Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Rahasia di Balik Lezatnya Kepala Ikan Bandeng Bakar di Sop Saudara

Beraupost • Kamis, 4 September 2025 | 16:50 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

KEPALANYA habis pak, kata karyawan yang bertugas membakar ikan. Tinggal ekor dan bagian tengahnya,ntambahnya. Kalau selain ikan bandeng masih ada. Baronang atau ikan putih.

Saya bertanya-tanya. Kenapa pelanggan ikan bakar di Warung Sop Saudara itu selalu memilih ikan bakar bandengn bagian kepalanya. Bagian itu yang habis duluan. Bagian tengah dan ekor, belakangan.

Kenapa bertanya? Harusnya bertanya pada diri sendiri? Kenapa selalu memilih bagian kepala? Iya ya. Bagian kepala itu mengasyikkan. Kalau kebetulan ikannya masih segar, menikmati bagian mata ikan paling nikmat. Pakai diisap berkali-kali.

Bagian kepala itu komposisi dagingnya tidak banyak. Apalagi ikan bandeng ukuran dewasa.

Entahlah, ada sensasi tersendiri selalu memilih bagian kepala bila mampir di warung Sop Saudara di Jalan AKB Sanipah. Pemiliknya Haji Malik.

Pernah menyaksikan bagaimana pengolahan ikan bandeng di salah satu channel YouTube. Lokasinya di Taiwan. Justru bagian kepala tidak dimanfaatkan.

Kadang sambil nonton, berkomentar sendiri. Loh, kenapa dibuang. Kan itu bagian yang paling nyaman?

Jadi maunya yang mana? Kata perempuan yang memakai celemek. Dia tengah hamil. Usia kandungan menurut pengakuannya jalan enam bulan.

Masih lincah membakar ikan dan membungkus. Saya pilih bagian tengahnya saja, kata saya.
Teman-teman penikmat ikan bakar, bila ke warung itu selalu memilih bagian tengah.

Alasannya, lemak di perut ikan enak rasanya. Saya justru sebaliknya. Kurang tertarik pada lemak ikan bandeng.

Kalau bagian ekor, diperlukan kehati-hatian. Di bagian ekor itulah terdapat banyak tulang yang kajung (kaku).

Urusannya panjang bila tertelan tulang ikan bandeng di bagian ekor itu. Sudah kajung, diujungnya bercabang pula. Seperti tulang ikan sappan.

Ada kisah kata SOP pada Sop Saudara itu, bukan arti sop sesungguhnya. Sop itu singkatan.

Menurut teman asal kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sop itu singkatan dari Saya Orang Pangkep (SOP). Sedangkan kata saudara, seolah meyakinkan pada orang lain.

Sofyan Hasdam, mantan Walikota Bontang yang sekarang menjadi senator (anggota DPD) asal Kaltim, setiap berkunjung ke Berau, yang dicari saya dan sop saudara. Pak Sofyan itu asli Pangkep, tempat lahirnya sop saudara.

Sambil menunggu sajian ikan bakar dan sopnya, Pak Sofyan mulai mengeluarkian jurus Alabiu (cerita lucu).

Jangan main-main dengan orang Pangkep, kata Sofyan Hasdam. Saudara saja disop, apalagi dengan orang yang bukan saudara, kata dia. Spontan pengunjung warung sop saudara tertawa.

Sop Suadara di Jalan AKB Sanipah itu, sudah mulai membuka cabang. Kata Haji Malik, untuk mendekati konsumennya di sekitar arah Bandara Kalimarau.

Jadi, ada tamu yang baru datang dan lapar, tidak perlu ke Jalan AKB Sanipah. Cukup ke cabangnya. Tak jauh dari taman makam pahlawan.

Di Makassar, tinggal memilih. Ada warung Sop Saudara hanya menyediakan sop dan nasi putih. Tidak ada ikan bakar.

Yang legend itu, jualannya di Jalan Irian. Sudah buka cabang di Jalan Petta Rani. Jadi, begitu tiba dari Bandara Hasanuddin dalam kondisi lapar, bisa langsung. Banyak yang khusus jualan ikan bandeng bakar.

Sama dengan rumus menikmati Coto Makassar. Sop Saudara plus ikan bakar bandeng, dinikmatinya sebelum jam 11.00 wita.

Sopnya masih segar dengan tambahan paru goreng. Pun ikan bandengnya masih lengkap. Termasuk bagian kepalanya. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra #opini