Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Kotak Wasiat

Beraupost • Kamis, 26 Juni 2025 - 15:45 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

CERITA bujurankah? Tanya saya dengan Oetomo Lianto (Aliang) di Warung Hokky, kemarin. Serius, ini cerita benar yang saya dapatkan dari komunitas warga Tionghoa, ungkapnya.

Ada tamu istimewa di Warung Hokky. Pak Edy Suswanto, berpangkat Brigjen Pol (purn). Suami dari Sri Juniarsih, bupati Berau.

Dia lebih dulu datang. Saya menyusul setelah ada panggilan lewat WA dari Aliang, Diminta bergabung, biar ngobrolnya lebih berwarna.

Saya tahu, kalau Pak Edy belakangan sangat sibuk. Sedang menggagas even sport tourism. Kami ada kegiatan lomba menembak, kata Edy. Selain ingin memperkenalkan olahraga menembak.

Dia juga punya target, bahwa Berau memiliki fasilitas untuk cabang olahraga itu.
Dengan pergelaran lomba menembak, akan banyak warga dari luar daerah yang datang.

Akan banyak memberi dampak positif, ungkapnya. Ia menjelaskan, kalau pesertanya 180 orang dari Kaltim dan Kaltara.

Mereka ini kelak akan bercerita soal Berau. Mulai dari makanan, hotel, hingga lokasi wisatanya, tambahnya.

Rencananya, lomba menembak itu berlangsung hari Kamis (hari ini) di lapangan menembak di kampung labanan dan di halaman kantor Brimob, Rinding. Semua peserta sudah datang.

Dan, malam ini (tadi malam) kami akan menggelar wellcome party, kata Edy.

Ada tugas lain yang diemban, dan tak kalah membutuhkan waktu dan perhatian. Beberapa bulan lalu, dilantik sebagai ketua Dekranasda.

Tugas ini juga lebih menantang lagi, ungkapnya. Bagaimana menggairahkan semua potensi yang ada di daerah, terkait dengan kerajinan. Ini juga sebagai penunjang pariwisata, tambahnya.

Ada satu lagi, kata Edy. Sekali-sekali saya mau ikut dengan mereka yang hobi memancing di laut. Memancing santai saja.

Tidak usah di kedalaman laut di atas 70 meter. Cukup di depan Pulau Rabu-Rabu. Dapatnya ikan putih sebesar telapak tangan dan tidak usah bermalam. Pergi pagi, pulang sore sudah cukup.

Jumpa di Warung Kopi Hokky di Jalan Niaga bersama Aliang ada hal istimewa. Saya, Aliang dan Edy sama-sama usia di atas 50 tahun.

Kita harus sering-sering jumpa di warung kopi, kata Aliang. Sebab, banyak hal yang bisa dibicarakan dengan santai, justru hasilnya lebih memuaskan.

Saya menikmati segelas teh susu. Pak Edy kopi tak bergula dan telur setengah masak. Tak lupa kue pia, olahan rumah yang rasanya bikin nagih.

Aliang sesekali melihat pesan WA di teleponnya. Anak dan cucu sudah minta pulang, kata Aliang.

Mereka sedang liburan ke Australia, kata Aliang. Dengan cuaca yang sekarang ini, tidak membuat perjalanan jadi nyaman. Tak salah bila mereka minta pulang lebih awal.

Salah satu anak Aliang yang liburan itu, pernah kuliah di sana. Tidak perlu guide untuk kemana-mana.

Aliang pun bercerita berbagai pengalamannya liburan di luar negeri. Terus terang, saya paling suka dan sangat menikmati liburan di New Zealand, kata Aliang.

Keliling kota dengan bus, disuguhkan pemandangan indah. Udaranya segar. Malam lebih banyak di rumah, karena semua tempat berbelanja tutup.

Hampir seluruh negeri belahan dunia sudah saya kunjungi. Saya sudah sampai ke Alaska, kata Aliang. Ia pun berceritea pengalamannya liburan di kota San Fransisco.

Menurutnya, kota itu diberi nama oleh imigran Tionghoa. Yang artinya, kota pegunungan. Aliang menyebut ucapan dalam bahasa mandarin.

Dia pun berderita. Ada warga Tionghoa yang miskin di kampungnya, memutuskan merantau ke kota San Fransisco. Di sana dia bekerja sebagai buruh tambang emas.

Setelah beberapa tahun, rupanya dia belum bisa mengubah hidupnya yang lebih baik. Lalu, ia pun memutuskan untuk pulang.

Kembali ke Tiongkok hanya membawa satu kotak kayu. Lalu, warga Tionghoa yang kembali dari San Fransisco itu, memanggil semua anak dan cucunya.

Dia menunjuk kotak kecil itu sebagai sebuah warisan. Kelak setelah meninggal, bisa dibuka, dijual dan dibagi-bagi.

Maka, berlombalah anak dan cucu merawatnya. Pendek kata, kata Aliang, orang itu meninggal dunia.

Anak cucunya tiba gilirannya membuka kotak kayu seperti wasiat dari orangtua. Sang perantau yang gagal di San Fransisco.

Tahu tidak apa isinya? Rupanya kotak yang dikira emas itu, hanya berisi batu bata. Anak dan cucunya pun jadi kecewa. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Berau Post #Daeng Sikra #opini