Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Aroma Palopo

Beraupost • Sabtu, 19 April 2025 - 07:05 WIB

Daeng Sikra
Daeng Sikra


MAKANAN ataupun bisnis kuliner, menjadi bagian dari proses industri kreatif. Sektor ini yang membuat Makassar lebih dikenal.

Imran, kata pemilik hotel yang cukup tua di Makassar, bisa menyaksikan bagaimana rumah makan dan industri rumahan tersebar di banyak tempat.

Dengan jumlah penduduk 1,7 juta jiwa, ada potensi pasar yang besar dan menguntungkan. Banyak rumah makan yang menempati bangunan sederhana, tapi diserbu pelanggan Ada yang hanya gubuk di ujung lorong, pelanggannya antre,kata Imran.

Mungkin alasan itu pula, mengapa mantan wali kota Makassar membuat tagline bahwa Makassar sebagai kota makanan enak.

Benar adanya. Hampir sepekan di kota Daeng, saya berwisata kuliner di banyak tempat. Semua suasananya sama. Harus antre tempat duduk

Sebelum melengkapi catatan ini, saya mampir di Warung Aroma Palopo di Jalan Mappanyukki. Menempati bangunan ruko yang tidak jauh dari Kompleks Stadion Mattoanging yang bangunannya sudah dirobohkan.

Aroma Palopo memang menyiapkan masakan tradisional yang bahannya terbuat dari sagu. Tak jauh beda dengan kapurung yang dijual di Rumah Makan Harmoni di Jalan Teuku Umar di Berau.
Banyak pelanggan ASN yang berbaju dinas Korpri, menikmati sarapan di jam 10 pagi.

Saya tidak memesan kapurung. Oleh pelayan, saya ditawarkan ikan bandeng pallumara atau ikan bandeng masak parede. Dua menu yang beda rasa beda tampilan.

Ada juga pepes mairo (teri) pak, kata sang pelayan. Saya pilih pepes ikan teri dan ikan mairo yang digoreng tepung. Mirip empal jagung.

Dua tempat makan menu tradisional sama-sama beraroma Palopo. Satunya lagi di Jalan Kasuari. Beda koki tentu beda rasa, tinggal pelanggan saja yang menentukan pilihan.

Kalau hanya satu Minggu tidak cukup waktu berkeliling makan, kata Imran pemilik hotel yang berlokasi di ujung Jalan Somba Opu.

Menu Coto dan Pallubasa sengaja saya lewatkan. Mungkin menjelang kembali ke Berau saja, barulah ke warung pallubasa yang di Jalan Serigala dan Coto Nusantara. Nasi kuning di depan RRI sudah sarapan di sana.

Mungkin Imran, sedikit tak nyaman hati. Hotel miliknya tidak menyiapkan sarapan bagi tamunya. Hanya saja, kafe yang berdampingan hotel sudah buka jam 07.00 Wita. Tamu hotel sarapan di kafe, saya menikmati nasi kuning depan RRI.

Yang sempat membuat bingung, mencari tempat yang jual Bassang. Ini juga masakan tradisional yang bahannya dari jagung. Teman saya menyebut bubur jagung.

Biasanya ada di sini pak, kata sopir bentor sambil menunjuk pintu masuk tempat pelelangan ikan di Jalan Rajawali.
Ada pak di sana, kata tukang becak. Saya menurut saja. Memang betul, pagi sudah jualan di trotoar sekitar penjara tentara di Jalan Rajawali.

Sudah disiapkan dalam kemasan gelas transparan harganya Rp 5 ribu. Saya beli dua. Sekalian tukang becaknya mengantar ke tempat menginap.

Saya nikmati bubur jagung, disalah satu meja di kafe samping hotel. Saya jadi tak nyaman hati. Muncul Imran melihat saya sarapan bubur jagung
Jangan-jangan dia juga tak nyaman hati.

Soalnya di kafe ada tulisan dilarang membawa makanan dan minuman dari luar. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Berau Post #opini #pembaca