JANJIAN berangkat bersama. Mereka dari kantornya di Jalan Pulau Derawan, saya dari Warung Pojok. Mereka naik mobil, saya naik motor. Kemana? Memenuhi janji, hadir pada acara pesta nikahnya Afna. Sahabat saya.
Karena hari Kamis, pekerja kantoran dress codenya batik. Bupati mewajibkan mereka memakai batik corak Berau.
Saya hanya menyesuaikan. Belum punya koleksi batik Berau. Tersisa batik koleksi lima tahun lalu.
Datangnya hampir bersamaan. Membawa kado dibungkus kertas cokelat. Ada berukuran besar, ada kado yang dijepit, macam-macam.
Biasanya, bila teman sekantor pesta pernikahan begitu, kadang kado yang dipersembahkan aneh-aneh. Lucu-lucuan. Agar ada kesan.
Mereka rombongan ASN Disbudpar. Tempat bekerja sang mempelai perempuan. Saya pernah satu tim dengan mereka, ketika masih di kantor lama berhadapan dengan Head Office PT Berau Coal.
Setiap menghadiri acara pesta pernikahan seperti itu, juga jadi ajang reunian. Seperti kemarin itu. Sebelum memasuki tempat acara, ada acara salam-salaman. Saling bertanya kabar.
Isrin, sang motoris menyalami sambil memandang rambut saya yang memutih. Apa kabar bos, kata Isrin tersenyum.
Ada beberapa karyawan tidak saya kenal. Katanya mereka pindahan dari kantor lain. Ada juga yang baru lulus PPPK. Cantik-cantik, dengan batik Berau dominan warna cokelat.
Dari pintu masuk itu terdengar nyaring lagu Tabola Bale. Lagu yang viral dalam sepekan ini.
Berada di antara mereka, rasanya seperti masih aktif sebagai ASN. Tak ada yang berkurang.
Keakraban maupun keramahan mereka. Maklum, mereka itu yang hampir setiap hari menyuarakan tentang Sapta Pesona. Selalu menitipkan kesan yang susah dilupakan. Apalagi senyumnya.
Saya duduk bersebelahan dengan Mba Ita dan Mba Jatia. Tak ada hal spesial yang kami bincangkan.
Dia hanya menyebut, kalau dalam pekan-pekan ini belum ada kesibukan yang luar biasa. Hari Sabtu aja, ada acara bakar ikan di Tanjung Batu, Pulau Derawan, kata Mba Ita.
Menarik. Rasanya cukup lama saya tidak ke Tanjung Batu. Acara bakar ikan akan jadi even yang bisa mengundang banyak pengunjung.
Ikan yang disajikan pasti yang segar-segar, kata saya. Acara di Tanjung Batu itu bukan pengganti bakar ikan yang batal dilaksanakan di Tanjung Redeb.
Di meja lain, ada Pak Majid, Sekretaris Disbudpar yang datang bersama istri. Mengenakan batik warna menyala.
Yang tidak terlihat Pak Ilyas Nasir, sang Kepala Dinas. Kabarnya sedang dinas ke luar daerah. Tak bisa menyaksikan kebahagiaan anak buahnya yang menggelar pesta pernikahan.
Di pelaminan, Afna bersama Agung yang telah resmi sebagai pasangan suami istri melewati prosesi akad nikah, terlihat bahagia. Bahagia melihat seluruh teman sekantornya hadir. Termasuk saya yang hadir memberikan doa restu.
Mengenakan pakaian pengantin khas bugis warna putih dengan asesori warna keemasan. Saat foto bersama, Afna dan sang suami membuat simbol hati dari pertemuan tangan mereka.
Simbol yang menjadi tagline pariwisata. Lambang cinta kasih. Momen foto bersama seperti itu yang menjadi dokumen abadi.
Bukan hanyabagi kedua mempelai, tapi seluruh kerabatnya. Saya pun ikut merasakan suasana batin yang membahagiakan itu.
Kekompakan mereka sudah ada sejak lama. Sejak saya masih berada dalam tim Dinas Pariwisata.
Lagu Tabola Bale terdengar berulang-ulang. Sebagai pengganti musik elekton. Menambah suasana yang cukup penas itu tidak terasa.
Maunya berlama-lama. Menikmati momen yang amat jarang terjadi. Selamat berbahagia Mba Afna. Tampami riolo tau ri temmako ri temmakeng (semoga bahagia sekarang dan selamanya). (sam)
@daengsikra.id