran kota, di mana ruang kegiatan seni masih terbatas namun semangat para siswa untuk belajar tetap tinggi.

Sebagian besar pelajar di sekolah tersebut berasal dari wilayah Rantau Panjang, Labanan, Sambaliung, hingga Gunung Tabur. Kawasan-kawasan ini menurutnya perlu diberi akses lebih terhadap kegiatan budaya.

“Melalui lokakarya ini, kami ingin membuka ruang baru bagi mereka untuk belajar, berekspresi, dan mengenal lebih dalam kekayaan tradisi yang mereka miliki,” katanya.

Bagi beberapa daerah seperti Sambaliung, lanjutnya, banyak pelajar yang sebenarnya sudah memiliki dasar menari Jappin. Potensi itu menjadi alasan kuat bagi Tepian Kolektif untuk hadir.

“Kami tidak hanya ingin mengasah teknik gerak, tapi juga menumbuhkan kesadaran tentang apa yang menggerakkan mereka dalam menari. Tentang sejarah, budaya, dan para tokoh yang menjaga warisan ini agar tetap hidup,” jelas Melynda.

Lokakarya Jappin Sidayang ini menjadi langkah awal dari program jangka panjang Tepian Kolektif.

Ke depan, mereka berencana memperluas jangkauan kegiatan agar bisa menjangkau lebih banyak sekolah di Kecamatan Tanjung Redeb dan sekitarnya.

“Kami percaya, setiap anak di Berau berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenal dan mencintai budayanya sendiri,” tutupnya.(arp)

 

Editor : Nurismi
#Kabupaten Berau #komunitas #tarian #budaya