Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Kisah di Balik Mercure Berau: Rela Bongkar Bangunan Demi Wujudkan Hotel Bintang Empat

Beraupost • Kamis, 11 September 2025 | 16:25 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

BEGITU operasi langsung raih predikat bintang empat. Kalau disetarakan dengan kepangkatan militer, sama dengan jenderal.

Otomatis, Kabupaten Berau levelnya juga naik beberapa tingkat. Untuk urusan tempat menginap.

Teman saya yang tinggal di Jakarta, berencana berkunjung ke Berau dalam rangka dinas. Bagusnya saya nginap di mana Daeng, kata teman saya. Dia itu pakar hiperbarik.

Saya sebut saja, tinggal pilih apa mau di Hotel Mercure? Dia terkejut. Berau sudah ada Mercure ya? Kata dia setengah tidak percaya.

Saat berbalas WA dengan teman itu, saya lagi di Warung Hokky. Bersama Oetomo Lianto (Aliang).

Pemilik hotel yang baru saja soft opening. Sejak awal, sebetulnya kami membahas soal tingkat hunian hotel itu. Pekan ini lumayan Daeng. Huniannya di atas 80 persen, ungkapnya.

Bukan hanya keterisian kamar. Penggunaan sejumlah ruang rapat dan ballroomnya, jadwalnya lumayan padat.

Rupanya, keberadaan hotel penyandang bintang empat itu banyak yang membuat terheran-heran.

Hotel dengan jaringan internasional, bisa hadir di sebuah kabupaten yang penduduknya tak lebih dari 300 ribu jiwa.

13 tahun lalu, kata Aliang, pernah jumpa dengan Pak Makmur, bupati Berau saat itu. Makmur menyarankan agar Aliang membangun hotel yang punya fasilitas lengkap. Nanti saya bantu perizinannya, kata Makmur yang diulang oleh Aliang.

Mulailah membeli lahan yang di Jalan Murjani III itu. Lanjut dengan pembangunan fisik. Dalam perjalanan, setelah anak ketiganya kembali dari Singapura usai menyelesaikan pendidikan, dia menyarankan. Harus menggunakan nama hotel yang sudah dikenal luas.

Banyak yang dihubungi, tak ada yang berminat, kata Aliang. Mengapa? Pemilik jaringan hotel itu belum memprioritaskan kehadirannya pada level kabupaten.

Termasuk di Kabupaten Berau. Nyaris membuat Aliang patah semangat. Sudah terlanjur membangun dengan biaya besar.

Apalagi dia pernah mendengar ucapan sahabatnya. Bahwa orang kaya bisa membangun hotel. Tapi, yang punya hotel tidak bisa membuat kaya. Semakin kendur semangatnya.

Namun, ia sedikit bangkit saat jumpa dengan sahabatnya almarhum Soehartono Soecipto, jalan saja sedikit demi sedikit, itu kalimat Pak Tono, kata Aliang.

Naluri bisnis sang anak setelah kuliah di luar negeri terus berupaya mendapatkan akses. Dan, kebetulan jumpa dengan sahabatnya yang posisinya manajer di jaringan bisnis hotel Mercure. Deal. Tapi, sang manajaer harus ke Berau melihat situasi lapangan.

Beberapa persyaratan dipenuhi. Yang berat, bangunan fisik yang sudah diupayakan tidak sesuai dengan standar Mercure.

Mulai dari urusan tangga dan detail bangunan lain. Terpaksa kami bongkar. Habis banyak aku, kata Aliang sambil menepuk jidatnya.

Saya salah seorang dari sekian banyak saksi dalam proses itu. Juga menyaksikan bangunan villa yang terpaksa dibongkar.

Dan, perjalanan waktu selama 13 tahun itu, menjadikan seperti sekarang. Memang kita tidak boleh patah di tengah jalan, ungkapnya.

Berau bisa berbangga. Seorang Aliang berhasil membangun hotel ‘jenderal’ yang bisa mengangkat nama Berau.

Aliang pun lebih besar kebanggaannya. Menghadirkan hotel yang jadi obsesinya sejak lama. Mempekerjakan puluhan karyawan menangani ratusan kamar dan berbagai fasilitas pendukungnya.

Makanya, tiap hari dia memonitor tingkat huniannya. Saking semangatnya, lahan miliknya yang di Jalan Pemuda (Samping kantor PU Wilayah), berencana membangun lagi satu unit hotel. Dari jaringan manajemen yang berbeda.

Diusia yang tidak lagi muda, saya hanya mempersembahkan semuanya untuk anak dan untuk kebanggan tempat di mana saya mencari nafkah, kata Aliang.

Tidak terasa, kami ngobrol 3 jam di Warung Hokky. Dia minum tiga gelas teh liang ca. Saya satu porsi nasi putih telor dadar. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Daeng Sikra #opini