Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Sanggar Belanda

Beraupost • Selasa, 11 Maret 2025 - 10:50 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

SAYA ke pasar takjil lagi kemarin. Yang kelima kalinya. Selepas salat Ashar. Jumpa dengan Pak Mustakim, Kepala Dinas Lingkungan Hidup. Barsama anak buahnya baru keluar dari Masjid Agung Baitul Hikmah.

Bersamaan jam pulang bekerja. Seperti biasanya, banyak ASN yang melanjutkan berburu takjil sebelum kembali ke rumah.

Baguslah, dengan berbelanja, ASN membantu para penjual takjil yang tercatat juga sebagai kelompok UMKM.

Bila perlu, ada imbauan resmi yang disampaikan pimpinan dinas atau barangkali penegasan bupati, agar ASN selama bulan puasa memanfaatkan para pedagang takjil. Dalam memenuhi kebutuhan buka puasa. Itu akan sangat membantu.

Lagi-lagi, bukan hanya perut yang terasa lapar. Masuk dalam kawasan pasar takjil di halaman depan Masjid Agung itu, banyak hal yang tidak terduga bisa dialami. Dan mata tiba-tiba ikut lapar juga.

ASN yang masih berbaju dinas itu pun bukan hanya membawa satu tas kresek alias tas plastik. Rata-rata membawa dua. Ada yang membawa masakan padang, ada yang berbelanja sambal goreng dengan perpaduan irisan kentang dan daging siput alias tudai.

Ada yang dengan sabar menunggu, sementara penjualnya mengupas kelapa dengan hati-hati. Menunggu giliran air dan daging kelapa muda. Saya pun bisa membayangkan, ketika tiba saatnya buka puasa, diawali dengan kelapa muda dingin bersirop.

Saya jumpa dengan karyawan perusahaan tambang batu bara. Kostumnya menyala warna merah. Masih muda usia. Jauh-jauh dari lokasi tambangnya di arah Jalan Labanan, khusus mencari takjil Ramadan.

Kami saling bertegur saja. Maklum, karyawan muda itu sering jumpa di Warung Hokky.

Mau beli apa Daeng? Terdengar suara nyaring Bakri dari balik gerainya. Dia selama puasa ini jadi juragan wadai. Seingat saya, dalam 10 tahun terakhir, dia selalu aktif jualan wadai. Lokasinya pun tidak pernah begeser. Berada di pintu masuk.

Nyari sanggar Belanda bosku, kata saya. Saya sambil meraba-raba. Asal usul makanan khas sanggar Belanda ini. Apakah dari Sulawesi Selatan, seperti nama kue janda itu. Atau kue sanggar Belanda ini yang asalnya dari Betawi.

Mungkin kue ini dipersembahkan oleh Belanda saat menerima tamu.
Saya beli dua biji kue sanggar Belanda. Ini kue Bugis Daeng, kata pelayannya, menunjuk kue yang bersebelahan dengan sanggar Belanda. Saya hanya bisa ketawa.

Saya tidak tahu nama kuenya. Tapi saya tahu proses pengerjaannya. Kue ini super manis. Yang ada tanda-tanda sakit gigi, bisa gawat. Apalagi yang punya catatan sakit gula. Lebih parah.

Juga dua kemasan bingka kentang yang ukurannya diperkecil. Kata teman, itu kue bingka bonsai. Biasanya, bingka kentang itu ukuran standarnya sebesar kepalan tangan.

Di gerai Pak Bakri, ada bingka kentang yang sengaja dibuat ukurannya kecil. Harganya Rp 15 ribu. Saya beli dua bungkus.

Dari tempat Bakri yang berada di dekat pintu utama itu, berencana langsung pulang. Saya kembali lagi menelusuri lorong di antara penjual takjil.

Mencari penjual takjil yang sepi pengunjung. Yang penjualnya lebih banyak termenung.

Beli apa pak? Kata penjualnya yang medok jawanya. Saya beli Urap, kata saya. Urap ini salah satu hidangan tradisional. Terdiri dari sayuran yang dikukus, diberi kelapa parut.

Ada yang juga asesori ikan asin teri dengan bumbu pedas. Saya beli satu porsi bersama empal jagung dan perkedel kentang. Penjualnya semangat. Tidak termenung lagi.

Saya harus segera pulang. Hanya membawa uang Rp 150 ribu. Kalau keliling lagi dan mata umpat lapar juga, bisa belanja lagi. Segera ke area parkir. Melewati lagi gerai Pak Bakri. Tempat saya belanja dua biji kue sanggar Belanda. (sam)
@daengsikra.id

 

Editor : Nurismi
#Berau Post #opini pembaca