TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Berau, Zulkifli Azhari, memberikan komentar prihal isu yang terjadi di beberapa daerah terkait dengan bursa kerja (job fair) yang dinilai hanya menjadi ajang formalitas.
Dirinya menyatakan bahwa pelaksanaan job fair di Berau, justru memiliki dampak nyata terhadap serapan tenaga kerja khususnya di Kabupaten Berau, terutama saat kegiatan tersebut digelar setiap triwulan ketiga.
"Kalau itu mungkin hanya terjadi di tingkat nasional atau di kota-kota besar. Di Berau, job fair justru menjadi harapan besar bagi para pencari kerja, dan kami memastikan manfaatnya terasa langsung," ujarnya kepada awak media saat dimintai keterangan kemarin.
Ia menjelaskan, job fair bukan sekadar ajang seremonial di Berau. Pemerintah daerah secara aktif mengupayakan agar kegiatan ini benar-benar menjadi jembatan antara pencari kerja dan perusahaan yang sedang membutuhkan tenaga kerja.
Tidak hanya itu, job fair juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti bilik konsultasi kerja, penyuluhan karier, hingga program sertifikasi dasar bagi pencari kerja non-skill.
Tujuannya jelas, memberikan kesempatan yang setara bagi siapa pun, baik mereka yang baru pertama kali mencari kerja maupun yang sudah berpengalaman namun belum terserap dunia kerja.
Pada pelaksanaan job fair tahun 2024, antusiasme masyarakat tampak luar biasa. Sebanyak 1.267 pencari kerja memadati lokasi kegiatan, berkompetisi untuk mengisi 500 posisi lowongan dari berbagai perusahaan yang turut serta.
Setidaknya ada 15 perusahaan yang berpartisipasi, mulai dari sektor pertambangan, perkebunan, hingga pariwisata. Bahkan, tersedia pula peluang kerja di luar negeri bagi pencari kerja yang memenuhi kualifikasi tertentu.
“Setiap perusahaan yang kami libatkan dalam job fair ini memang sedang membuka lowongan pekerjaan. Kami tidak ingin job fair ini hanya menjadi simbolik, tapi harus ada hasil konkretnya,” tegas Zulkifli.
Lebih membanggakan lagi, berdasarkan data Disnakertrans Berau, sekitar 70 persen dari pencari kerja yang terlibat dalam job fair pada tahun 2024 tersebut berhasil mendapatkan pekerjaan.
Hasil ini berdampak langsung pada penurunan angka pengangguran terbuka di Kabupaten Berau menjadi 5,15 persen pada tahun itu.
Namun demikian, Zulkifli tidak menutup mata bahwa masih ada tantangan besar dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di daerahnya. Salah satu persoalan utama adalah rendahnya jumlah pencari kerja yang memiliki sertifikasi keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja saat ini.
“Ini yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Banyak pencari kerja sebenarnya potensial, tapi belum tersertifikasi. Itu sebabnya kami serius dalam mendorong pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai pusat pelatihan dan peningkatan kompetensi,” ungkapnya.
Pembangunan BLK ini nantinya diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menciptakan tenaga kerja yang siap pakai, serta mampu bersaing di tingkat regional, nasional, bahkan internasional.
Zulkifli meyakini, selama pemerintah daerah bersungguh-sungguh dalam menyelenggarakan job fair—yakni dengan menggandeng perusahaan yang benar-benar butuh tenaga kerja, serta menyiapkan fasilitas pendukung yang relevan—maka kegiatan ini tetap akan menjadi salah satu strategi efektif dalam menekan angka pengangguran.
“Job fair bukan hanya tentang tumpukan berkas, tapi tentang harapan. Harapan orang-orang yang ingin mengubah nasib, membangun masa depan, dan memperbaiki taraf hidup. Tugas kami adalah memastikan harapan itu mendapat jalan,” pungkasnya. (aky/hmd)
Editor : Nurismi