BERAU POST – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKB3A) Berau, menyatakan dukungannya terhadap wacana penerapan jam malam khusus untuk anak-anak dan remaja usia sekolah.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk tindakan preventif, guna membangun kesadaran akan pentingnya perlindungan anak sejak dini.
Kepala DPPKB3A Berau, Rabiatul Islamiah, menegaskan bahwa penerapan jam malam sejalan dengan prinsip perlindungan anak yang menekankan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
“Kami sangat mendukung penerapan jam malam bagi anak dan remaja,” katanya.
“ini bukan semata pembatasan, melainkan upaya untuk mengarahkan anak-anak agar memiliki rutinitas yang sehat dan merasa lebih aman berada di rumah, terutama pada malam hari,” lanjut Rabiatul, Rabu (23/7).
Menurutnya, keluarga memiliki peran vital sebagai benteng utama dalam perlindungan anak. Pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak, terutama di luar rumah, dinilai semakin longgar di era digital saat ini.
“Sekarang ini, dengan kemudahan teknologi, orang tua seharusnya lebih mudah memantau keberadaan anak. Tapi sayangnya, banyak yang justru abai. Pengawasan dan kepedulian dari orang tua harus diperkuat kembali,” tegasnya.
Rabiatul menyebut bahwa perilaku anak dan remaja di luar rumah pada malam hari kerap menjadi sumber kekhawatiran.
Terutama jika sudah berkumpul dalam kelompok tanpa arah kegiatan yang jelas. Dari situlah muncul risiko penyimpangan seperti kebut-kebutan, perkelahian, bahkan terjerumus ke pergaulan bebas.
Guna menerapkan jam malam secara efektif, DPPKB3A mendorong sinergi antarinstansi, Sekolah diharapkan ikut memberikan edukasi mengenai aturan jam malam kepada siswa.
Sementara OPD lain diminta aktif melakukan patroli malam dan mengarahkan anak-anak yang masih berkeliaran agar segera pulang ke rumah.
“Penerapan jam malam ini tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja. Kita butuh dukungan konkret dari sekolah, aparat penegak perda, dan tentunya masyarakat,” katanya.
Ia juga mencontohkan program yang sudah berjalan, seperti edukasi persuasif setiap Jumat, di mana anak-anak yang terlihat berkeliaran diarahkan untuk menuju masjid.
Menurutnya, upaya ini harus dibarengi dengan pendampingan orang tua agar anak-anak tetap melanjutkan kegiatan positif setelahnya.
“Kita tidak ingin anak-anak hanya mampir ke masjid lalu setelah itu malah balapan liar di jalan. Ini perlu pengawasan berlapis, dan bila perlu libatkan aparat kepolisian untuk menciptakan rasa aman,” tegasnya.
DPPKB3A mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat, untuk aktif menciptakan lingkungan sosial yang suportif terhadap perkembangan mental dan emosional anak-anak.
“Anak-anak tidak bisa dibesarkan sendirian. Dibutuhkan dukungan dari semua pihak. Jangan pernah merasa ‘bukan anak saya’, karena anak-anak yang kita biarkan hari ini bisa jadi masalah sosial kita bersama di masa depan,” pungkas Rabiatul. (aky/hmd)
Editor : Nurismi