KITA maco Daeng? Begitu pesan WA teman yang kerja di kantor Disbudpar. Teman yang dulu sama-sama satu tim. Saya pikir teman saya itu setengah menyindir.
Saya baru dengar sebutan itu. Yang ada dalam pikiran, maco dengan tulisan macho yang menggambarkan perilaku seseorang.
Kalau maksudnya itu, teman saya sudah pandai berolok-olok. Dulu mungkin bisalah disebut macho. Sekarang kan tidak maskulin lagi, Hehe.
Rupanya, kawan saya itu sering menyingkat kata. Maco dalam ajakannya itu, makan coto (Maco). Coto Makassar teratai di Jalan Pulau Derawan.
Hanya beberapa puluh meter dari kantornya. Saat masih berkantor di Jalan Pulau Panjang, selalu ada agenda kulineran.
Walau sudah lama tidak kumpul seperti dulu, terkadang rindu itu datang tiba-tiba. Rindu saling bercanda. Rindu minum kopi di depan kantor Bank Mandiri, sambil diam-diam mengambil gambar gadis yang asyik menikmati pentol goreng.
Hiburan seperti itu yang membuat kami tak pernah putus komunikasi. Bisa saja di grup WA pagi-pagi, hanya ada sapaan selamat pagi Daeng. Sambil menampilkan segelas kopi dan sebungkus rokok di samping gelasnya.
Saya lebih dulu tiba di Warung Coto Makassar. Biasalah, ngobrol dengan penjualnya yang sebangsa dan setanah air. Saya juga dulu mantan penjual coto. Tempat jualan saya di Warung Kopi Maju, Jalan Panglima Batur di Samarinda.
Lama tidak kelihatan Daeng, kata penjualnya sambil melayani pembeli. Betul, beberapa bulan ini saya tidak pernah muncul di warungnya. Setahu saya, warung coto itu lama tidak berjualan. Kabarnya sedang menunaikan ibadah haji.
Saya pesan bagian yang tidak terlalu keras. Bagian lidah, limpah, dan paru goreng.
Pengunjunnya lumayan ramai. Jamnya santap siang. Duduk berdekatan dengan satu keluarga yang tinggal di Kampung Batu Putih. Baru dua tahun domisili disana setelah meninggalkan kampung halamannya Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.
Teman saya yang mengajak Maco datang juga. Dari pintu masuk sudah senyum-senyum. Saya pesan campur saja, kata dia.
Maksudnya, semua jenis jeroan jadi satu. Sepertinya teman saya itu punya resep anti gemuk. Dari dulu tetap langsing.
Walau sudah hampir sebulan berlalu, saya berceritalah pengalaman religi saat menjalankan ibadah umrah.
Termasuki bercerita kalau pesanan permata merah, membuat teman yang sama-sama berangkat umrah berkeliling Mall Bindawood, Makkah. Mencari permata merah.
Biasanya kami duduk sedikit berlama-lama. Bercereita soal kesibukan sehari-hari. Soal bagaimana rasanya selama menempati kantor yang full AC.
Antrean pengunjung berdiri di depan pintu masuk. Saya memilih untuk berdiri biar tempat duduk bagi tamu yang datang.
Bayar pake keris (QRIS) kata penjualnya sambil senyum-senyum. Ini pasti setengah meulu-ulu (olok-olok).
Padahal dia tahu kalau selama Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) itu digunakan dalam transaksi, saya tidak pernah punya. Saya selalu membayar tunai. Dimana-mana, termasuk saat di Warung Coto Makassar.
Soal QRIS ini, saya jadi ingat, kemrin sore di pojok jalan. Ngobrol dengan tukang jahit sepatu tak jauh dari Masjid At Taqwa. Tiba-tiba ada ibu-ibu naik motor mendekati lapak tukang jahit sepatu itu. Mau mengambil sepatu yang diantar dua hari sebelumnya.
Ada keris maksudnya QRIS? Kata Ibu-ibu itu. Saya tidak bawa bu, keris saya simpan di rumah, kata tukang jahit sepatu namanya Jebbar.
Ibu-ibu itu ketawa. Soalnya saya tidak bawa uang kontan, tambahnya. Dia pun berlalu menuju ATM bank BRI unit Kelay yang jaraknya hanya dua ratus meter.
Menyodorkan uang kertas warna merah. Jebbar memberikan angsuran tiga lembar uang pecahan dua puluh ribuan. Apa itu keris (QRIS) Daeng? Tanyanya. Saya jawablah sepanjang yang saya tahu. Walaupun, saya juga tak punya aplikasi QRIS.
Tiba di rumah setelah Maco, masih terasa kenyang. Semangkuk coto dan dua biji ketupat berukuran besar.
Lumayan, bisa mengganjal perut hingga malam hari. Dan, tidak lupa satu biji kapsul omega-3 buat antisipasi. Hehe. (sam)
@daengsikra.id