UYUH Pak Daeng, kata Huldi, wartawan media online Samarinda yang sama-sama umrah. Sejak di Madinah sedikit waktu istirahat.
Dia tidak tahu. Yang usianya kepala tiga saja keuyuhan. Hehe, apalagi yang kepala enam.
Ke Makkah tidak lagi capek naik bus berjam-jam. Ada kereta cepat khusus melayani haji dan umrah serta warga. Di Indonesia ada kereta, saya belum pernah menikmatinya. Justru di Madinah bisa naik kereta cepat.
Tiba di Makkah jelang Magrib. Tak lama istirahat. Setelah santap malam di Hotel Pullman, lanjut menuntaskan prosesi umrah. Semua tuntas hingga tengah malam.
Ujar pang sepi, kata teman yang wartawan dari Samarinda. Dia membandingkan suasana jemaah umrah dengan musim haji yang baru berakhir beberapa pekan lalu. Kadara sepinya wal, kata saya.
Ada penjelasan tour guide usai menyelesaikan tawaf dan sa'i. Bahwa sekitar tempat kami menginap itu ada eskalator yang lagi viral di medsos. Bisa itu kita lihat-lihat, kata saya.
Kemarin, usai sarapan melakukan perjalanan ke tempat-tempat bersejarah. Mulai dari bukit tempat hijrahnya Nabi Muhammad SAW, hingga ke Jabal Rahma.
Tidak ke bukit. Hanya di halaman. Luas sambil menyaksikan dari kejauhan. Banyak jemaah umrah yang memilih berjalan hingga ke puncak.
Di kawasan Padang Arafah, belum sepenuhnya dibersihkan. Masih nampak sisa sisa sampah. Kecuali di Mina, terlihat tenda permanen. Tempat di mana jemaah haji asal Indonesia ditempatkan.
Ada yang manarik usai melaksanakan umrah. Ada banyak orang mendekati jemaah laki-laki. Botak pak, hanya 15 riyal kata mereka. Kayaknya dia ditugaskan cari orang.
Sebetulnya, saya berniat cukur botak juga. Ingat teman saya Cecep dan Junaidi. Karena keuyuhan lawan ngantuk-ngantuknya.
Tengah malam, teman yang dari Samarinda, tiba di kamar sambil. Ngomel. Dia cukur botak. Tidak rapi.
Mungkin buru-buru, ada bagian kepalanya yang terluka. Ada tiga tensoplas me lengket di kepalanya yang botak. (sam)
@daengsikra.id