TANJUNG REDEB – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau terus mendorong peningkatan kualitas jagung lokal. Supaya dapat memenuhi syarat penyerapan oleh Perum Bulog.
Kepala DTPHP Berau, Junaidi menjelaskan, terdapat beberapa persyaratan teknis yang ditetapkan Bulog dalam proses penyerapan jagung pipil kering.
Di antaranya, kadar air maksimal 15 persen, biji rusak maksimal 5 persen, biji berjamur maksimal 5 persen, biji pecah maksimal 4 persen, dan kandungan benda asing tidak lebih dari 2 persen.
“Yang menjadi tantangan adalah proses pengeringan. Pengeringan perlu dilakukan dengan dryer agar hasil lebih merata," ungkapnya, Selasa (22/4).
Namun saat ini, baru petani di Kecamatan Talisayan yang memiliki fasilitas dryer, yang berasal dari Dana Desa. Meskipun begitu, petani tetap bisa melakukan pengeringan secara manual, asalkan kadar air tetap memenuhi syarat Bulog.
Di luar Bulog, jagung pipil kering juga tetap diminati pengepul dan peternak ayam petelur, yang membeli tanpa persyaratan teknis yang ketat. Di wilayah Talisayan, harga jualnya berkisar Rp 4.900 hingga Rp 5.000 per kilogram (Kg).
“Kalau Bulog kemarin sempat menyebutkan harga Rp 5.500, itu harga acuan pemerintah. Dan kalau harganya segitu, tentu sudah cukup menguntungkan bagi petani,” tuturnya.
Pihaknya berkomitmen untuk terus memberikan dukungan kepada petani. Salah satunya dengan mengupayakan bantuan benih jagung, berdasarkan adanya proposal yang masuk.
"Kami akan tetap programkan bantuan benih. Sedangkan bantuan dryer bisa diprogramkan langsung oleh kampung melalui Alokasi Dana Kampung (ADK),” jelasnya.
Junaidi mencontohkan, Kampung Sumber Mulya yang telah membeli dryer senilai kurang lebih Rp 200 juta. Langkah ini menjadi contoh konkret bahwa kampung bisa mandiri dalam mendukung peningkatan produksi pertanian.
Saat ini, produksi jagung di Berau maksimal bisa mencapai 12 ton per hektare, namun rata-rata masih berkisar 6 hingga 7 ton. Hal ini dipengaruhi oleh faktor pengolahan lahan dan penggunaan pupuk yang belum optimal.
"Melalui peningkatan kualitas dan dukungan program, petani jagung Berau dapat lebih sejahtera dan memiliki daya saing tinggi di pasar nasional," harapnya.
Sebelumnya, selain fokus pada penyerapan gabah, Perum Bulog Berau juga menargetkan tahun ini akan menyerap jagung pipil kering dari para petani di Kabupaten Berau.
Langkah itu menyasar sejumlah daerah sentra produksi jagung, salah satunya di Kecamatan Talisayan yang selama ini dikenal sebagai wilayah penghasil jagung terbesar di Bumi Batiwakkal.
Kepala Perum Bulog Berau, Lucky Ali Akbar mengatakan, penyerapan dua komoditas tersebut merupakan bagian dari program nasional yang ditetapkan pemerintah.
Untuk mendukung stabilisasi harga dan meningkatkan kesejahteraan petani, pemerintah telah menetapkan harga acuan pembelian gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram dan jagung pipil kering Rp 5.500 per kilogram.
“Ini harga patokan dari pemerintah dan berlaku secara nasional. Bukan hanya untuk Bulog, tapi juga pengusaha swasta diharapkan mengikuti harga ini agar petani tidak dirugikan,” ujarnya.
Apalagi di daerah seperti Talisayan, harga jagung selama ini cenderung di bawah Rp 5.000 per kilogram. Adanya kebijakan ini, bisa memotivasi petani untuk meningkatkan produksi jagung, karena harga yang ditetapkan cukup kompetitif dibanding harga pasaran lokal sebelumnya.
“Biasanya di Talisayan itu cuma sekitar Rp 4.700 sampai Rp 4.800 per kg. Jadi harga Rp 5.500 itu sebenarnya sudah cukup menarik dan jadi pemacu semangat petani untuk menanam,” jelasnya.(*/aja/arp)
Editor : Nurismi