IKUT acara KKSS Ki Pak? Kata sopir yang membawa saya dari Bandara Hasanuddin Makassar. Tidak, saya tidak jadi peserta, jawab saya dengan gaya bahasa yang sama.
Memang benar. Ada musyawarah besar sekaligus pertemuan para saudagar Bugis Makkasar. Acara itu berhasil memilih Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjadi Ketua KKSS Pusat.
Yang menarik, bahwa sopir bandara tahu even besar yang berlangsung di kotanya. Sebagai satu agenda yang mendatangkan ratusan pesertanya dari seluruh Indonesia.
Acara pulang kampung sebelumnya, sopir bandara banyak berbicara soal obyek wisata yang ada di Makassar. Kalau soal warung Coto dan ikan bakar, mereka pasti paham, paham walau tanpa data tertulis di kantongnya.
Selama sepekan, saya bermalam disalah satu hotel yang lokasinya berdekatan dengan tempat mubes KKSS. Saya pilih itu, saya tahu menu sarapannya lengkap.
Di ruang makan itulah, saya jumpa bupati Penajam Paser Utara Mudiyat Noor. Tokoh muda asal Berau. Kelahiran tahun 1979 di kampung Merancang. Saya ikut acaranya KKSS kanda, kata Mudiyat.
Saya ikuti apa pilihan menu sarapannya. Dia tertawa saat saya tunjukan dua menu yang baru bagi saya. Nasi goreng coto dan coto ikan.
Mungkin ini untuk menghilangkan kesan, bahwa xoto yang komposisi daging dan jeroan dikaitkan dengan kolesterol dan asam urat. Makanya, lahirlah modifikasi baru. Coto ikan dan nasi goreng coto.
Saya coba rasakan dua menu itu. Menikmati sambil membayangkan coto yang jualan di dermaga teratai di Berau. Kesimpulan saya, rasa utuhnya tidak dapat.
Tak ketinggalan, setelah dua menu itu saya pilih bubur jagung alias Bassang. Di Berau juga ada yang jual, tak jauh dari Warung Pojok di Jalan Niaga.
Soal coto apapun isinya, sangat bergantung selera saja. Sebagai kita dengan sebutan kota makanan enak, wajib dicicipi. Kuliner menjadi satu saya tarik. Pemikat bagi wisatawan.
Pun, pemikat bagi sumber pendapatan daerah. Tak salah bila ada pembinaan khusus bagi pengelola kuliner, sehingga Berau juga banyak makanan enak-enak.
Coto ikan dan nasi goreng coto itu hasil kreasi bagi penikmatnya. Sehingga setiap menikmati yang beraroma coto, tidak lagi berfikir soal kolesterol dan asam urat.
Berau juga banyak masakan tradisional. Masakan yang belum banyak dikenal. Mungkinkah setiap rumah makan diwajibkan menawarkan menu lokal. Tinggal bagi resepnya saja.
Sepekan, akan banyak menu lain yang bisa saya kelakahi. Pallubasa, ayam bakar tolak pinggang dan mi Titi. Atau dari warung Coto ke warung coto lainnya. (sam)
@daengsikra.id