Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Kakao Berau Tersapu Banjir: Ratusan Hektare Terendam, Petani Merugi

Beraupost • Jumat, 30 Mei 2025 | 07:45 WIB

 

ILUSTRASI: Banyaknya lahan perkebunan kakao yang terendam banjir membuat Disbun mengimbau para petani agar tidak menanam di dekat bantaran sungai. (DISBUN BERAU UNTUK BERAU POST)
ILUSTRASI: Banyaknya lahan perkebunan kakao yang terendam banjir membuat Disbun mengimbau para petani agar tidak menanam di dekat bantaran sungai. (DISBUN BERAU UNTUK BERAU POST)

TANJUNG REDEB – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Berau berdampak serius terhadap sektor perkebunan, khususnya tanaman kakao.

Sekira 500 hektare lahan yang berada di bantaran sungai dilaporkan terdampak, menyebabkan tanaman muda mati dan tanaman produktif mengalami stres, yang berpotensi menurunkan produksi kakao secara signifikan pada tahun ini.

Kepala Bidang Perlindungan Dinas Perkebunan (Disbun) Berau, Heri Suparno, menyebut bahwa luasan lahan terdampak banjir mencapai sekitar 500 hektare, setara dengan luas lahan eksisting kakao yang saat ini tercatat di wilayah tersebut.

Sebenarnya masih banyak kebun kakao lain yang belum terdata Disbun Berau, seperti sejumlah kampung di Kecamatan Segah dan Kelay. Data yang ada saat ini diprediksi baru 80 persen dari total perkebunan kakao yang ada di Berau.

"Sedangkan yang terendam ini hampir semua berada di bantaran sungai. Ini tentu berisiko tinggi terhadap serangan hama dan penyakit," ujarnya.

Dari kampung-kampung yang terdampak banjir, baru Kampung Lesan Dayak yang mengajukan proposal bantuan pasca banjir secara resmi.

"Harapan kami, kampung-kampung lain segera mengajukan proposal agar bisa kami verifikasi dan bantu sesuai kebutuhan," paparnya.

Menurut Heri, banyak tanaman kakao yang masih muda atau baru ditanam mengalami kerusakan parah bahkan mati setelah terendam.

Sedangkan untuk tanaman yang sudah berbuah, meskipun tidak mati, kondisinya menjadi stres dan menurunkan kualitas serta kuantitas produksi.

Dampak lanjutan dari banjir ini dipastikan akan berpengaruh pada data publikasi produksi kakao tahun berikutnya.

Ia menekankan pentingnya langkah mitigasi jangka panjang, salah satunya dengan mendorong petani untuk tidak lagi menanam kakao di lokasi-lokasi yang rawan banjir.

Selain itu, pemanfaatan informasi cuaca dari BMKG dinilai sangat penting agar petani bisa menghindari masa tanam saat risiko tinggi terjadi.

"Untuk jangka panjangnya kami mengharapkan petani untuk menanam tidak di dekat bantaran sungai," ucapnya.

Pihaknya juga telah memberikan pelatihan kepada kelompok tani melalui sekolah lapang, termasuk cara menangani tanaman yang terdampak banjir.

Materi yang diajarkan mencakup teknik pemangkasan dan pembuangan buah busuk untuk mencegah penyebaran penyakit, serta penggunaan pestisida alami sebagai pengganti bahan kimia.

"Utamakan pencegahan daripada pakai bahan-bahan kimia tersebut. Itu lebih ramah lingkungan dan menjaga kualitas produk kakao," tambahnya.

Selain masalah banjir, Heri juga mengungkapkan bahwa produktivitas kakao Berau masih rendah.

Idealnya, produksi kakao bisa mencapai setengah ton per hektare, namun angka itu masih belum tercapai. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan akses terhadap pupuk bersubsidi, yang masih menjadi kendala bagi petani.

"Kami akan memberikan bantuan kepada kampung yang sudah komitmen untuk mengembangkan kakao. Tapi tetap harus ada proposal dan sesuai dengan anggaran yang tersedia," terangnya.

Sebelumnya,Camat Sambaliung, Ahmad Juhri, mengonfirmasi bahwa banjir yang melanda wilayahnya beberapa waktu lalu telah menyebabkan kerusakan cukup parah pada lahan kakao milik masyarakat.

“Banjirnya berlangsung cukup lama, jadi dampaknya besar,” ujarnya, Jumat (23/5).

Meski demikian, tidak dapat menyebutkan daya pasti terkait total luasan lahan yang terdampak masih belum seluruhnya terhimpun. “Pendataan masih berjalan, belum semua terdata,” katanya.

Ahmad menyambut baik rencana DisbunBerau yang akan menyalurkan bantuan dan stimulus kepada para petani kakao yang terdampak bencana tersebut.

Ia berharap langkah itu dapat memberikan semangat baru bagi petani dan menghidupkan kembali sektor perkebunan kakao yang sempat lumpuh.

“Semoga bisa mendongkrak semangat petani dan bantu kebun kakao bangkit lagi,” pungkasnya. (aja/hmd)

Editor : Nurismi
#Merugi #lahan kakao #Kabupaten Berau #terendam banjir #petani