SEPEKAN ini, Agus Uriansyah Anggota Komisi II DPRD, dua kali mengajak saya menikmati nasi kuning di Jalan H Isa III. Waktunya beda. Empat hari lalu ngajaknya pagi sekali, dan kemarin ngajaknya sudah di atas jam 10.00 Wita.
Sempat bingung. Rupanya nasi kuning Ibu Rita sudah pindah rumah lagi. Tempat jualannya di awal sudah berubah wajah. Sudah berlantai dua.
Sudah berkonstruksi beton. Sudah banyak mejanya. Artinya, dalam lima tahun terakhir, perjalanan bisnisnya cukup lancar.
Warung nasi kuning di Tanjung Redeb cukup banyak. Ada yang jualannya kecil-kecilan di depan rumah. Ada yang jualan menggunakan mobil dan parkir di tepian Jalan Pulau Derawan.
Tinggal menyesuaikan selera saja. Nasi kuning selera banjar atau nasi kuning ala Jawa timur.
Sepertinya, nasi kuning Ibu Rita punya banyak penggemar. Saat kami dan Agus Uriansyah datang lebih pagi, banyak ASN yang sudah berpakaian kantor lengkap, mampir dulu buat sarapan.
Mereka pasti sudah berencana tidak usah sarapan di rumah. Cukup nasi kuning di Jalan H Isa III saja.
Iwaknya apa pak? Itu pertanyaan standar penjualnya. Ada tiga perempuan yang melayani.
Siapakah di antara yang tiga itu yang namanya Ibu Rita, yang diabadikan sebagai nama warungnya. Pasti dia pemiliknya. Iwak Haruan (gabus) dengan Hintalu (telur) saja, kata saya.
Saya jadi ingat ketika pulang kampung dua pekan lalu. Ada warung nasi kuning yang terkenal di Makassar. Lokasinya di depan stasiun RRI Makassar. Kalau datang di atas jam 10, sudah tidak kebagian lagi.
Tak jauh beda dengan nasi kuning yang jualan depan Hotel Senyiur di Samarinda. Sama ramainya. Sama larisnya.
Sekarang, kata Agus Uriansyah, warga cenderung memilih untuk sarapan tidak di rumah. Bahkan, untuk santap siang dan malam bersama keluarga juga lebih banyak makan di luar rumah, kata Agus.
Kalau juga makan di rumah, banyak rumah tangga yang pesan makanan lewat online.
Kira-kira ini gejala apa? Tanya saya.
Menurut Agus, ASN banyak yang punya tempat tinggal sendiri. Tidak lagi menumpang di rumah mertua. Mereka keluarga dengan satu anak, atau bahkan ada yang hanya berdua.
Maka pilihan makan di luar rumah adalah pilihan praktis, ungkapnya.
Makanya, kita bisa menyaksikan banyak warga yang melihat peluang itu dengan membuka warung dan menawarkan berbagai jenis masakan dan sayuran yang siap santap.
Kalau harus makan di rumah, lebih praktis memilih masakan siap santap saja.
Ini yang jadi salah satu tolok ukur perputaran uang di Berau.
Kalau 30 persen saja ASN ditambah non ASN memilih tidak masak di rumah dan cukup berbelanja saja yang sudah siap, maka usaha jualan masakan dan sayur mayur yang dikelola UMKM kian maju pesat.
Hampir setiap hari, kata Agus mencermati pola hidup sebagian besar warga dalam di mana mereka harus santap siang dan malam. Termasuk sarapan. Siang hari, hampir semua rumah makan dipenuhi pelanggannya.
Pojok rasa, di Jalan Niaga misalnya, tak pernah sepi dari pembelinya. Dan, kebanyakan ASN.
Ia menyarankan, bahwa ada satu peluang yang masih belum banyak usaha kuliner yang diusahakan oleh warga. Warga pasti mencari, di mana ada warung yang beraroma lokal. Bukan aroma luar daerah. Bukan rumah makan Lamongan.
Bukan beraroma Makassar dengan Coto Makasarnya. Saya sendiri menunggu, kalau ada warung dengan aroma khas daerah Berau. Banyak jenis masakan yang enak-enak dan segar, kata Agus.
Dia mencontohkan, olahan Udang Basinggang (udang rebus) kalau ada yang jualan menu daerah, akan banyak penggemarnya.
Di Makassar, kata saya, ada yang warung namanya Aroma Palopo. Menu utamanya kapurung yang disukai banyak orang. Dan menu khas daerah lainnya sebutlah ikan rebus Parede (masak kuning) khas Palopo juga.
Waktu akan terus berjalan. Bergantung juga pada bagaimana instansi membina, terutama jaminan higienisnya semua masakan yang ditawarkan.
Seperti nasi kuning Ibu Rita yang peminatnya lumayan banyak. Memang rasanya, sesuai selera. Selera semua warga. (sam)
@daengsikra.id