MUSABAQAH Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Provinsi Kalimantan Timur ke-45 sudah usai diselenggarakan sepekan yang lalu. MTQ kali ini dilaksanakan di Kabupaten Kutai Timur setelah sebelumnya kota ini menjadi tuan rumah 11 tahun silam. Momentum MTQ kali ini menjadi penting setelah Kaltim meraih juara umum pada MTQ Nasional 2024 lalu. Pasca-MTQ nasional, Kaltim memasuki sejarah baru. Sebab mempertahankan prestasi jauh lebih sulit daripada meraihnya pertama kali.
Bagi Kabupaten Berau, MTQ kali ini membawa harapan baru setelah berhasil menaikkan satu peringkat kejuaraan dari tahun sebelumnya pada peringkat ke-8 di Balikpapan. Mari bernostalgia sejenak, tahun 2006-2008, daerah ini pernah menjadi petarung andal yang berhasil meraih juara umum tiga tahun berturut-turut. Hal itu sekaligus mencetak rekor baru dalam dunia per-MTQ-an yang belum pernah ditorehkan oleh kabupaten/kota lainnya. Jika dahulu pernah berjaya, maka mengapa kini jadi tak berdaya?
Adanya perubahan konstelasi politik dan ekonomi secara nasional yang juga bersinggungan dengan provinsi Kaltim dapat jadi pemantik untuk melihat kembali dinamika MTQ di Benua Etam. Secara geografis, kondisi Kaltim hari ini jauh berbeda dengan satu dekade yang lalu. Apalagi setelah ditunjuk menjadi Ibu Kota Nusantara yang baru.
Karenanya, MTQ tahun ini mempunyai beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan. Menjadi poin awal, tulisan ini dibuat tidak untuk menyudutkan satu pihak, tetapi sebagai bahan evaluasi menyeluruh agar tujuan penyelenggaraan MTQ dapat terwujud.
Pertama, tonggak awal digitalisasi per-MTQ-an di Benua Etam. Tampaknya, setelah Kaltim menjadi tuan rumah, ada semangat lebih untuk merawat ritme musabaqah. Salah satunya dengan mengadopsi E-MTQ pada perhelatan MTQ Tingkat Provinsi Kaltim kemarin di Kutim. Mulai dari pendaftaran peserta, pengambilan maqra (E-Maqra) hingga penilaian yang bersifat digital (E-Scoring). Bukan hanya itu, bahkan desain dan fasilitas penunjang di setiap arena pun sudah diatur selevel MTQ nasional.
Digitalisasi pada saatnya adalah keharusan. Ketika zaman sudah berubah, transformasi wajib dilakukan. Namun, menjadi perhatian di samping mendigitalkan semua sistem dan perangkat, pola pikir penyelenggaranya pun harus mapan dengan dunia digital. Hal ini juga menjadi tantangan, karena ada gap generation dalam MTQ. Bagi dewan hakim senior, terutama yang berasal dari baby boomers, cukup kesulitan beradaptasi dengan penilaian digital. Di sinilah pelatihan sertifikasi dewan hakim perlu makin sering diselenggarakan.
Selain itu, digitalisasi juga mengharuskan keterbukaan, akuntabilitas dan komunikasi efektif dalam setiap kegiatan. Mulai dari awal kegiatan, semua terbuka dan terpusat pada satu pintu: digital. Tidak bisa lagi menggunakan cara lama, peserta titipan atau terlambat mengumpulkan data peserta. Siapa saja yang tidak bergerak cepat dengan teknologi akan ditinggalkan. Apalagi pada level penilaian. Semua terbuka dan perlu penilaian obyektif. Sebab semua orang dapat melihat secara langsung penampilan dan membandingkannya dengan penilaian yang tertera di halaman website. Bagi mereka yang mempunyai keilmuan, akan bisa membandingkan penilaian yang benar dan tidak berdasarkan penampilannya.
Kedua, MTQ Nasional kemarin juga menjadi awal baru Kaltim menorehkan prestasi. Tak tanggung-tanggung, Kaltim menjadi juara umum. Namanya musabaqah, perlombaan, tentu mengejar prestasi sebaik mungkin. Tuan rumah, bagaimana pun juga, mempunyai kelebihan untuk mengejar prestasi tertinggi. Hal ini dapat dilihat dari prestasi yang diukir oleh tuan rumah MTQ. Seringnya memeroleh juara umum atau paling tidak meraih tiga besar. Tahun 2006 pun Berau menjadi juara umum di kandangnya sendiri. Kemudian berlanjut selama tiga tahun berturut-turut.
Secara umum, kesuksesan pelaksanaan MTQ itu bersinergi antara ulama, umara dan umat. Ulama disimbolkan dengan Kementerian Agama dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ). Umara yakni pemerintah yang dalam hal ini berkaitan dengan bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra). Satu yang fokus pembumian dan pembinaan dan yang lain menyasar pendanaan.
Melatih tanpa finansial hanya akan menambah letih dan rintih. Sebaliknya, dana yang melimpah tanpa keberlanjutan pelatihan, hanya akan jadi ajang penghabisan anggaran. Daerah mana saja yang sukses penyelenggaraannya, pasti punya manajemen hebat dalam keduanya. Ulama perlu bekerja sama dan mengetahui regulasi yang dibuat pemerintah. Sebaliknya, umara pun perlu menjiwai dan menghayati nilai-nilai keagamaan secara utuh.
Ditambah lagi, MTQ makin berjaya tatkala kian menjamur rumah Al-Quran, TPA/TPQ, pesantren dan lembaga pendidikan yang membumikan Al-Quran. Inilah kekuatan civil society, the power of ummah. Banyak di antara guru Al-Quran tersebut yang bergaji kecil atau bahkan tak berbayar, tetapi berkat merekalah muncul generasi baru hamilul Quran. Mereka inilah golongan yang asing di dunia, viral di langit.
Di bagian pendidikan Al-Quran inilah, MTQ mempunyai peran penting sebagai upaya mengedukasi umat untuk lebih dekat dengan Al-Quran. Ini adalah poin ketiga, edukasi kitab suci. Sayangnya, edukasi ini sering kali hanya berlangsung ketika musabaqah akan berlangsung. Biasanya berjalan 2-3 bulan sebelum kegiatan. Berkaca pada kesuksesan MTQ Nasional kemarin, pembinaan peserta sudah dilakukan sejak satu tahun sebelumnya. Dengan mengundang pelatih nasional dan training secara intens dan kompetitif.
Hal ini menjadi aspek penting dalam persiapan dan pembinaan pra-MTQ. Upaya pendidikan Al-Quran dengan segala cabang dan keahliannya perlu terus dilakukan, ada atau tidak perhelatan MTQ. Dengan pendidikan yang konsisten akan menghasilkan qari-qari’ah yang mumpuni dan dapat bersaing di ajang kompetisi. Inilah poin keempat bahwa memang substansi musabaqah adalah kontestasi, perlombaan. Namun, berbeda dengan ajang lainnya yang sebatas mengejar kejuaraan. Misi ber-musabaqah seharusnya lebih tinggi daripada itu.
Fastabiq al-khairat, berlomba-lomba dalam menghidupkan kebaikan. Inilah semangat ber-musabaqah. Bukan kejuaraan yang ditonjolkan, tetapi syiar kebaikannya. Karenanya melalui momentum MTQ Nasional dan Provinsi yang baru selesai diselenggarakan, dapat memberikan semangat baru bagi warga Kaltim, khususnya Kabupaten Berau dalam memaknai MTQ. Bahwa memang benar itu kontestasi, tetapi yang dilakukan bukan semata mengejar prestasi dunia. Yang terpenting justru prestasi akhiratlah yang hendak diraih.
Mohon maaf, boleh jadi di mata Tuhan, mereka yang tidak juara di musabaqah, tetapi punya niat tulus ikhlas lebih baik daripada yang suaranya merdu dengan tujuan ketenaran duniawi semata. Ini kaidah dasar dalam urusan agama.
Oleh karena itu, dapat dipahami spirit musabaqah dengan empat poin, yaitu edukasi, prestasi, kontestasi dan digitalisasi. Keempat itu harus bersinergi untuk menghasilkan MTQ yang berkualitas. Wabil khusus, dalam dua tahun ke depan, kota sanggam ini akan menjadi tuan rumah perhelatan MTQ tingkat Provinsi Kaltim. Akan sangat terlambat untuk mengagendakan empat poin tersebut pada 3-4 bulan sebelum pelaksanaan. Butuh pembinaan juga pendanaan yang besar dan masif untuk mempersiapkannya.
Menyongsong MTQ Provinsi, kabupaten ini perlu berbenah secara totalitas. Baik Kemenag dan LPTQ, Bagian Kesejahteraan Rakyat juga civil society, perlu jalan bersama. Akankah prestasi dua dekade silam dapat terulang kembali? Mampukah pendidikan Al-Quran di bumi Batiwakkal melahirkan generasi Qur’ani terbaik yang dapat berkompetisi? Untuk menjawab itu, butuh aksi nyata, bukan sebatas kata-kata. (*)
*) Rahmatullah, M.A, Dosen UINSI Samarinda, Peserta KTIQ Kabupaten Berau 2014-2018.