Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Cerita di Balik Upacara HUT RI di Berau: Pengalaman Unik Bertemu Sultan dan Tokoh Hebat

Beraupost • Senin, 18 Agustus 2025 | 20:02 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

SEORANG raja yang baik, adalah pelayan bagi rakyatnya. Begitu kata bijak. Kali ini saya mendengar langsung nasihat seorang sultan pada anak usia muda.

Saya hadir pada perayaan HUT Proklamasi ke-80 di Lapangan Pemuda. Hadir karena menerima undangan. Memilih dress code baju batik. Bukan stelan jas lengkap dan berdasi.

Masuk melewati pintu utama. Ada karpet merah terpasang. Ada jejeran purna paskibraka yang jadi pagar ayu.

Disambut teman wartawan dan petugas protokol. Bersama mereka, pernah dapat tugas mengurus kegiatan besar di Lapangan Pemuda. Lumayan lama. Tujuh tahun. Meliput kegiatan lebih lama lagi.

Datang lebih awal, agar bisa bertemu dan berbincang dengan teman-teman. Panitia sudah mengatur di mana kursi yang harus ditempati. Di sayap kiri panggung kehormatan. Kursi plastik berbalut kain satin putih. Sandaran kursi ada tulisan ‘Daeng’. Hehe. Itu bukan saya.

Duduk pada jejeran kursi paling belakang. Berdekatan dengan empat orang duta wisata yang cantik dan ganteng. Berdekatan dengan teman yang pernah tercatat sebagai ASN. Sama-sama sudah berambut putih.

Nunasa merah putih terlihat dari busana yang dikenakan undangan. Dilengkapi hijab warna merah serasi dengan pakaiannya. Dekorasi tribune Lapangan Pemuda, hanya ada dua warna yang menutupi langit-langit bangunan.

Ada barcode yang sengaja ditempelkan di beberapa tempat. Maksudnya, agar siapapun yang memerlukan akses untuk mendapatkan foto-foto bisa dilakukan dengan mudah. Termasuk bagi wartawan. Maksudnya, agar tidak ‘begelumuk’ lagi di depan tribune. Kerja yang hebat.

Di jejeran kursi terdepan, ada Pak Makmur dan Pak Rifai. Duduk berdampingan. Seperti sudah diatur.

Dua figur hebat ini, pernah memimpin Berau dua periode selaku bupati dan wakil bupati. Teman saya melihat pemandangan yang tidak biasa itu, langsung mengabadikan. Dokumentasi penting.

Cuaca membuat peserta upara dan ratusan warga yang berjejer di sisi lapangan menjadi betah. Menyaksikan detik-detik proklamasi maupun prosesi penaikan bendera merah putih. Semua berjalan lancar.

Ada cerita yang sempat saya dengar, ada insiden kecil. Pembawa baki bendera, mengalami cedera ringan. Ada baut yang lupa dibersihkan di daerah yang dilewati. Kaki sang pembawa bendera terluka. Itu cerita teman-teman wartawan yang melihat kejadian itu.

Semua berjalan lancar. Tak ada peserta maupun pasukan pengibar bendera yang ‘siup’ di lapangan.

Ending seperti ini yang menjadi tujuan. Bila semua berjalan lancar, akan ada suara tangis dan air mata. Khususnya bagi pengibar bendera yang sudah latihan berminggu-minggu. Haru.

Saya tidak beranjak dari tempat duduk hingga upacara selesai. Hanya ada sekali kesempatan ikut foto bersama dengan teman-teman pejabat eselon dua.

Foto di atas karpet merah bersama Sultan Sambaliung, Datu Amir Radja Muda Perkasa. Beliau adalah putera seligus penerus Sultan Muhammad Aminuddin sultan Sambaliung ke-8.

Tampil dengan busana kebesaran berwarna putih. Ditangannya, memegang pedang yang saya yakin usianya sudah cukup tua. Beliau menyapa saya dan mengajak foto bersama. Kami memang sudah lama saling kenal.

Pada satu kesempatan, dengan serius saya sampaikan keinginan berguru dengan beliau. Berguru apa saja. Termasuk kehebatan menjinakkan ular. Beliau ketawa.

Menatap mata saya dengan tajam. Kandia (nanti) kau kuberikan, kata beliau waktu itu. Saya tersenyum mengangguk.

Padahal, rencananya sudah mau meninggalkan tempat upacara. Banyak warga yang mengajak foto bersama.

Maklum, suasana seperti itu hanya ada sekali dalam setahun. Dengan senang hati memenuhi permintaan itu.

Saya pada jarak yang sangat dekat. Sultan mendekati para purnah paskibraka yang betugas sebagai pagar ayu.

Beliau memberi pesan-pesan bermakna. Kalian adalah generasi penerus, tanamkan nilai-nilai perjuangan di hati kalian, begitu nasihat Sultan. Kalian adalah calon pemimpin masa depan, tambahnya.

Lalu, sultan berbalik ke arah saya. Beliau memandang lagi. Senyumnya yang khas. Saya fikir akan ada ucapan memenuhi janjinya dulu. Menunggu kalimat ‘Kau ke rumah’.

Kami lalu bersalaman. Pun dengan permaisuri. Di karpet merah itu, kami berpisah. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Daeng Sikra #opini