KEMARIN, saya melayat ke rumah keluarga Hendry Gunawan. Putra sulungnya, Jodi Rahmatullah meninggal dunia. Cucu pertama kesayangan almarhum Masdjuni, mantan bupati Berau.
Almarhum saat masih kecil, sering diajak Masdjuni ke Pulau Derawan setiap akhir pekan. Ayahnya, Hendry Gunawan sahabat saya. Kami sering berbincang banyak hal.
Pun ketika dia masih bujangan, kami sering berkumpul di ujung Jalan Manggis, di depan kantor BRI, sambil bernyanyi.
Saya datang sekitar jam 10.00 Wita. Banyak kerabat yang sudah berkumpul di halaman rumah duka di Jalan KH Dewantara.
Para purnawiran ASN yang bekerja disaat kepemimpinan Masdjuni. Terlihat juga Makmur HAPK. Pak Makmur pernah mendampingi Masdjuni sebagai wakil bupati.
Memasuki halaman rumah, suasana duka sudah terasa. Keluarga besar almarhum Masdjuni maupun keluarga dari Hendry Gunawan.
Peristiwa duka seperti ini juga sering mempertemukan dengan kerabat yang selama ini sangat jarang berjumpa.
Dan, cerita-cerita lama bisa kembali dikenang. Termasuk bagaimana masa kecil almarhum hingga tumbuh dewasa.
Apalagi di tengah pelayat yang datang ada Makmur, HAPK yang sekarang masih aktif sebagai anggota DPRD provinsi dari Partai Gerindra.
Saya memulai dengan cerita yang tersebar di medai sosial, di mana dia memberi kritikan pedas terhadap kinerja jajaran pejabat Pemprov.
Padahal itu rapat penting, banyak pejabat yang mangkir ,kata Makmur. Suasana yang tak jauh beda dengan kegiatan di gedung DPRD Berau.
Selain Makmur, ada Taupan Masjid, mantan Kadis PUPR. Ada Anwar, pernah menjabat asisten. Ada Fahmi Rizani, mantan Kadis Perhubungan. Ada Suparno Kasim. Ada Thamrin, yang menjadi anggota dewan setelah purna sebagai ASN. Ada Teddy Abay.
Saya duduk bersebelahan dengan Pak Kaprawi, pensiunan ASN yang juga tokoh masyarakat.
Beliau banyak tahu perjalanan dan perkembangan di daerah. Kalau kita cermati, kemajuan kota (Berau) sekarang sangat pesat, kata Kaprawi.
Banyak tokoh yang pernah berkunjung ke Berau beberapa tahun lalu, setelah kembali berkunjung dibuat terheran-heran. Mereka mengakui kemajuan Berau sungguh luar biasa, kata saya.
Sekelas Makmur yang mantan bupati saja, bila naik pesawat ke Balikpapan dan Samarinda atau ke Jakarta, banyak penumpang yang dia tidak kenali. Dulu kan uyuh besalaman sikung-sikung, kata saya.
Saya sering membaca tulisan sampean, kata Kaprawi. Maksudnya, catatan saya yang dimuat di Berau post. Beliau memang pelanggan yang tercatat sejak aktif ASN. Dia lalu membuka file dokumentasi foto di telepon genggamnya.
Saya dapat kiriman foto lama, saat peletakan batu pertama Masjid Jami. Masjid yang sekarang bernama Masjid Besar Rayatul Ikhlas. Peristiwanya bertepatan dengan lebaran Idhuladha sekitar tahun 1970, kata Kaprawi.
Foto hitam putih berusia setengah abad lebih itu, dikirim kerabatnya yang sekarang tinggal di Banjarmasin.
Dulu Daeng, kata Kaprawi, di masjid Jami itu ketika sudah ditentukan besok memasuki bulan puasa, maka ada petugas secara bergantian menabuh beduk seharian.
Karena masih sunyi, suara beduk di masjid yang berada di tepi sungai itu, terdengar jauh. Dulu kan jalan utama di Tanjung Redeb itu, terbatas, ungkapnya.
Bersama Fahmi Rizani, kami bertiga bercerita tempat-tempat yang penuh kenangan di awal-awal tahun 70-an. Saya jadi pendengar setia. Kantor kami dulu itu di kawasan kompleks pelabuhan juga, kata Fahmi.
Ada rumah tua bentuknya rumah panggung dalam kawasan pelabuhan itu, adalah rumah dinas bupati Berau dulu.
Memang tempatnya berdekatan dengan kantor bupati yang ada di Jalan dr Soetomo, yang pernah dipakai bank BPD (Bankaltimtara) sebagai kantor.
Jalan Ahmad Yani di sepanjang tepian sungai itu, awalnya tembus dengan Tepian Segah yang di Jalan Pulau Derawan. Dalam kawasan itu, ditempatkan mesin pembangkit listrik PLN. Sekitar kompleks pelabuhan juga ada perumahan kodim.
Yang sempat saya saksikan, rumah tua dan bangunan mesin listrik maupun penjara yang sekarang ditempati kawasan pergudangan.
Di tengah suasana duka, tak bisa dihindari kilas balik cerita lama. Apalagi yang berkumpul adalah mantan ASN yang usianya rata-rata di atas 60 tahun. (sam)
@daengsikra.id