BERAU POST – Sebagian warga Kampung Harapan Jaya, Segah, terpaksa harus memanfaatkan sumber air seadanya untuk kehidupan sehari-hari.
Pasalnya, di kampung tersebut, hanya 1/4 rumah yang bisa menikmati air bersih. Sedangkan 500 kepala keluarga, harus bertahan dengan air tadah hujan atau air endapan sungai.
Kepala Kampung Harapan Jaya, Ali Samsirul, mengungkapkan bahwa sebenarnya jaringan pipa dan sambungan rumah (SR) sudah dipasang sejak lama.
Namun, masalah muncul ketika aliran air tidak berjalan lancar. Kondisi ini membuat banyak jaringan pipa dan SR warga mengalami kerusakan dan tak lagi bisa difungsikan.
“Dari total rumah tangga, baru sebagian kecil yang terlayani PDAM. Itu pun hanya di RT 1, RT 2, dan sebagian RT 4. Sisanya, sekitar separuh warga masih belum mendapat aliran, bahkan ada rumah-rumah baru yang sama sekali belum terpasang,” ujarnya.
Akibat minimnya pasokan air, sebagian besar masyarakat terpaksa mencari alternatif lain. Tidak sedikit yang akhirnya menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mencuci, mandi, hingga memasak.
Namun, penggunaan air sungai jelas mengandung risiko kesehatan, terlebih saat musim hujan ketika air keruh dan bercampur lumpur.
Menurut Ali, upaya perbaikan sebenarnya sudah sering dilakukan. Hanya saja, prosesnya terkendala oleh keterbatasan dana, jumlah personel teknis, hingga ketergantungan pada pasokan listrik dari PLN.
“Pernah mesin pompa yang digunakan untuk mengalirkan air tenggelam, dan sampai sekarang belum diganti,” bebernya.
“Padahal kapasitas mesin sangat berpengaruh terhadap distribusi air ke rumah-rumah warga. Kalau listrik mati, otomatis air juga tidak mengalir,” jelasnya.
Meski demikian, Ali menilai PDAM tetap berupaya merespons setiap laporan kerusakan yang disampaikan warga.
Namun, karena jumlah personel yang terbatas, penanganan di lapangan kerap tidak maksimal dan membutuhkan waktu yang lama.
Situasi ini membuat warga Harapan Jaya berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun PDAM.
Tidak hanya untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang rusak, tetapi juga melakukan perluasan jaringan pipa agar seluruh rumah tangga dapat menikmati akses air bersih.
“Terutama di RT 6 dan RT 7 yang hingga kini belum terjangkau layanan PDAM,” pungkas Ali. (aky/hmd)
Editor : Nurismi