BILA diurut apa saja yang dibeli oleh jemaah umrah selama di Makkah dan Madinah, kurma tidak lagi menempati posisi teratas.
Ada tempat berbelanja yang padat pengunjung berada tak jauh dari hotel, di mana jemaah bermalam. Pintu masuknya artistik. Di bawah permukaan.
Kata tour guide harganya serba SR1. Ternyata harga itu hanya untuk pernak-pernik. Jenis lainnya tergantung kepandaian tawar menawar.
Yang menarik, hampir semua jemaah yang datang berbelanja, pasti membeli cokelat Dubai.
Ukuran besar harganya SR200. Kalau beli lima biji, lumayan jua, kata teman yang domisili Balikpapan.
Ada pilihan lain. Dengan rasa dan kemasan yang sama, harganya lebih murah. Kemasannya dibuat mini. Ukurannya 4x4 sentimeter. Harganya? SR1 perbukitan. Beli satu kilogram SR50 isinya pun sekitar 50 biji. Jenis ini yang banyak dibeli.
Saya juga ikut membeli 1 kilogram. Ini ada pesanan khusus anak saya. Katanya yang dibeli di Makkah atau Madinah.
Rasanya memang enak. Saya tidak bisa membandingkan dengan cokelat Berau. Belum pernah mencicipi.
Soal cokelat Dubai ini luar biasa populernya. Memang karena rasa maupun nama Dubai yang cepat dikenal di seantero dunia.
Tahan kah dibawa bulik lah? Tahan saja yang. Penting kemasannya tidak robek.
Beberapa tempat yang memiliki riwayat sejarah, kemarin jadi agenda wisata religi di Madinah.
Selain mengunjungi Masjid Quba, juga melihat Jabal Uhud. Ada petunjuk yang menyebut Jabal Uhud sebagai kawasan pertempuran.
Dari Jabal Uhud, lalu melihat perkebunan kurma. Tak jauh beda dengan kawasan perkebunan kelapa sawit di berau.
Ada tempat pemberhentian dalam. Kawasan itu menawarkan berbagai jenis kurma. Saya tidak beli, hanya umpat merasai.
Setelah empat hari di Madinah, hari selasa kemarin saya dan rombongan umrah Travel Payung Madinah bergerak menuju Makkah. (sam)
@daengsikra.id