HARI Kamis (2/10), dress code ASN pakai batik. Bersamaan dengan hari batik. Yang bukan ASN pun merayakan hari itu. Semua pakai batik. Ada batik Berau. Ada batik corak Jawa.
Ada pula yang corak Bugis dengan huruf lontara. Saya pakai batik koleksi lawas. Hehe.
Di Warung Hokky kemarin itu, ada diskusi sarat pesan menyambut hadirnya maskapai Air Asia. Maskapai yang baru pertama kali menyentuh landasan pacu Bandara Kalimarau.
Bukan hanya bupati Sri Juniarsih Mas yang senang. Ini jawaban keluhan warganya mendapatkan layanan penerbangan udara.
Masuknya maskapai yang mengoperasikan pesawat airbus itu, akan berpengaruh pada tarif angkutan udara.
Kalau selama ini warga mengeluhkan harga tiket, ada maskapai baru otomatis akan terjadi ‘perang’ tarif.
Di Warung Hokky itulah ramai-ramai membuka aplikasi pemesanan tiket. Bujur, harga tiket tujuan Surabaya langsung turun, kata Aming pemilik Warung Kopi Tiam di Tepian Segah.
Kan bagus, masyarakat bisa terkurangi bebannya, ungkapnya.
Rute pesawat yang baru masuk melayani warga Berau itu, ke Balikpapan dan lanjut Surabaya. Rute yang beberapa tahun dilayani Wings Air dengan pesawat ATR.
Untuk rute Surabaya, kini dilayani tiga pesawat besar. Ada Batik Air, Super Air Jet, dan Air Asia.
Terus Wings Air kira-kira kemana? Perusahaan yang punya jam terbang tinggi itu, pasti punya rute alternatif.
Salah satunya, tetap mempertahankan rute ke Samarinda. Bisa saja jam terbangnya bertambah. Bergantung penumpangnya saja.
Atau, rute yang sempat dinegosiasikan bersama pemkab, akan dilanjutkan dengan atau tanpa kerjasama dengan pemkab. Yakni, rute wisata ke Pulau Maratua.
Tinggal memilih saja, apakah akan terbang dari Bandara Kalimarau ke Maratua atau menyambangi penumpang yang akan berwisata dari Bandara di Balikpapan.
Kalau menguntungkan berangkat dari Bandara Balikpapan (pernah dilakukan maskapai Garuda), bisa saja itu terjadi.
Kalau ada permintaan yang dianggap menguntungkan dari Bandara Samarinda terbang langsung ke Pulau Maratua, pasti akan ditangkap maskapai dengan pesawat ATR-nya.
Strategi itu sudah pasti ada di tangan manajemennya, kata Oetomo Lianto yang punya pengalaman mengoperasikan pesawat Bali Air (Bouraq).
Di mana pun tujuannya, kalau secara operasional memberi keuntungan, pasti diterbangi, kata Oetomo. Termasuk melayani wilayah Kaltara yang punya bandara.
Sekarang, kata Hendri Oetomo (Titi), putra Oetomo Lianto, bagaimana pemkab melalui instansi teknisnya dalam memainkan situasi penerbangan yang ada.
Saatnya promosi jor-joran, kata Hendri. Dengan promosi yang gencar, ia memastikan wisatawan akan lebih banyak lagi ke Berau.
Dia memberikan contoh. Salah satu resor di Pulau Maratua (Green Nirvana) punya kerabat dekat dengan pebisnis yang berdomisili di Kota Guangzhou, Tiongkok.
Melalui kerabatnya itulah, mempromosikan Resor Green Nirvana. Jangan heran kalau tamunya banyak yang datang dari Guangzhou, Tiongkok, kata Hendri.
Sekarang ini jadi tantangan para pekerja pariwisata. Termasuk instansi yang menangani. Kalau dulu mengeluh soal keterbatasan tempat duduk dan harga tiket, sekarang semuanya terjawab.
Jumlah kursi dan rute serta harga tiket yang terjangkau. Tinggal bagaimana bentuk promosinya, kata Hendri.
Pulau Maratua yang dibanggakan, perlu dibenahi maksimal. Jangan sampai wisatawan datang hanya sekali. Kita kan berharap wisatawan itu datang berkali-kali, ungkap Hendri.
Promosi itu penting. Tapi, promosinya yang tepat sasaran. Salah satunya, ajaklah maskapai itu bekerja sama, memperkenalkan destinasi wisata yang ada di Berau, tambahnya. (sam)
@daengsikra.id