All Sport Ekonomi Gaya Hidup Kaltara Kombis Makan-Makan Parlementaria Pemerintahan Polhukrim Sanggam Utama

Pancing Trotoar

Beraupost • 2025-06-02 16:39:42
Daeng Sikra
Daeng Sikra

ADA anak mengerang kesakitan. Berusaha menahan sambil jalan terpincang-pincang. Saya tanya kenapa? Dia hanya bisa menunjuk-nujuk ke arah trotoar.

Kenapa anak itu menunjuk ke trotoar. Apa persoalannya? Malam, walau agak terang, kaki si anak yang berjalan kaki di trotoar tahantup besi lobang kontrol. Kenapa bisa? Setelah saya selidiki, semua lubang kontrol tidak tertutup rapat.

Belakangan saya baru paham. Ada yang menyalurkan hobinya memancing di trotoar. Ketika belum ditutup rapat, mereka dengan leluasa bisa memancing. Setelah trotoar tertutup, tak ada jalan lain lubang kontrol itulah yang dibuka.

Saya tidak tahu, bagaimana caranya mereka membuka penutup lubang yang terbuat dari besi itu. Berat lho. Pernah saya dapati mereka membuka besi penutup itu, kemudian diganjal dengan balok. Dari situlah mereka memancing. Mancingnya hingga lewat tengah malam.

Kadang ada juga pemandangan lucu. Karena masih kecil, tenaganya tidak sanggup membuka penutup besi itu. Mereka memasukkan pancing di antara lubang besi yang ada. Sekali waktu dia dapat ikan gabus ukuran besar.

Tidak bisa keluar dari celah penutup lubang itu. Mereka berteriak kegirangan, tapi tak bisa membawa pulang ikan gabusnya.

Teman saya yang hobi mancing di trotoar menyebutkan kegiatan itu mengasyikkan dibanding mancing di sungai. Jenis ikan yang jadi target pancingan itu jenis gabus dan ikan lele. Hampir semua trotoar saya jelajahi untuk memancing malam, kata teman saya itu.

Kualitas ikan yang didapatkan di trotoar dengan di danau itu beda. Sebab, kata teman saya, ikan di trotoar kurang gerakannya. Dagingnya lembek Daeng, kata dia. Waktu trotoar belum ditutup, masih ada gerakan ikan. Gerakan itu membuat daging ikan berotot.

Dia tidak menjelaskan. Apakah disaat membuka penutup lubang trotoar itu, mengembalikan lagi pada posisi semula. Atau ditutup juga tapi sudah tidak sempurna.
Ada juga kasus lain.

Mereka bukan pemancing. Tapi, gayanya seperti sedang memancing di malam hari. Keesokan harinya barulah ketahuan. Mereka bukan memancing, tapi membawa pergi besi penutup lobang trotoar itu.

Yang jadi persoalan itu, ketika menutup lubang tidak tertutup dengan sempurna. Tutup besi itu tidak rata. Ini yang menyebabkan anak-anak yang jalan di trotoar pada malam hari bisa tehantup. Saya khawatir, kejadian seperti itu bisa menimpa banyak orang.

Saya cerita kejadian itu di Warung Pojok kemarin, pagi. Mereka ikut cerita kondisi tutup lubang trotoar di sekitar rumahnya. Dekat rumah kayak itu jua Daeng, kata teman yang tinggal di SM Aminuddin.

Sebelum saya datang bercerita soal pemancing trotoar. Pengunjung Warung Pojok, membahas soal rokok yang murah harganya. Semenjak rokok murah itu, ada merek rokok lainnya yang anjlok penjualannya, kata teman yang dikenal sebagai agen sembako di Jalan Niaga.

Memang berbagai mereka yang terkenal, harga rokok sekarang lumayan tinggi. Tidak terasa Daeng, harganya naik sedikit-sedikit, kata Cecep. 

Rasanya, harga rokok yang ada sekarang itu, tidak ada yang di bawah harga Rp 40 ribu. Begitu masuk merek rokok yang harganya hanya belasan ribu, banyak yang beralih ke rokok murah itu.

Kita perlu beirit jua, kata Cecep. Kada boleh lagi rokok batangan di meja, ujarnya sambil ketawa. Soal harga rokok murah yang banderolnya 12 batang, kenyataannya isinya 20 batang menarik dibahas.

Tapi kata saya, lebih menarik soal pemancing trotoar. Sebab, itu bisa membahayakan pejalan kaki.

Kalau mereka menutup kembali dengan sempurna, tak masalah. Karena menutup semaunya, maka pengguna jalan trotoar bisa semakin banyak yang jadi korban. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Berau Post #opini