SEJAK lama saya cermati. Disaat sesama anak muda domisili Teluk Bayur jumpa, mereka tidak menyebut nama. Saling sapanya hanya satu kata. Geng.
Di warung nasi kuning Bu Rita di Jalan H Isa III, kemarin, kata Geng itu saya dengar berulang kali.
Disaat Agus Uriansyah, anggota DPRD dari Partai Perindo, menghubungi telepon Jakaria, Ketua Partai Gerindra, yang saya dengar kata geng. Geng, ketemu di nasi kuning Jalan H Isa III, begitu kata Agus Uriansyah.
Tak lama, menelepon lagi dengan salah seorang. Di mana geng? Begitu pertanyaan Agus Uriansyah. Ayo merapat ke warung nasi kuning di Jalan H Isa III, kata Agus lagi. Lagi-lagi saya bertanya-tanya dalam hati. Mengapa lebih sering menyebut geng ketimbang nama seseorang.
Lalu, datanglah Jakaria dan Iswan, dua-duanya (yang saya tahu) domisili di Teluk Bayur. Pasti ada kesepakatan bersama dalam pergaulan sehari-hari. Khususnya mereka yang tinggal di Teluk Bayur.
Saya jadi penasaran. Sore harinya para geng Teluk Bayur, Agus Uriansyah, Jakaria dan Iswan bertemu lagi di IP kafe dekat lapangan basket.
Sapaan geng terulang lagi. Menjawab rasa penasaran, saya tanyakan ke Agus. Kenapa antara kalian bertiga atau bertemu sesama dari Teluk Bayur, memanggilnya geng. Ada historisnya kah?
Agus tidak langsung menjawab. Dia tersenyum. Kata geng itu memang maknanya sama dengan arti geng pada umumnya, kata Agus. Kami dulu di Teluk Bayur itu sangat kompak. Kompak mengurus olahraga. Juga kompak bila ada keributan.
Makanya, kami sepakati untuk menyapa sesama anggota, cukup satu kata saja. Geng. Lalu saya menambahkan geng Teluk Bayur. Kelompok yang hampir menguasai semua sektor kehidupan sosial di kecamatan yang jaraknya tidak terlalu jah dengan Tanjung Redeb.
Sekarang mereka sudah berusia di atas 40 tahun. Kekompakan itu belum kendor. Semangatnya juga begitu. ‘Pengelahiannya' pun sama. Tak lagi total mengurusi olahraga. Ada generasi yang lain. Mereka cenderung terjun ke dunia politik dan bisnis.
Saya masih menyaksikan bagaimana kompaknya mereka. Setiap sore, mereka berkumpul di lapangan sepakbola Steinkolen. Lapangan yang menjadi saksi perjalanan kejayaan Teluk Bayur. Teluk Bayur lebih dulu maju dibanding Tanjung Redeb.
Teluk Bayur lebih dulu menikmati air PDAM yang bersih dan jernih. Teluk Bayur lebih dulu menikmati listrik yang tak pernah biarpet.
Ada tiga nama tokoh anggota geng yang sudah meninggal dunia. Almarhum Zulkifli, almarhum Barni, dan almarhum Edy Jumantara. Ketiganya adalah aktor intelektual.
Di Lapangan Sepakbola Steinkolen peninggalan Belanda itu, para anggota geng itu berembuk. Berembuk mencari dana untuk mendukung tim sepakbola. Berembuk ketika mendukung almarhum Masdjuni, tampil sebagai bupati Berau.
Pun di lapangan itu, merencanakan melakukan aksi pada salah satu perusahaan. Lapangan bola itu jadi saksi atas semua rencana aksi para geng.
Tugas saya hanya jadi peninjau, kala masih aktif sebagai wartawan. Ke Teluk Bayur, selain jumpa dengan anggota geng Teluk, juga mengunjungi kuliner yang terkenal, gado-gado yang topping ada udang galah goreng.
Atau sekadar bertemu almarhum Soehartono Soecipto yang waktu itu sebagai ketua KNPI sekadar berbincang akan kemajuan daerah. Bertukar pikiran.
Juga membahas bagaimana agar Teluk Bayur makin maju ke depan. Tokoh lainnya almarhum guru Muris, sering jadi partner diskusi.
Geng Teluk Bayur hidup lagi. Tampil dengan versi baru. Tidak lagi melakukan aksi protes. Tidak lagi jadi tim sukses Pilkada (tunggu tahun 2029).
Sekarang berfikir bagaimana aktif dalam dunia bisnis. Bersaing dengan pebisnis asal luar Berau. Yang pasti geng Teluk Bayur bukanlah Geng Solo. (sam)
@daengsikra.id