Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Kopi Daengku

Beraupost • Senin, 23 Juni 2025 - 11:05 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

BUKAN karena sama-sama daengnya, sehingga saya buat catatan ini. Pasti ada cerita di baliknya. Setidaknya, ide itu lahir di tengah maraknya kafe yang tersebar dimana-mana.

Soal nama itu, sudah tertarik sejak awal pekan lalu. Di tepi jalan. Di bawah pohon. Berhadapan dengan Hotel Palmy yang juga punya kedai kopi. Ini seakan sebuah perlawan. Bahwa kafe bisa menang tempat. Soal rasa, boleh dipersandingkan.

Kemarin itu, tempat yang biasanya berjualan di tepi jalan seberang jalan Hotel Palmy, tidak tampak. Apa karena hujan lebat semalam dan masih tersisa gerimis hingga pagi dan siang. Atau, hari itu jadwalnya istirahat.

Namun, nama kopi susu Daengku yang dicetak pada sebuah bingkai kecil, terlihat mangkal di depan sekolah dasar di Jalan Jend Sudirman.

Saya pun mampir, hanya untuk menikmati bagaimana racikan sebuah kedai kopi yang jualannya berkeliling.

Kenapa pakai nama Daengku? Tanya saya. Riswan, yang jualan itu tertawa. Kan saya dari Makassar pak, jawabnya singkat. Bujur jua.

Mungkin dia gunakan nama itu, selain tak perlu izin dengan pemegang merek yang sudah terdaftar, juga untuk memperkenalkan diri. Mirip-mirip Daeng Sikra. Haha.

Lalu, kenapa berjualan dengan gaya seperti ini? Riswan yang masih sangat muda usia itu, rupanya pernah menetap di Malaysia.

Mengikuti ayahnya yang bekerja di perkebunan kelapa sawit. Saya tidak mungkin punya tempat khusus. Perlu biaya yang besar, ungkapnya.

Terpikirlah dia memanfaatkan motor bebek yang lebih banyak nganggurnya. Di desainlah, bagaimana sebuah perangkat sederhana dan motor menjadi mejanya. Sisi itulah dia tempatkan bahan-bahan meracik kopi susu.

Buatkan saya kopi susu. Es-nya sedikit saja. Dia raciklah dengan menggunakan salah satu merek kopi terkenal di Malaysia.

Lalu dicampur susu kemasan dengan takaran sesuai dengan yang ia pahami. Tidak sampai 10 menit, sudah selesai. Rasanya tak jauh beda dengan racikan kopi susu yang ada di semua kafe.

Pernah orang bertanya bahan yang dipakai? Riswan tidak langsung menjawab. Dia menatap lama. Mungkin dia curiga, jangan-jangan mau mengambil resepnya.

Tenanglah, saya hanya penikmat kopi. Bukan penjual kopi, kata saya. Banyak yang bertanya pak, tapi tidak kuceritakan, jawabnya.

Apapun alasannya. Peluang usaha kreatif yang dilakukan seorang Riswan, perlu diberi jempol.

Kalau di kafe yang ada konsumennya harus datang berkunjung. Yang ditepuh Riswan justru sebaliknya. Dialah yang menemui konsumennya dengan memakai motor bebek berjualan di tepi jalan.

Dalam sehari bisa menghabiskan 300 gelas. Artinya, Riswan bisa membawa pulang tiap hari penghasilan sebesar itu.

Belum lagi bila dia berjualan hingga lewat tengah malam. Dia bisa mendapatkan penghasilan lebih besar lagi.

Dari pembicaraan singkat kami di tepi jalan tempatnya berjualan, sepertinya dia punya rencana mengoperasikan jualan seperti itu lebih banyak lagi.

Sehingga bisa lebih mendekati konsumennya yang jauh. Ada juga yang pesan lewat online, ungkapnya.

Di jalur Jalan Jenderal Sudirman saja, kita bisa menyaksikan kafe bergerak. Mungkin ada tujuh pak, kata Riswan. Dia tidak khawatir bersaing. Dia punya kunci.

Yakni resep dengan memnggunakan bahan-bahan berkualitas. Itu tadi, meracik kopi merek terkenal di Malaysia.

Usaha informal seperti menjadi tren di kalangan anak muda. Hampir semua jalur jalan. Di mana banyak warga berkumpul, di tempat itu juga mereka hadir.

Mereka berprinsip, soal rezeki masing-masing sudah ada yang atur. Termasuk tidak mau menyaingi kafe Daeng Iccang yang sudah ada sejak lama di Jalan Isa III. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#kopi #Daeng Sikra #opini #kafe