Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Burung Behilangan

Beraupost • Jumat, 27 Juni 2025 - 14:10 WIB

Daeng Sikra
Daeng Sikra

ZULIANSYAH, sahabat saya. Saat masih aktif ASN, dia pernah bertugas di kantor perizinan. Kantor yang juga mengurusi pendapatan dari berbagai sumber. Salah satunya pendapatan pajak sarang burung walet.

Di Kafe Mama Jalan Durian kemarin malam, komunitas Warung Pojok berkumpul di sini malam hari.

Sejak Warung Pojok memutuskan tidak lagi membuka layanan malam hari. Pertemuan yang kesekian kalinya.

Ada saja tema yang dibahas. Kalau malam-malam sebelumnya membahas soal bagaimana perkembangan perkebunan kelapa sawit, di tengah hujan lebat kemarin malam itu, temanya bergeser soal srang burung walet.

Tapi, bukan berapa besar penghasilan Pemkab dari komoditas ini.

Seumur hidup tidak bisa kulupakan Daeng, begitu kata Zuliansyah. Dia bercerita bagaimana nekadnya mengunjungi salah satu goa sarang walet yang lokasinya sangat ekstrem.

Namanya Goa Ranggasan. Ada juga yang menyebut goa Heli.
Goa Ranggasan ini sejak dulu dikenal menjadi primadona penghasil sarang burung walet.

Lokasinya jauh di daerah pedalaman. Di gunung batu yang taruhannya nyawa, bila bermaksud mendaki.

Aku nekat Daeng, kata Zul. Dia dapat perintah khusus untuk bisa mendapatkan dapat ril di lapangan.

Sebab, selama ini ada dugaan, penggelapan jumlah hasil sarang burung. Saya tahu bagaimana ekstremnya tempat itu, kata Zul. Tapi tetap saja dia mau melihat langsung.

Dia pun menggambarkan, bagaimana perjalanan dua hari dua malam. Perjalanan dengan berjalanan kaki. Muli dari Kampung Merapun. Mendaki Gunung Sitepu.

Dua hari dua malam berjalan itu, belum sampai di lokasi Daeng, tambahnya. Masih harus berjalan lagi setengah hari.

Jalan setapak dengan posisi miring. Lengah sedikit, bisa terjatuh dan tidak ada lagi harapan hidup, ungkapnya. Malam hari tidur di celah-celah batu beralaskan tas kresek.

Menu makanan pun apa adanya. Yang penting ada isi perut.

Perjalanan tanpa membawa beban apapun. Semua persediaan makan dan minum serta peralatan memasak, khusus dibawa oleh potter. Potter yang diperankan oleh warga kampung yang sudah terbiasa melewati jalan terjal.

Akhirnya sampai juga. Pas disaat petugas penjaga goa sarang burung melakukan panen. Ada rasa sedih melihat kondisi di lapangan.

Burung yang ribuan bahkan jutaan itu, terbang bersamaan baik yang masuk dan keluar muara goa.

Ada yang tabrakan di udara. Ratusan ekor burung walet yang mati tiap hari terlihat di sekitar mulut goa.

Dia sempat bersitegang dengan penjaga goa. Maksudnya, agar laporan jumlah panen tidak usah disampaikan pada angka yang ril. Aku kada mau diajak nego, ungkapnya.

Dia hanya menyampaikan, bahwa setelah ditimbang tahu hasil sesungguhnya. Soal perubahan banyaknya jumlah hasil panen itu terserah saja.

Hasilnya berton-ton, kata Zul. Dari hasil nyata itu, dia laporkan ke kantornya. Selebihnya, bagaimana kantor mengambil kebijakan dalam pengenaan pajak.

Saya juga punya pengalaman masuk ke goa sarang burung. Nama goanya Putallak, di daerah suaran. Ekstrem juga, tapi tidak seekstrem Ranggasan.

Kalau dulu, pendapatan asli daerah dari sarang burung, cukup besar. Sekarang tidak bisa diharap lagi.

Konon, dari target sekitar Rp 1 miliar lebih, hingga bulan Juni baru terkumpul sekitar Rp 30 juta. Itu termasuk sarang burung rumahan.

Kemana hilangnya burung walet itu? Tak ada yang bisa menebak. Goa alam tempatnya membuat sarang, kabarnya juga sudah berkurang drastis.

Atau barangkali bukan karena burungnya menghilang?

Tapi, perlu lagi dilakukan investigasi ke lapangan. Ada yang berani ke Goa Ranggasan atau Goa Cimanis? Kalau disuruh lagi, aku kada sanggup lagi, kata Zuliansyah. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Berau Post #Daeng Sikra #opini