Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Lestarikan Identitas Lokal: Bahasa Banua Bakal Masuk Kurikulum di Berau

Beraupost • Sabtu, 19 April 2025 | 11:10 WIB
ILUSTRASI: Mulok Bahasa Banua masih jadi wacana untuk diterapkan di sekolah yang ada di Kabupaten Berau, padahal rencananya sudah ada sejak beberapa tahun lalu. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: Mulok Bahasa Banua masih jadi wacana untuk diterapkan di sekolah yang ada di Kabupaten Berau, padahal rencananya sudah ada sejak beberapa tahun lalu. (IZZA/BP)

 

TANJUNG REDEB – Upaya pelestarian bahasa daerah di Kabupaten Berau terus didorong Dinas Pendidikan (Disdik).

Salah satu langkah konkritnya adalah memasukkan Bahasa Banua sebagai muatan lokal (mulok) wajib di seluruh satuan pendidikan. 

Namun, rencana tersebut masih menunggu rampungnya peraturan bupati (Perbup) yang saat ini masih dalam proses di bagian hukum Setkab Berau.

Sekretaris Disdik Berau, Ali Syahbana, mengatakan bahwa pihaknya sebenarnya sudah menyusun draf Perbup sejak 2024 lalu. Namun karena banyaknya dokumen regulasi lain yang juga harus diselesaikan oleh bagian hukum, proses finalisasi Perbup tentang bahasa daerah ini masih tertunda.

“Bagian hukum harus menyelesaikan banyak Perbup lainnya, jadi prosesnya agak terhambat. Kalau draf yang kami perbaiki ini sudah diserahkan dan diproses, harapannya bisa segera selesai,” ungkapnya.

Adapun pengadaan buku panduan bahasa Banua juga masuk rencana untuk dianggarkan.

Namun karena Perbup belum terbit, penganggaran itu akhirnya ditunda. Jika Perbup bisa ditetapkan tahun ini, maka pengadaan buku bisa dianggarkan dalam APBD 2026.

Sementara untuk sumber daya manusia (SDM), Ali mengakui belum ada guru khusus yang ditugaskan untuk mengajar bahasa Banua.

Namun, pihaknya optimistis bisa memberdayakan SDM yang ada yang memiliki kemampuan bahasa daerah.

“Namanya bahasa daerah, pasti ada ahlinya di situ. Orang Banua pasti bisa. Mereka itulah yang akan kami berdayakan sementara,” jelasnya.

Ia menilai, pelajaran bahasa Banua sangat penting, mengingat wilayah Berau dihuni oleh masyarakat dengan latar budaya lokal yang kuat.

Menurutnya, meskipun kurikulum nasional mengalami perubahan—mulai dari Kurikulum 2013 hingga Kurikulum Merdeka—muatan lokal tetap punya ruang untuk diimplementasikan di sekolah.

“Muatan lokal itu bisa disesuaikan oleh masing-masing sekolah. Tapi untuk Bahasa Banua ini, kami akan wajibkan semua sekolah memasukkannya sebagai pelajaran,” tegasnya.

Ali berharap, siswa yang tinggal di Berau setidaknya bisa memahami bahasa Banua, meskipun tidak fasih menuturkannya.

“Paling tidak kalau orang bicara pakai bahasa Banua, kita bisa mengerti. Karena kita sudah tinggal di tanah Banua ini, maka harus menghargai bahasanya juga,” tutupnya. (*/aja/hmd)

 

Editor : Nurismi
#Disdik Berau #Bahasa Banua #kurikulum #muatan lokal